CHAPTER VIII - DOME
The Gap merupakan nama hamparan padang pasir yang sangat luas, gabungan dari beberapa gurun pasir yang telah menyatu di Amerika Serikat mencakup enam puluh persen daratan Amerika Serikat yang muncul karena hancurnya kota-kota besar dalam ledakan nuklir pada akhir perang dunia ketiga. Setelah keadaan permukaan aman, orang-orang bermunculan dan mendirikan kota-kota yang diselubungi kubah yang sangat besar dan luas, kubah tersebut dinamakan 'Dome'.
Ditengah-tengah gurun itu terletak markas SDR, markas bawah tanah yang merupakan fasilitas militer eksperimental dengan daya tampung lima ratus personil. Didesain sebagai markas perlindungan rahasia National Guard, markas ini sangatlah luas, mungkin dapat disebut sebagai kota kecil.
Yang kupikirkan saat ini bukanlah markas SDR atapun para personilnya, namun suatu fasilitas tertentu yang ada di markas, yaitu Hangar Heavy Purpose Combat Gear. N2552, nomor seri HPCG milikku dan Bice yang terparkir di Hangar tersebut. Sudah lama aku tidak memasuki kokpit N2552 dan melihat panel-panel konsil berisi informasi keadaan integritas kontrolnya.Mungkin mengutak-atik mesin HPCG dan melakukan sedikit perubahaan disana-sini untuk mendapatkan efektifitas gerakan yang bagus. Selalu lebih menyenangkan daripada duduk disebuah kantin personil yang sepi, hanya ditemani oleh seorang gadis kecil yang sedang memasak didapur kantin. Aku dapat melihatnya punggungnya dari sini, seorang gadis dengan postur tubuh yang langsing alias tipis sana-sini, tangan kiri yang mungil dan juga.. Um.. Bagian tertentu yang juga rata.
Sebuah piring melayang dari arah dapur, dilemparkan oleh gadis tadi... Alice, kurasa itulah namanya. Piring itu hampir saja mengenai kepalaku.
"Hale! Aku bisa membaca pikiranmu tahu! Kau sedang memikirkan tentang ukuranku kan?! Memangnya aku serata itu?" Teriaknya. Wajahnya memerah, ia meraba dadanya dengan tangan kirinya, mengukur gundukan daging yang ada disana. Namun.. Tetap saja rata. "Hale! Berhenti mengatakan kalau aku ini rata!" Teriaknya lagi. Ia membalikkan badannya dengan kesal, menghadapkan punggungnya padaku dan kembali pada masakannya yang entah apa.
"Aku memasakkan sayuran untukmu, karena kamu baru saja keluar dari sana kan? Kamu akan butuh banyak nutrisi!" Ujarnya dengan riang. Meskipun hanya memiliki satu tangan kiri, gerakan Alice cukup lincah, ia dengan piawai memainkan dan mengayunkan pisau di antara jari-jarinya, memindahkan dan memotong-motong benda hijau yang entah apa dengan gesit.
"Terima kasih! Dan benda hijau ini adalah sayuran, mungkin diluar sana sudah sangat jarang ya?" Ujarnya riang.
Dia.. Membaca pikiranku lagi kan?
"Yep!"
Jika dipikir-pikir lagi.. Alice memiliki tubuh yang indah dan sempurna, sangatlah manis. Ia sangatlah anggun didalam gaun putihnya. Rambut pirang panjangnya tergerai lepas, tertiup angin halus yang ada di dalam ruangan membuatku menganga.
Suara hentakan tunggal pisau yang keras terdengar dari dapur. Alice, ia bergetar entah karena marah atau malu. Wajahnya kembali merah. Ia membalikkan badannya dan menatapku dengan tajam. Bulir air mata terlihat disudut matanya.
Hei.. Apa salahku?
"Hale.. Kau mengatakan itu hanya untuk menyenangkanku, iya kan?" Ia bergetar menahan tangis.
Ah, tidak.. Aku... Alice.. Kumohon, berhentilah membaca pikiranku! Berilah aku sedikit kebebasan disini! Bagaimanapun aku adalah tokoh utama cerita ini tahu! Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan pada pembaca apa yang terjadi disini kalau kamu terus-terusan membaca pikiranku?
"T-tapi.."
Dan juga.. Aku jujur sewaktu aku mengatakan kalau kamu itu manis.
Ia tersenyum malu, tersipu karena kata-kataku.
Maukah kau berjanji padaku, Alice, berhentilah membaca pikiranku, kecuali aku yang memberimu izin dan keadaan darurat, mulai dari sekarang.
"Baiklah!" Ujarnya dengan riang, ia kembali meneruskan masakannya, yang sedari tadi belum juga selesai. Mungkin ia menyiapkan masakan spesial atau apa.
Ah, dasar Alice. Sampai-sampai aku lupa apa yang kupikirkan karenanya.
Ah, tentang Alice, ia adalah gadis berumur sama denganku, namun entah kenapa terperangkap ditubuh gadis pirang kecil yang seperti baru berumur dua belas sampai empat belas tahunan, sangat sesuai dengan sifatnya yang kekanak-kanakan. Aku hanya bisa memaklumi, dua belas tahun terperangkap disini,di fasilitas laboratorium bawah tanah ini tanpa kontak dengan manusia dan menunggu orang yang sudah melupakannya membuatnya memiliki sifat itu.
Tentang ingatanku.. Aku belum sempat menanyakannya pada Alice, ia langsung menarikku ke ruangan ini untuk makan. Tubuhku hanya dibungkus oleh sebuah selimut yang hangat. Sial.
Tentang Bice. Entah berapa hari aku dimasukkan kedalam tabung itu, yang sepertinya memulihkan lukaku meskipun lubang yang ada dijantungku, hei, lubang dijantung dapat menyebabkan kematian seratus persen. Mungkin teknologi baru milik BCE. Jika sudah lewat seminggu, mungkin Bice sudah dieksekusi didepan publik SDR.
Sial.
"Ayo dimaka~n!" Ujar Alice yang meletakkan sebuah panci diatas mejaku. Wajahnya terlihat sangat riang. Alice menarik sebuah kursi dan duduk didepanku.
"Hei." Ujarnya. Ia kembali meraba dadanya. "Ukuranku tidak separah itu kan?"
Aku hanya menatapnya dengan aneh. Aku.. Aku merasa tidak nyaman mendengar anak kecil menanyakan hal seperti itu padaku. Alice menepuk dahiku.
"Aih! Hale! Kau pasti sedang memikirkan hal yang tidak-tidak!" Ujarnya. Ekspresi wajahnya terlihat lucu, dengan dahinya yang mengkerut dan juga pipinya yang menggembung, sebuah pemandangan yang tidak biasa kulihat di luar sana. Aku mengalihkan pandangan ke dalam panci. Entah mengapa.. Benda-benda hijau yang mengapung di dalam air yang ada di dalamnya membuat air liurku menetes sekaligus memualkan perutku. Ada perasaan aneh yang bergejolak dalam perutku, sepertinya asam yang bersemayam disana meminta tumbal, sementara naluriku menolak untuk memasukkan benda-benda hijau itu. Benda itu tiba-tiba membuka mata dan mulut mereka, tertawa. Mereka menertawakanku. Tawa mereka berdengung di dalam telingaku.
Keringat dingin menetes di dahiku, aku menelan ludah. Tawa mereka.. Tawa mereka memasuki setiap bagian yang ada di otakku, mengais-ngais dan mencabik-cabik selaput-selaput lunak yang ada di otakku. Aku merasa bagaikan seorang kurcaci kecil yang dikelilingi oleh benda-benda hijau raksasa yang tertawa-tawa, menatapku dengan pandangan yang tajam. Aku jatuh.
Tak ada harapan lagi.. Benda-benda hijau itu telah membuktikan bahwa mereka lebih baik daripada aku. Aku tenggelam dala-
"Hale! Kamu kenapa?" Suara Alice membawaku kembali ke kantin personil. Ia menempelkan tangannya ke dahiku, sepertinya memeriksa suhu badanku.
"Kau mengucurkan keringat dan bergetar hebat Hale, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya.
"A-aku tidak apa-apa.." Jawabku sedikit tergagap.
"Kamu.. Tidak mau makan masakanku?" Ujarnya.Ia tertunduk, terlihat sedikit kecewa.
"Kenapa kamu tidak mau makan masakanku?" Tambahnya.
Ralat, benar-benar terlihat sangat kecewa. Aku sepertinya dapat melihat sebuah awan hitam melayang-layang di atas kepalanya.
"Ah.. Itu.. Itu.. Uhm.. Karena kamu belum memberiku sendok?" Jawabku panik.
"Ah! Maaf, aku lupa!" Ujarnya cepat. Ia segera berdiri dan berlari menuju dapur, mengambil sebuah sendok dan kembali ke mejaku dalam waktu yang cukup singkat.
"Ini!" Teriaknya riang. Ia menyodorkan sendok itu padaku. Syukurlah, kelihatannya ia tidak lagi kecewa.
Aku mengambil sendok itu dari tangannya. Aku menghela nafas panjang. Dengan terpaksa aku mengambil sebuah benda hijau yang ada di dalam panci. Dengan rasa takut dan terpaksa aku memasukkan benda itu ke dalam mulutku.
Sejuta sengatan listrik mengenai lidah dan tubuhku, bulu kudukku berdiri. Tulang punggungku serasa tertusuk oleh rasa dingin yang menjalar. Aku hanya menganga, tak sanggup untuk berkata-kata. Air mataku mulai turun karena sensasi yang kurasakan ini.
"Ada apa, Hale?" Ujar Alice yang duduk di depanku. Ia menatap wajahku dengan ekspresi penasaran.
Tanganku bergetar.
"Hale?"
Dadaku sesak.
"Uh.. Kamu.. Kenapa?"
"E..e-e..."
"Ee?"
Aku menarik nafas panjang.
"Hale?"
"EEENAAAAAAAAK!" Teriakku.
Alice hanya memandangiku cemas saat aku menghabiskan seluruh isi panci itu.
***
Jika lewat seminggu, MUNGKIN Bice sudah dieksekusi oleh SDR. Mungkin. Apa yang sedang kupikirkan, terlalu cepat menyerah begini? Melanggar etos kerja personil SDR. Aku tidak boleh berputus asa begini, jika Bice mungkin sudah tewas, berarti ada kemungkinan Bice masih hidup.
Sebuah senyuman muncul di wajahku, saat aku menyadari kebodohanku. Tidak ada alasan untuk menyerah, tidak ada alasan untuk berhenti. Aku hanya perlu melakukan apa yang kupercayai itu benar.
"Alice.." Ujarku. Menggenggam erat sendok yang kupegang, membengkokkan gagangnya.
"Ya?"
"Berapa lama dari sini ke Dome 13?" Tanyaku dengan tatapan tajam pada Alice, tatapan yang terdeterminasi yang kumiliki.
"Tiga hari, kalau jalan kaki."
"Maaf, aku harus pergi. Bisakah kau tunjukkan padaku pintu keluar?" Tanyaku. Aku berdiri, memakai selimut seperti sebuah jubah.
"Eeh? Langsung pergi? Kan kamu baru satu-dua jam berada disini!" Ujar Alice. Ia berdiri dan menggebrak meja karena heran.
"Maaf, nyawa seseorang bergantung padaku saat ini Alice, dan aku tidak ingin orang itu kehilangan nyawanya jika aku terlambat menemuinya."
Alice menutupi wajahnya, ia terisak. "Aku.. Aku tidak ingin berpisah lagi darimu Hale! Aku tidak mau.. Huaa.."
"Setelah aku menemukannya, aku akan kembali kemari, percayalah." Ujarku berusaha menenangkannya. Aku mengusap air matanya dengan tanganku.
"Tidak! Aku tidak mau.. Aku tidak ingin sendirian lagi.. Aku tidak mau berpisah.. Tetaplah disini.." Ujarnya. Ia menghempaskan tubuhnya padaku, memelukku dengan erat.
Aku merasa berat untuk meninggalkan Alice sendirian disini, yang mungkin pernah kulakukan pada waktu dahulu. Namun.. Aku merasa lebih berat untuk membawanya keluar sana, ke padang pasir yang berbahaya itu.
"Aku akan ikut denganmu!" Ujarnya. Mengatakan kata-kata yang paling kutakuti.
Membawanya keluar, selama tiga hari menuju Dome 13, dan akupun tak tahu Dome 13 berada dimana. Aku tak tahu arahnya, mungkin butuh waktu lebih dari tiga hari bagiku untuk mencapai Dome 13. Hal seperti itu membuat perasaanku tidak enak, bagaimana kalau aku tidak bisa menjaganya?
"Dua jam, menggunakan ATV yang ada di Hangar, dan disana terdapat sebuah peta yang menunjukkan lokasi seluruh Dome yang ada di benua ini." Ujar Alice yang masih membenamkan wajahnya di perutku.
Kamu.. Membaca pikiranku lagi?
Alice tidak menjawab, ia menarikku keluar dari kantin, menyusuri lorong-lorong beton yang cukup terang karena pencahayaannya masih bekerja. Kurasa pembangkit listrik yang ada di fasilitas ini masih bekerja dengan baik.
"Kamu tidak akan kubiarkan keluar sendirian! Apalagi tanpa pakaian begini!"
Alice menarikku ke dalam sebuah ruangan luas yang berisikan rak-rak senjata yang tergantung di dinding. Woah. Sebagian dari rak itu sudah kosong, mungkin dibawa oleh orang-orang saat keluar dari sini, dan sebagian lainnya tertinggal dalam keadaan cukup baik, tanpa ada debu satupun yang melekat.
"Aku datang kesini sekali seminggu untuk membersihkan mereka, karena aku tidak memiliki banyak hal untuk dikerjakan disini.." Ujar Alice dengan wajah bangga. Ia memegang pinggangnya dan membusungkan dada.
Aku mengusap kepalanya.
"Terima kasih." Ujarku.
"Aku akan ke kamarku dulu."
"Hei!" Namun Alice telah menghilang di koridor.
***
Aku mengelilingi ruangan, melihat-lihat benda yang dapat kugunakan. Cukup banyak senjata yang ada di dalam lemari yang terletak di bagian atas, namun hanya ada tiga jenis senjata. M16, mungkin tipe A4, Barrett M98B dan.. TDI Vector? Kurasa aku akan membawa M16 sajalah. Pandanganku teralihkan menuju rak senjata bawah yang tertutup, semuanya terkunci dengan gembok yang dapat dibuka dengan memasukkan angka tertentu dengan cara memutar bundaran yang ada. Mari kita lupakan rak itu untuk saat ini.
Dua buah lemari yang berbeda warna yang ada di sudut ruangan menarik perhatianku. Tulisan 'Hazardous Environment eXoskeleton' yang terpampang di sudut salah satu lemari berpendar, seakan meminta perhatianku. Senyumku merekah. Sebuah HEX menantiku di dalam ruangan ini, sebuah powered armor yang kuat serta ringan dan dapat membuat gerakanku menjadi cukup ringan dapat kupakai segera. Dengan perasaan tidak sabar aku memegang gagang pintu lemari itu dan menariknya dengan perlahan. Kosong.
Entah mengapa, aku bisa mendengar tawa seseorang yang berada di dimensi yang sama sekali belum aku ketahui, karena melihat seorang Richard Imran terpancing dengan lemari HEX yang kosong. Lelucon yang sangat garing, dapat kupastikan hal itu untuk orang yang ada di dimensi sana.
Dengan perasaan setengah hari kulirik lemari yang ada disampingnya, sebuah lemari yang lebih kusam jika dibandingkan dengan lemari HEX yang ada didepanku. 'Juggernaut Class Hazardous Environment eXoskeleton.' Nama yang cukup bagus. Dapat dipastikan kalau lemari ini juga kosong. Namun, aku tetap membuka pintu lemari itu dengan setengah hati.
Perkiraanku salah. Satu set HEX menyambutku. Mereka tergantung di dalam dengan tenangnya. Senyumku kembali merekah. Terima kasih! Orang yang ada di dimensi lain! Aku berhutang padamu! Tapi.. Tidak akan ada lelucon lainnya kan?
Dengan semangat aku mengambil apa yang kuperlukan, dan menghabiskan waktu dua puluh menit untuk memakai itu semua. Alice masih belum kembali.
'Juggernaut Class Hazardous Environment eXoskeletion' ini terlihat lebih tebal dibandingkan dengan HEX biasa, dengan tambahan pada pelindung bagian belakang yang lebih tinggi. Bagian luarnya masih ada tempat untuk mengaitkan kantong-kantong peluru dan granat. Sistem vest modular, heh. Helmnya juga lebih tebal pada bagian telinga dan dahi.
Oke, aku sudah berpakaian, sekarang hanya tinggal persenjataan. Apa aku harus membawa M16? Atau sebuah Barret? Yang pasti aku tidak ingin membawa TDI Kriss. Aku memiliki sedikit insiden yang masih meninggalkan trauma dengan senjata itu.
"Kamu siapa?! Dimana Hale!" Teriakan Alice bergema di seluruh ruangan. Aku mengalihkan pandanganku ke arah datangnya suara.
Alice berdiri di pintu masuk, membawa sebuah tas punggung dan sebuah boneka beruang. Ia memukuliku dengan boneka itu. Ia kembali menangis. "Mana Hale! Mana! Dimana dia!" Teriaknya.
Aku menahan tangannya, dan memeluk tubuhnya yang kecil itu sebelum ia melukai dirinya sendiri. HEX menjadi cukup keras jika mengalami pukulan. "Hei! Tenang! Ini aku, Hale!"
"Eh?" Ujarnya heran. Aku melepaskan pelukanku.
"Itu.." Ia menunjuk ke arahku dengan wajah heran.
"Menyeramkan, yah, aku tahu.."
"Ah, Hale! Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu!" Ujarnya. Ia berlari kecil menghampiri rak yang terkunci tadi. Ia memutar gembok itu dan membuka rak. Di dalamnya, terdapat sebuah koper besar yang memanjang. Ia memberi kode padaku untuk mengambil koper itu. Koper itu cukup berat, mungkin lima belas kilo atau berapa lah. Aku meletakkan koper itu di lantai, dan Alice membukanya.
Didalamnya, terdapat sebuah revolver besar, maksudku.. Sangatlah besar. Entah orang gila senjata mana yang membuat revolver dengan barel yang terlalu panjang ini. Selain itu, juga ada sebuah stock dan lembaran-lembaran kertas, mungkin cetak biru dari senjata ini. Revolver dan stock itu tersusun rapi di dalam koper, sementara lembaran-lembaran kertas terlipat di kantong atas. Aku tidak dapat melihat peluru dimana-mana, melihat dari ukuran silindernya, mungkin revolver ini menggunakan kaliber .50 atau lebih. 'CR343 Artemis', itulah yang terukir di pelindung barel senjata ini. Groovy.
Aku kembali menutup koper itu. Melihat benda ini membuatku pusing.
"Hale, maukah kamu membawa senjata ini bersama kita? Aku.. Aku ingin mencoba menembakkannya suatu hari nanti." Pinta Alice dengan wajah memelas padaku. Yang benar saja, tubuhmu yang kecil seperti itu menembakkan senjata sebesar ini? Melihat panjang barelnya saja membuatku takut!
"Kumohon?"
Hm.. Baiklah.. Akan kita bawa benda ini, dan.. Mungkin aku mengenal seseorang yang bisa membuat peluru untuk senjata ini.
"Ya?"
Hei! Bukannya aku sudah bilang.. Ah, maaf, kamu tidak membaca pikiranku, anak baik. Aku mengelus rambutnya lagi.
"Baik, kita bawa." Ujarku.
Aku memperhatikan Alice, melihatnya dari ujung kaki sampai ke kepala. Ia masih memakai gaun putih yang ia pakai tadi.
"Kau pasti bercanda kan?"
"Eh?"
"Pakaianmu, apa cuma pakaian ini yang kau punya?"
"Tidak, aku punya yang lain.. Tapi cuma yang ini yang cukup ringan."
Aku memegang pundaknya dan memutar tubuhnya menghadap keluar. Ia hanya menurut.
"Ganti pakaianmu, pakai jaket ataupun pakaian lainnya yang memiliki lengan panjang, dan juga pakai celana, jangan terlalu sempit dan jangan terlalu lapang, untuk memudahkan gerakan. Mengerti?"
"Hee? Tapi kan.." Wajahnya terlihat tak setuju.
"Sudahlah, cepat."
Alice mengangguk dan keluar dari ruangan secara terburu-buru. Aku menghela nafas, mengambil sehelai kain tebal yang ada di meja yang ada ditengah ruangan, mengibaskannya untuk menerbangkan debu yang ada.
Aku menyandang kain itu, dan mengambil sebuah topeng gas yang ada di meja. Aku memandangi topeng itu untuk beberapa saat.
Apa sebenarnya yang sedang kulakukan? Membawa anak kecil keluar dari tempat yang aman, menuju ke dunia luar yang mungkin belum pernah ia lihat, sebuah dunia yang dipenuhi oleh sampah-sampah radioaktif, gas-gas beracun yang beterbangan dimana-mana, monster-monster bertentakel tajam dan haus darah, para fanatik keagamaan yang pedofil, dan juga orang-orang putus asa yang mencari perlindungan dibalik tembok yang membatasi sentral dome dengan bagian luar.
Aku terduduk, bersandar di meja dan memegangi kepalaku yang mulai sakit. Apa yang seharusnya kulakukan? Sejenak, keputusan untuk meninggalkannya disini adalah keputusan terbaik, namun.. Auranya yang memancarkan kesendirian dan kesepian membuatku iba. Lagipula.. Ia bilang kalau akulah orang yang ia tunggu, ia sangat mengharapkanku, ia bahkan menyebut dirinya sebagai milikku.
Aku tidak bisa.. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, tapi aku juga tidak bisa tinggal disini, ada hal yang harus kulakukan, ada seseorang yang harus kutemui.
C R I M S O N S K Y
Langganan:
Komentar (Atom)