Sidestory III - Secure, Defend, and Retaliate



Mendadak, sebuah kilat cahaya membutakanku, dan lalu semuanya menghitam.

Nafasku terengah, pandanganku gelap.Sebuah sengatan di dahi kiriku menimbulkan rasa pusing yang luar biasa. Kepalaku ringan bagai tak berbobot, ringan, namun memusingkan.

Aku dapat merasakan dua buah tangan, mencengkram pundakku, menyeretku dengan kasar, sebelum akhirnya melemparku keatas lantai beton yang dingin. Aku terguling bagai sebuah boneka tak bernyawa.

Sinar yang menyilaukan, diikuti oleh gambar-gambar yang kabur. Butuh waktu beberapa saat bagiku untuk mengumpulkan kesadaran yang tercecer, barulah semuanya tampak jelas.

HPCG yang terbakar, hangus menghitam. HPCG dengan lengan yang terkoyak karena ledakan. HPCG itu berlutut didepanku, tidak ingin tumbang, tidak ingin menjadi rongsokan besi yang akan didaur ulang. Ia sama sepertiku, tidak ingin menyerahkan rumahnya pada penyusup yang tidak dikenal.

Mayat beberapa penyusup bergelimpangan di garasi ini, dengan tubuh terkoyak ditangan robot yang setia menemani pilotnya. Selonsong peluru berserakan, peluncur roket dan juga senapan antitank tergenggam ditangan orang-orang yang tewas.

Dua orang dari mereka berlutut didepan pintu elevator, memasangkan rangkaian peledak pada pintu kokoh yang membatasi markas kami dengan dunia.

Tak jauh dariku, kulihat Lisa. Tangan-tangan berbalut perban memeganginya, setiap inci darinya. Mencabik setiap lembar dari apa yang ia punya. Ia meronta, berteriak, menangis. Namun tangan-tangan itu tak ingin melepasnya. Sebuah tangan menutup mulutnya, membungkam teriakannya.

Aku menjatuhkan tubuhku, menggerakkan kedua tangan yang lunglai, menyeret tubuhku secepat yang aku bisa, mendekati Lisa. Setiap gerakan yang kubuat menambah sakit yang menusuk kepalaku, pikiranku kacau, pusing, perih, Lisa.

'Hentikan'

Inginku berteriak, namun yang ada hanya nafas lirih yang tak terbaca.

'Dia.. Lisa..'

Lima meter dari mereka. Tubuhku mati rasa, tanganku berat, kakiku lumpuh. Aku mencakar-cakar lantai yang dingin dengan putus asa, berusaha menggeser tubuhku walau hanya lima senti.

'Hamil.'

Gelap, dingin dan kaku. Teriakan Lisa yang tertahan terngiang-ngiang ditelingaku, begitu juga dengan tawa liar orang-orang itu. Terulang-ulang bagaikan rekaman yang rusak, menusuk setiap sel yang ada di otakku.

Maaf, Lisa.

Rentetan tembakan bergema, menutupi tangisan dan teriakan Lisa ditelingaku. Dentingan selonsong peluru menyusul, dan keheningan.

Isak tangis Lisa merobek telingaku, merobek setiap lembar dari perasaanku. Membuatku ingin kembali berdiri, meskipun tubuhku tak lagi sanggup.

Suara langkah mendekati kami, langkah yang pelan, langkah yang terseok, terluka.

"Lisa.."  SUara yang parau dari seorang pria yang terluka, sekarat.

"Katsu.." Gumam Lisa diantara isak tangisnya yang menggema diruangan yang hening.

Suara sebuah tubuh yang terhempas ke lantai beton yang dingin. Seorang lagi teman yang jatuh. Terkapar tak bergerak. Lisa yang meneriakkan nama partnernya membuat suasana semakin tidak mengenakkan.

Alarm bergema, berdengung menandakan bahwa lift mulai bergerak keatas, menuju ketempat kami jatuh, terkapar dan kalah. Regu pengintai dari bawah memang sudah datang, tetapi untuk apa? Tak ada yang tersisa diatas sini, hanya dua orang operator yang kehilangan partnernya yang tersisa, operator yang menunggu untuk dieksekusi. Hukum itu, kode etik itu, ritual SDR yang telah mengadat di aliran darah SDR semenjak organisasi ini didirikan. Operator yang kehilangan partnernya telah gagal, dan berhak untuk mati dihadapan publik SDR. Yang tersisa setelah itu hanyalah upacara kremasi yang menghilangkan jejakmu dari dunia, hanya tersisa dalam database SDR yang dliputi abu.

Derap langkah operator-operator SDR mendekati kami dengan cepat. "Sebuah HPCG hancur kuulangi, se- Ya tuhan, sersan! Kita butuh medis!"

"Ambilkan dia selimut! Cepat! Dan periksa dua orang itu!"

Sepasang tangan membalikkan tubuhku, menampar-nampar pipiku dengan pelan. Mencoba untuk membangunkanku. Mataku terbuka perlahan, membawa sinar kedalam mataku. Sebuah bendera tergantung diatasku, sebuah bendera dari sebuah negara  yang telah lama hilang. Amerika.

"Lisa.. Dimana Lisa?" Ujarku lirih pada seorang operator yang membangunkanku.

"Dia akan baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas, keadaanmu sendiri cukup parah. Medis! Kemari!"

Syukurlah..

---

"That day.. We lost many operator, all good people.. Only three of them survived. Those intruders, we don't know anything about them, not even a name. They just appear from nowhere, appearing from thin air and gone to the dark, leaving the dead ones behind. Their weapon, there is no serial number on them, not identity, no trace. Every gun runners we knew, they denied involvement in this incident. We left in the dark, and they never appeared again.. That's all for today, little Alice, we got roads to travel on, we got destination to reach, we got goals to accomplish. Now, go to sleep, and good dream."

The End.