CHAPTER I - Richard

Jari-jarinya yang berlumuran darah menggenggam erat gagang pisaunya yang sudah tumpul. Bukan karena dia tidak mengasah pisaunya, namun lawan yang ia hadapi mememiliki tulang yang sangat keras.

Ia berlari diantara gang-gang gedung yang sudah ditinggalkan di Outer Vegas, bagian dari kota Vegas yang tidak tertutupi oleh perlindungan 'Dome', sebuah kubah yang dibuat untuk menahan radiasi.

Makhluk yang mengejarnya melompat diantara gedung-gedung, memburu tanpa ampun. Tentakel-tentakel yang tumbuh dipunggungnya membantunya melompati gedung-gedung, menancapkan tulang-tulang tajam itu ke dinding beton.

Pria itu terus berlari, memegangi lengannya yang terluka. Helm HEX miliknya retak karena pukulan makhluk yang mengejarnya.

"Kraken." Gumamnya di sela-sela nafasnya yang memburu.

Ia telah kehilangan C2AR miliknya karena serangan mendadak makhluk yang dipanggil kraken tersebut, dan Colt M1911 longslide yang ia simpan dalam holster pahanya telah kosong dari peluru.

Rasa nyeri yang ada di lengannya hampir saja membuatnya kehilangan kesadaran, ia tidak dapat fokus terhadap arah tujuannya.

Berkali-kali ia menabrak sesuatu yang ada dijalan itu, tong sampah, bangkai mobil bahkan tembok. Pengejarnya nampaknya ingin bermain-main terlebih dahulu dengan mangsanya.

Kraken itu mengeluarkan suara teriakan yang mengerikan. Ia melompat tinggi diudara, dan mendarat diatap sebuah gedung, menghilang dari pandangan.

Pria itu merasa sedikit lega, namun ia sama sekali tidak memperlambat larinya.

"Bice, dimana kau?" Ujarnya cemas.

Ia terjatuh, terguling di atas aspal, kakinya sudah tidak mampu untuk digerakkan. Pisaunya terlempar beberapa meter darinya.

Ia terbaring disana untuk beberapas saat, memandangi langit malam, berusaha untuk mengumpulkan tenaga untuk bangkit. Hari ini adalah hari yang sial baginya. Ia terpisah dari partnernya dan kehilangan C2AR kesayangannya. Helm HEX miliknya retak karena pukulan kraken yang muncul secara tiba-tiba, tentakel tajam menusuk lengan kirinya, mengambil sepotong daging dari lengannya. Ia telah berjalam beberapa kilometer, dan ditambah dengan kejaran kraken selama sepuluh menit sudah cukup untuk menghabiskan staminanya.

Untuk sesaat, ia merasa sangat tenang dan nyaman berbaring diatas aspal, dari visornya yang retak, ia dapat melihat bulan purnama yang bersinar diatasnya.

Suara teriakan panjang yang mengerikan terdengar di kejauhan, suara itu semakin mendekatinya.

Pria itu sudah lelah, ia tidak dapatmenggerakkan tubuhnya dengan bebas lagi, pandangannya kabur, kesadarannya hampir hilang. Ia merangkak dengan putus asa menuju pisaunya yang terletak beberapa meter darinya.

"Bice.." Ujarnya menyebut nama partnernya.

Tinggal beberapa sentimeter lagi.

Ia berusaha untuk menggapai pisau itu, namun, saat jarinya menyentuh gagang pisau itu, tidak dapat bergerak lagi, ia masih sadar, tubuhnya telah mengkhianatinya.

Suara teriakan itu sudah berada tepat dibelakangnya.

Ia merasakan lilitan tentakel yang basah dan keras yang menggengam erat kakinya. Menariknya jauh dari pisaunya. Ia diseret dengan kasar diatas aspal, Jejak darahnya yang merah berceceran di aspal.

Kraken itu melempar tubuhnya dengan kasar. Makhluk itu mengeluarkan teriakan lagi.

Pria malang itu menghantam tembok dengan keras, ia merasa beberapa tulangnya patah. Ia tertelungkup di atas lantai semen yang keras. Ia tidak dapat bergerak, namun ia masih sadar, visor helmnya pecah, memperlihatkan sorot matanya yang lemah.

Ia tersandar di dinding. Mungkin ini saatnya, pikirnya, ia telah menerima kematiannya, namun ia tidak memejamkan matanya seperti para pengecut, ia ingin mati sebagai laki-laki. Ia menatap dalam-dalam kraken yang melangkah kearahnya.

Kraken itu adalah manusia, lebih tepatnya dulunya manusia. Dengan mata hitam yang besar, mulut dengan gigi-gigi yang bergerigi dan tajam, dan juga jari-jari tangan dan kakinya yang memanjang dengan kuku yang tajam membuatnya tampak menakutkan. Tentakel-tentakel tumbuh seperti tumor dibalik punggungnya, tumbuh dari sistem saraf yang ada ditulang punggungnya.

Tentakel-tentakel tajam itu melayang di udara, ujung-ujung tajam tentakel itu mengarah kearahnya, siap menikamnya kapan saja.

Dikejauhan, dilantai tiga sebuah gedung, sesosok bayangan memperhatikan gerak-gerik kraken tersebut. bayangan itu menggenggam handguard senjatanya, sebuah sniper rifle kaliber 7.62 yang dibuat oleh perusahaan Steyr sebelum perang dunia ketiga, SSG-69. Rifle itu dibalut dengan kain secara kasar untuk menyembunyikannya dari penglihatan di kawasan gurun yang tandus. Bayangan itu menarik bolt dengan hati-hati, memasukkan sebuah peluru kedalam chamber.Jari telunjuknya meraba trigger dengan halus.

Kraken itu berteriak lagi, ia merasa telah mendapatkan makan malam yang sangat enak untuk malam ini. Ia tidak pernah melihat apa yang datang untuknya, sebuah peluru 7.62 menembus tengkoraknya, membuyarkan partikel otaknya kepada pria malang yang kini telah bersimbah darahnya.

Tubuh kraken itu jatuh diatas aspal yang keras, ia terkapar diatas genangan darahnya sendiri. Tentakel-tentakel tajam itu sempat bergerak-gerak untuk beberapa saat, sebelum akhirnya diam.

Sosok bayangan itu tersenyum dalam kegelapan, ia kembali menyandang rifle miliknya, dan melompat turun dari gedung berlantai tiga tersebut.

Pria yang tersandar itu menghela nafas lega, dengan pandangannya yang kabur, ia memperhatikan sosok bayangan yang mendekatinya dari arah depan, menginjak mayat kraken yang tewas didepannya.

Sosok bayangan itu mengenakan pakaian yang sama dengannya, sebuah armor HEX berwarna putih, menandakan bahwa ia juga adalah personil Scavenge, Defend and Retaliate dari Gap.

Pria itu menyunggingkan senyuman lega dari balik helmnya yang pecah. Ia tahu, bahwa sosok bayangan itu adalah partnernya sendiri. "Bice.." Ujarnya lemah.

"Tidak cukup kuat untuk pergi sendiri, Richard?" Ujar wanita itu. Ia berlutut disamping pria yang dipanggil Richard itu dan melepaskan helm yang pecah itu.

"Aku tidak pernah mau ditinggal sendiri, bukannya aku pernah bilang begitu?" Balasnya.

Wanita itu menggantungkan helm milik Richard di kait yang ada di pinggangnya.

"Aku akan membawamu masuk kedalam kubah sebelum pagi tiba, bertahanlah." Wanita itu memegang lengan Richard.

"Maaf merepotkanmu, Beatrice." Ujar Richard sebelum ia kehilangan kesadaran.

Wanita itu hanya menggeleng dan membelai rambut partnernya yang pingsan itu.

"Kau memang tidak diciptakan untuk pertarungan infantri." Ujarnya.


CRIMSON SKY

2 komentar: