CHAPTER V - MESSENGER OF EVIL

F segera menghampiri tubuh Ralph yang tertelungkup kaku di lantai. Wajahnya terlihat sangat panik saat ia membalikkan tubuh Ralph yang berlumuran darah.

"Ralph? Hei! HEI! RALPH?" Bentak F. Ia menampar-nampar wajah Ralph dengan keras, berusaha untuk membangunkan pria berumur 54 tahun itu.

Ralph tidak merespon apapun, ia hanya terbujur disana, tidak bergerak. Jejak darah mengucur dari atas kepalanya. Kemeja dan rompi anti pelurunya telah berubah warna. Warna merah tua yang sangat khas.

Aku menghampiri bekas lubang yang ia buat, membidikkan senjataku kebawah, menunggu siapapun yang melempar Ralph untuk muncul. Namun, tidak ada apapun.

"F?" Panggilku.

"Aku tidak bisa merasakan detak jantungnya!" Teriak F. Ia meletakkan tangannya di atas dada Ralph, dan menekan-nekan jantungnya, berusaha untuk membangkitkan kerja jantungnya kembali.
Di bawah, hanya ada lantai yang dipenuhi oleh lubang peluru dan jejak kaki yang terkena darah.  Menuju ke arah tangga.

Aku segera mengalihkan bidikanku ke arah kami masuk, dengan perasaan yang -, menunggu siapapun yang akan masuk. Dengan perlahan kuhampiri F.

F masih melakukan CPR untuk membangunkan Ralph, namun, belum ada tanda-tanda kalau Ralph akan bangun.

"Sial Ralph! Dimana Sofia?! Dimana mereka berdua?!" Teriak F pada Ralph yang entah masih hidup atau sudah mati. F mencengkeram leher Ralph dan menamparnya dengan panik.

Namun, Ralph lagi-lagi tidak bereaksi, hanya mata terpejam dan tubuh yang tergeletak lunglai oleh tenaga F yang menamparnya dengan keras. Dari bibirnya kulihat tetesan darah segar, kupikir organ dalamnya juga terluka.

Aku menepuk pundak F dengan tangan kiriku selagi tangan kananku mengarahkan senjata ke arah pintu untuk masuk ke ruangan luas ini.

F meletakkan kembali tubuh Ralph ke lantai. dengan wajah kecewa, sedih dan marah bercampur menjadi satu, ia terdiam dan mengenggam MP7nya dengan erat.

"Children of Violence... Kalian akan kuhancurkan!" Teriaknya.

Kuperhatikan sekitarku, dinding ruangan ini sebagian terdiri dari kaca, yang sebagian sudah pecah, membiarkan cahaya bulan yang samar masuk kedalam. Ah, aku ingin keluar.. Melihat cahaya bulan tanpa penyaring yang ada di atas kubah akan lebih menyenangkan.

F berdiri, aura kemarahan dapat kurasakan dengan jelas. Ia terlihat sangat mengerikan. Ia melepaskan magasen  yang ada di MP7 miliknya dan menggantinya dengan magasen baru.

"Ayo, Richard, mari berburu CoV yang tersisa." Ujarnya dengan nada yang bergetar. Ia siap untuk membalaskan dendam Ralph, Sofia dan Bianca.

"Kita tidak bisa meninggalkan Ralph begitu saja di sini, kita harus membawanya untuk penguburan yang layak." Ujarku, melihat tubuh Ralph yang tergeletak begitu saja di atas genangan darah dan potongan tubuh manusia lainnya.

"Wow, ruangan ini.. Orang seperti apa yang tega melakukan semua ini?" Tambahku. Aku menyeret tubuh Ralph dengan satu tangan sementara tangan yang lainnya memegang pistol M1911 perak.

Suara rentetan halus dari MP7 mengagetkanku, F melepaskan tembakan ke arah sebuah bayangan yang muncul di pintu masuk. Dentingan terdengar dengan samar, karena darah yang ada menghalangi jatuhnya selonsong itu ke lantai.

Tidak ada reaksi apapun. Bayangan yang menaiki tangga itu tidak bereaksi apapun.

F melepaskan magasen dari MP7 dan mengambil sebuah magasen baru yang ada di rompinya dalam waktu yang hampir bersamaan, ia memasukkan magasen baru sebelum magasen yang kosong menyentuh lantai. Man, that was fast!

"Hehe.." Terdengar tawa dari arah bayangan itu. Perlahan, bayangan itu mendekat, menuju ke tempat yang terkena cahaya rembulan, menunjukkan wujudnya. Tangan kanannya terangkat kedepan, menutupi sebagian dari wajahnya.

Di depannya, dua puluh butir peluru mengambang di udara, seperti tertahan oleh semacam kekuatan yang tidak terlihat.


"Kalian telah membantai sebagian besar dari pengikutku... Apa kalian tidak tahu berapa lama aku mengumpulkan mereka?" Ujarnya. Ia menggerakkan tangannya kesamping, menunjukkan wajahnya pada kami, dan peluru-peluru itu mengikuti gerak tangannya.

Orang itu, seorang lelaki yang kira-kira sedikit lebih tua daripada aku, memakai pakaian pendeta gereja yang berwarna hitam, kalung salib perak tergantung dilehernya, dan tangan kirinya membawa sebuah buku berwarna hitam. Rambutnya tersisir kesamping dengan rapi. Sebuah sarung tangan berwarna putih dengan kabel-kabel yang berpendar terpasang di tangan kanannya.

Aku menyeret tubuh Ralph kesudut ruangan, untuk berjaga-jaga agar tubuhnya tidak terkena luka apapun lagi, karena kupikir luka yang ada di tubuhnya sudah cukup parah.

"Memang aku peduli, bajingan. Lagipula, siapa kau?" Maki F. Senjatanya masih tertuju ke arah orang itu.

"Aku peduli." Jawab orang itu dengan nada datar, sepertinya ia tidak senang dengan sikap F. Ia kembali mengangkat tangannya kearah depan, membawa peluru-peluru itu untuk membelakangi F.

Jarak mereka hanya sekita sepulur meter.

Aku, entah kenapa merasa familiar dengan keadaan ini, seperti aku pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, dan entah kenapa, aku memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi.

"Dan aku tidak, terima kasih. Lagipula... Mengapa kau bisa melakukan itu?" Tanya F.

"Yah, kau tahu, mukjizat. Dan apa kau tidak kaget?"

"Tidak, kurasa aku terlalu sering membaca buku.. Bukan kebiasaan buruk, kurasa." Ujar F. Ia berjalan dengan perlahan kesamping, menjauhi aku dan Ralph.

"Dan kurasa kau sudah tahu apa yang akan kulakukan, benar kan?" Ejek orang itu. Tangannya mengikuti arah gerakan F.

Aku benar-benar memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Apa kau mau menjadi target latihanku, hmm?" Tanya orang itu dengan riang.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, kau ini siapa?" Tanya F balik.

"Kau tidak tahu? Astaga... Aku adalah pemimpin dari Children of Violence, Risk."

Mendengar nama itu, F kembali mengenggam trigger senjatanya dengan erat, memuntahkan dua puluh peluru ke pria itu, namun.. Peluru-peluru itu hanya melambat sebelum akhirnya berhenti.

"Ah.. Apa kau terlalu putus asa?" Ejek orang itu lagi.

"Tidak. Tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?" Jawab F dengan nada marah.

Aku mengangkat SG552 milikku dan mengarahkannya ke orang itu.

"Ah... Orang aneh berarmor putih dengan sedikit warna merah yang tidak dikenal yang  tidak kompeten dan mungkin menderita impotensi..." Ejeknya padaku, dengan senyuman yang terlihat menyebalkan..

"Hei! Aku tidak impoten!" Teriakku padanya.

F memandangiku dengan tatapan aneh dan sedikit heran. "Richard... Apa kau harus menjawab ejekannya?"

"Aku hanya membela diri!"

"Tetap saja, pertanyaan seperti itu tidak usah dijawab!"

"Lalu? Apa aku akan membiarkannya mengejekku?"

"Tidak.. Tapi kenapa hanya ejekan yang terakhir kau jawab?"

"Uh, kau tahu... Harga diri lelaki." Ujarku dengan pelan.

"Memangnya harga diri lelaki ada disana?" F lagi-lagi mengeluarkan ekspresi anehnya.

Orang itu membaca buku hitamnya selagi kami beradu mulut, nampaknya ia tidak terintimidasi dengan dua buah senjata yang tertuju padanya.

"Uh, F, kurasa sebaiknya kau tidak bertengkar denganku.. Dan.. Nampaknya suasana hatimu berubah dengan cepat." Ujarku pada F.

"Kau pikir aku sedang apa, ha?"

"Oh, kalian sudah selesai? Maafkan aku, tapi buku ini lebih menarik daripada percakapan kalian berdua." Ujar orang itu. Ia menutup buku hitamnya dan kembali membawanya kesamping.

"Ah, sampai dimana tadi? Maaf, aku lupa." Ujarnya lagi. Ia mengarahkan tangan kanannya kearahku dan menjentikkan jarinya. Apa yang terjadi selanjutnya sesuai dengan firasat burukku.

Peluru-peluru itu melesat dengan cepat, cukup untuk melukai tubuh manusia.Dan sayangnya tubuh itu adalah tubuhku.

Tenaga dorongan peluru-peluru itu mendorongku terduduk disamping tubuh Ralph, tubuhku tidak dapat kugerakkan, rasa sakit yang ditimbulkan oleh lubang-lubang kecil di bagian tubuh yang tidak tertutupi oleh HEX terlalu sakit untuk ditahan.

F kembali memuntahkan peluru kearah pria itu, namun, sebagian besar peluru hanya berhenti didepannya.

"For God so loved the world, that he gave his one and only son. That who ever believes in him shall not perish, but have eternal life." Ujar pria itu saat F menembakinya.

Sial.. Kalau saja aku dapat bergerak.. Kalau saja aku dapat meraih M1911 dan menembak pria itu saat punggungnya terarah padaku seperti sekarang..

MP7 milik F hanya mengeluarkan bunyi klik.

"Sial." Ujar F.

"Sepertinya tuhan berpihak padaku, hmm?"

F melemparkan MP7nya kelantai dan mengambil sebuah pisau dari holster dibalik kaki celananya.

"Jika aku punya tuhan, tentu." Ujar F. Ia memasang kuda-kuda dan tidak melepaskan pandangannya dari Risk.

"Ooooh... Bertobatlah segera! Sebab Yazoth akan menerimamu dengan tangan terbuka!" Seru Risk pada F, sepertinya menawarkan kerjasama.

F menaikkan salah satu alisnya karena heran atau ingin mengejek. "Ya..zoth? Apa kau mengubah nama Yesus dan menjadikannya tuhanmu?"

"Seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dimasa lampau! Ada banyak rahasia dunia yang belum terkuak oleh kita!"

"Jadi.. Kau mengakui bahwa tuhanmu hanyalah seorang peniru?"

"Kau.."

Hei, kalian berdua.. Kumohon hentikan pembicaraan yang terlalu sensitif itu.. Aku tidak mau kalau nanti cerita ini jadi dicekal..

"Siapapun yang menolak keberadaannya akan dihukum! Matilah dalam kesengsaraan!" Teriak Risk dengan marah. Ia mengayunkan tangannya pada F, melemparkan peluru-peluru itu dengan kecepatan tinggi.

F dengan cepat melompat kesamping, menghindari peluru-peluru itu. ia telah memperhitungkan segalanya dari awal.

"Aku terlalu sering membaca buku, benar kan?" Teriak F. Ia menerjang kearah Risk, dengan pisau tergenggam ditangan.

Risk, hanya tersenyum dan menangkap tangan F yang memegang pisau dengan tangan kiri.

"Kau tidak pernah memperhitungkan hal ini, benarkan?" Risk melemparkan bukunya dan membanting tubuh F dengan mudahnya, ia baru saja membanting F yang bertubuh besar itu dengan mudah.. Wow..

Risk menindih F dan melancarkan pukulan cepat disaat F berusaha untuk berdiri. Wow..

Hei, ini bukan saatnya untuk kagum Richard! Bergeraklah! Bergerak!Namun, tidak ada gunanya. Aku sama sekali tidak  mengerakkan tubuhku satu sentimeter pun, disaat Risk dengan memukuli F dengan brutal.

F menendang perut Risk, melemparkannya beberapa meter dari tubuhnya.

"Giliranku." Ujar F, ia berusaha untuk menyerang, namun Risk dengan mudah menangkis setiap tendangan dan pukulan  F.

Risk memukul perut F dan menendang lututnya, membuat F berlutut didepannya.

F terlihat sangat lelah dan kalah, ia sudah tidak sanggup untuk melawan, rasa putus asa dan pukulan yang dilancarkan oleh F telah mengikis bagian terakhir dari semangatnya.

Risk mengenggam kepala F dengan tangan kanannya. Sial! Bergerak! Tubuhku..

"Hukumanmu, akan dijatuhkan."

CRIMSON SKY


CHAPTER IV- SECOND LULLABY

Lantai dua.

Desingan peluru memaksaku meloncat turun, hampir menabrak F pada prosesnya.

Beberapa orang personil CoV sudah menanti kami dengan senjata tertuju kearah mulut tangga. Peluru-peluru memantul didinding dibelakang kami.

"Hei, F, mungkin kau bisa membujuk mereka untuk berhenti menembaki kita." Ujarku pada F yang sedang menunggu gilirannya naik.

"Hei, aku ini mantan tentara, bukan negosiator." Jawab F. Ia menyodorkan dua buah granat padaku.

Aku menerima granat-granat itu dengan lesu.

"Kurasa granat sama sekali bukan gayaku, apa masih ada cara lain?" Tanyaku.

F memandangiku dengan tatapan kesal.

"Kurasa aku tidak punya pilihan lain.." Aku memasukkan salah satu granat kedalam kantong yang ada pada bagian torso HEX, dan menarik pin granat sisanya. Aku melemparkan granat itu keatas.

Sayangnya, sebuah peluru mengenai granat itu dan membuatnya terpental kebawah. Sial.

"Bodoh!" Bentak F. Ia dengan sigap menendang granat itu keluar melalui jendela.

Granat itu meledak diluar, menciptakan gelombang getaran yang membuat kami kehilangan keseimbangan dan melontarkan pecahan kaca dengan kecepatan tinggi, membuatnya menjadi proyektil-proyektil tajam yang mematikan. Badai jarum, groovy.

F dan aku dengan reflek menyilangkan tangan kami didepan kepala untuk melindungi mata kami.

"Argh!" Erangku. Beberapa pecahan kaca menancap pada HEX, lengan dan pahaku, namun tidak sampai menembus.

"Richard! Kau bodoh!" Bentak F. Lagi-lagi, F memanggilku dengan panggilan Romeo..Ada apa gerangan dengan nama itu?

Aku segera membantu F berdiri dan mendudukkannya diatas tangga.

Di saat bersamaan, suara tembakan diatas berhenti, peluru-peluru tidak lagi berpantulan didinding.

"Hei, kau belum mati kan?" Tanyaku.

"Belum, masih belum." Jawabnya. Ia memegangi lengannya yang mengucurkan darah. Pecahan kaca telah menggores dan menyobek tangan dan lengannya.

"Bagaimana lenganmu?"

"Masih bisa digerakkan, tenang saja." Ia meringis menahan rasa sakit yang ada ditangannya. Wajar saja, luka sobek yang ada di telapak tangannya terlihat cukup mengerikan, bahkan aku tidak dapat melihat bagian putih dari telapak tangannya yang berlumuran darah.

"Tunggu disini, berusahalah untuk menghentikan pendarahannya."

"Argh.. Kau mau kemana?"

"Melihat keadaan diatas." Aku menyiagakan SG552.

Dengan hati-hati aku menjulurkan kepalaku, melihat-lihat keadaan dilantai dua.

"Astaga..." Gumamku kaget.

Lorong berlantai abu-abu tempat personil CoV berdiri dan menembaki kami telah berubah menjadi merah darah.

Potongan-potongan tubuh personil CoV berserakan dilantai, tangan, kepala, kaki, torso dan telinga dipotong dengan sayatan yang rapi. Salah satu dari mereka bahkan disangkutkan ke dinding mengunakan sebilah katana yang ditusukkan melalui bagian dada sebelah kirinya.

Seorang perempuan berdiri ditengah-tengah pemandangan yang mengerikan itu. Dengan rambut ekor kudanya yang basah oleh darah, perempuan yang menembakku tadi. Tulisan SWAT putih yang ada pada seragamnya telah berubah warna menjadi merah. Senyuman psikopat masih melekat di bibirnya.

Tangannya kirinya memegang gagang sebuah M1911 berwarna hitam, dan tangan kanannya memegang sebuah pedang yang besar dan kelihatan berat.

Ia berbalik kearahku dan tertawa kecil.

"Ahehehe.. Kau masih hidup? Ah.. Senior memang hebat!" Ujarnya dengan riang. Ia mengarahkan M1911 nya kearahku.

Aku menyandang kembali SG552 milikku dan bersiap untuk menerjang kearahnya .Aku tidak bisa menembak seorang perempuan.

Aku melompat kelantai dua, membiarkan peluru yang ia tembakkan mengenai HEX. Tenaga dorongan dari .45ACP membuatku sedikit terdorong kebelakang, namun hal itu tidak kubiarkan menghentikanku, aku terus menerjang kearahnya tanpa senjata ditangan.

"Ohh.. Senior memang menarik!" Teriaknya penuh semangat. Ia menyimpan M1911 miliknya dan memasang kuda-kuda tusukan. Ia mengangkat pedang besar itu kedepan tubuhnya, dengan ujung pedang yang terarah padaku.

"Kau membuatku bersemangat!" Ia menerjang kedepan, melakukan gerakan menusuk dengan pedang besar itu dengan jarak yang cukup dekat denganku.

Dengan cepat aku mengenggam  bagian rata dari pedangnya, membelokkan arah serangannya agar tidak mengenaiku, menyobek sarung tangan dan telapak tanganku. Darahku ikut membasahi mata pedang tajam itu.

Ia tersenyum lebar saat tatapanku dan tatapannya beradu dalam jarak yang cukup dekat.

Aku mengenggam pergelangan tangannya dengan keras, memaksanya untuk melepaskan pedang besar itu.

"Ahn~ Kau nakal!" Rintihnya. Pedangnya jatuh dan berdenting di lantai.

Aku mengenggam rompinya dan membanting tubuhnya.

Senyuman masih melekat di bibirnya. Ia mencabut M1911 hitam itu dari holsternya, berusaha untuk menembakku dari jarak dekat dengan benda itu.

Aku memelintir tangannya dan merebut pistolnya.

Ia terbaring di atas lantai yang merah oleh darah. Ia tertawa saat aku mundur beberapa langkah dan mengarahkan senjatannya padanya.

"Ah, Senior! Kau memang tahu cara memperlakukan wanita! Ahehe..." Ujarnya. Uh.. Memangnya wanita mau diperlakukan kasar begitu? Dasar perempuan aneh..

"Berhentilah memanggilku senior! Namaku.."

"Richard? Ahehe.. Setidaknya itu yang Ia katakan padamu, benarkan?" Ia duduk memeluk lututnya. Menatap padaku dengan tatapan anak kecil yang melihat sesuatu yang ia suka. Senyumnya berubah, kali ini tidak lagi senyuman psikopat yang ia biasa gunakan, namun senyum kali ini terlihat lebih lembut daripada sebelumnya.

Aku menatap padanya dengan mulut ternganga, tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya.

"K-kau..."

"Vita brevis breviter in brevi finietur, Mors venit velociter quae neminem veretur." Ujarnya. Entah kenapa, aku merasa familiar dengan kata-katanya.

"Ad mortem festinamus peccare desistamus." Bisikku tanpa sadar. M1911 hitam itu hampir saja lepas dari genggamanku.

"Kita.. Semua.. Sama." Ujarnya pelan. Kata-kata yang sama..

"Surga, atau neraka.. Tentukan pilihanmu." Tambahnya.

Dari balik rompinya, ia melemparkan sebuah flashbang.

"Adios."

Dengan reflek aku menutup mataku.

Letupan flashbang yang memekakkan telinga memenuhi ruangan, mungkin F juga mendengarnya.

Saat kubuka mata, ia hilang, meninggalkan sebilah pedang.

"Hei, Richard!" Panggil F yang mendekatiku dari belakang.

Aku berbalik dan melihat wajahnya, ia terlihat sangat kaget.

"Dan ternyata gayamu lebih merepotkan daripada sebuah granat." Ujarnya melihat potongan-potongan tubuh dan darah yang membanjiri lantai.

Aku memasukkan pistol M1911 hitam itu kesebuah holster kosong di bagian dada HEX.

"Bukan aku." Ujarku. Aku meraih SG552 yang ada dipunggungku dan mengecek pengamannya, full auto.

"Lalu siapa?" Tanyanya. Ia mengambil pedang besar yang ada di lantai, mungkin untuk mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang mengerikan di sekitar.

"Entahlah, aku juga tidak tahu.."

"Yah, tidak usah dibahas.. Lagipula aku melihat semuanya kok." Ujar F. Ia mengayun-ayunkan pedang itu di depannya.

"Zweihander, pedang buatan Jerman..." Ujarnya lagi. Matanya terlihat sedikit bersinar melihat pedang itu.

"F, apa kau sudah selesai melihat-lihat? Kita perlu meneruskan pencarian!" Seruku padanya. Ia membalas dengan tertawa kecil dan meletakkan pedang itu kembali kelantai.

"Kali ini, kau duluan.."


- - -


Kami telah menyusuri dan memeriksa beberapa ruangan, namun tidak ada tanda-tanda dari Sofia dan Bianca, yang kami temukan hanyalah personil-personil CoV  yang tidak senang akan kedatangan kami, dan juga beberapa mayat yang tewas karena ditusuk pisau dan diletakkan ditempat yang gelap.

F mulai terlihat putus asa, wajahnya yang tadinya tenang terlihat agak kacau. Ia terlihat membisikkan sesuatu secara berulang-ulang. Ini kali kedua aku membaca gerak bibir seseorang dalam hari ini.

"Tetaplah bertahan, tunggu aku, tetaplah bertahan, tunggu aku, tetaplah bertahan, tunggu aku.." Bisiknya.

Ia menarik nafas panjang, menatap kearahku dengan kesedihan terpancar jelas diwajahnya. "Lantai paling atas." Ujarnya.

Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya menaiki tangga.

Pemandangan yang kami dapati di lantai atas sama sekali tidak mengenakkan, lagi-lagi, potongan tubuh manusia dan mayat bergelimpangan di dalam sebuah ruangan luas.

"Sial..." Gumam F.

Ruangan ini adalah ruangan terakhir yang ada di gedung ini, dan kami masih belum menemukan Sofia dan Bianca... Dan Ralph.

"Argh! Sial! Kalau saja aku lebih cepat!" Bentak F, sepertinya pada dirinya sendiri. Ia menjatuhkan senjatanya dan berlutut di lantai, sepertinya ia mau menangis..

Aku mengalihkan perhatianku pada potongan tubuh manusia yang ada di lantai. Pemiliknya bervariasi... Tapi kurasa mereka bukanlah personil CoV, karena tidak ada potongan rompi anti peluru maupun senjata yang berserakan. Dan kebanyakan dari potongan-potongan kepala yang kulihat adalah milik perempuan..

"Aku.. Minta maaf.." Ujarku pada mereka yang menjadi korban CoV.

Aku duduk di samping F yang duduk dengan tatapan kosong, butiran air mata mengalir pipinya. Aku menarik nafas panjang.

"Hei, Richard." Ujarnya padaku, masih dengan tatapan kosong itu.

"Apa?" Jawabku.

"Aku memang tidak berguna, benar kan?" Tanya F.

Aku hanya diam dan melihatnya, tidak mengatakan apapun. Tanganku menepuk pundaknya dengan lunak.

"Richard?"

"Tidak, F, kita hanya..Belum menemukan mereka.. Itu saja.."

"Apa yang harus kukatakan pada Ibu? Dia.. Dia pasti akan marah... Lagi.." Ujarnya dengan suara yang bergetar.

Lagi? Apa maksudnya?

"Mungkin Ralph sudah membawa mereka keluar.. Bukankah Bice dengan Sheeva telah mengeliminasi penjaga yang ada dibawah?"

Wajah F terlihat sedikit lebih cerah setelah aku mengatakan itu. "Kau.. Kau benar..."

"Ayo kita lihat keluar.."

Suara dentuman dan getaran yang keras mengagetkan kami. Suara itu berasal dari lantai di bawah kami.

"Apa-apaan?" Ujarku.

F menyiagakan senjatanya dan bergerak menjauh dari sumber getaran.

"Ini tidak terlihat bagus..." Ujarku.

Benar saja, sesosok tubuh menembus lantai tembok itu, terlempar di atas kami sebelum akhirnya jatuh terjerembab di lantai.

Tubuhnya terbujur kaku, tidak bergerak dilantai, aku tidak tahu apa dia masih hidup ataupun sudah mati. Wajahnya terlihat sangatlah familiar.. Ia memakai pakaian yang hampir sama dengan F.

Aku tertegun, menyadari siapa yang barusan melubangi lantai dengan tubuhnya sendiri.

"RALPH!"

CRIMSON SKY

CHAPTER III - FIRST LULLABY


Berada di atas atap pada malam hari membuat bulu kudukku merinding, dilanda ketakutan jika suatu saat bagian-bagian dari langit itu runtuh dan menimpaku. Sebuah gedung segi empat dengan jendela kaca yang ada diatapnya, yep, disanalah kami berada saat ini.

Tarikan nafas F yang teratur memecah suasana malam yang sunyi. Aku yang bertubuh kecil ini hanya bersembunyi dibalik punggungnya yang lebar.

"Yo, Richard, kau siap?" Ujarnya sambil mengikat tali kesebuah cerobong asap, tali itu akan kami gunakan untuk melompat kebawah. F membuka kaca jendela itu dengan hati-hati, berusaha agar suara yang ditimbulkannya tidak membangunkan siapapun yang ada didalam.
Di atas sebuah gedung yang berada dikejauhan kulihat Beatrice dengan SSG-69 kesayangannya mengawasi kami berdua. Namun aku tidak dapat melihat Sheeva, maupun Ralph. Mungkin Ralph sedang berada didalam mengawasi Sofia dan Bianca.

Aku menaikkan pengaman senjataku, dan menggantungkannya dibelakang punggungku.

"Apa kau selalu terlihat setenang ini?" Tanyaku pada F. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak mencerminkan kegelisahan, yang wajar dialami oleh seseorang dalam situasi ini, yah.. F memang bukan orang yang biasa.

"Ya." Ujarnya pendek, ia melemparkan tali itu kedalam jendela, menimpa sebuah kotak kardus besar, yang cukup luas untuk menyimpan lima orang manusia didalamnya. Didalam ruangan itu terdapat banyaaaaaaaaak sekali kardus.

Ia menyodorkan tali itu padaku, dengan wajah tenang yang membuatku merasa takut kalau berada didekatnya.

Aku menerima tali itu dengan tangan kananku. Tali itu merupakan sebuah tali, tali berwarna hitam terbuat dari bahan yang sama sekali tidak kuketahui, mungkin dari benang ataupun plastik, tali itu cukup kuat untuk menahan berat tubuh manusia normal, namun... Aku tidak yakin apa cerobong asap itu bisa menahan kami.

"Setelah kupikir-pikir... Sebaiknya kau duluan.." Ujarku dan kusodorkan tali itu padanya.

Dia menatapku aneh dan mengambil tali itu dari tanganku. Dengan sigap ia menggunakan tali itu untuk meluncur kebawah. Dalam hitungan detik ia sudah menginjak kardus itu dan amblas kedalamnya. Ternyata kardus itu memiliki kedalaman yang cukup untuk membuat manusia tenggelam didalamnya.

"Ah, sial.." Kudengar suara F dengan samar.

Sebuah mata pisau menembus dinding kardus itu dari dalam, menoreh dan memotong dinding kardus itu, membuat sebuah lubang yang cukup besar untuk dilalui oleh manusia.

F keluar dari lubang itu, dan dia memasukkan kebali pisaunya kedalam holster yang terdapat didepan vest miliknya. Dengan sigap ia menyiagakan MP7-nya, membidik ke lorong dimana orang-orang bisa kapan saja muncul.

Aku mengenggam erat tali itu dan melompat turun, dengan agak takut, tidak seperti F, aku turun terlalu lama. Dan sialnya, cerobong itu tidak mampu menahanku. Aku terjatuh dengan pantat duluan kedalam kardus yang cukup empuk, namun menimbulkan suara yang cukup keras.

"Ay, bokongku!" Ujarku. Aku berdiri sambil meraba-raba bagian belakangku dan menyiagakan senjataku. Aku keluar melalui lubang yang dibuat oleh F, namun F kembali mendorongku masuk bersamanya.

Ia mengambil potongan kardus itu dan menutup lubang yang ia buat.

Aku berdiri disamping kirinya.

"Sst, diam." Ujarnya pendek.

Tak lama kemudian, kudengar langkah kaki manusia, kira-kira dua orang. Langkah kaki itu terdengar jelas didepan kardus kami.

"Apa kau melihat sesuatu?" Tanya salah seorang dari mereka, mungkin pada temannya.

"Tidak, tidak ada apa-apa disini." Jawab temannya.

Aku mengintip dari sela-sela kardus yang dipegang oleh F. Kulihat dua orang itu berdiri tepat didepan kami, mereka berdua bersenjatakan AK-200 dan memakai set CIRAS, kurasa Children of Violence bukan kelompok radikal biasa.

Pencahayaan didalam ruangan yang cukup gelap membuat mereka tidak menyadari kalau kotak kardus ini sudah terpotong. Namun, apabila mereka melihat atap yang terbuka dan tali yang tergantung itu... Kurasa mereka akan segera menyadari kalau.

"Hei, lihat diatas."

Sial.

F melemparkan potongan kardus yang ia pegang kesamping, segera menangkap dan melubangi batok kepada seorang personil itu dengan pisaunya.

Yang seorang lagi terkejut dan mengarahkan senjatanya pada F, namun, gerakanku terlalu cepat untuknya. Aku mengenggam barel senjatanya dan mengarahkannya keatas, dan menghantam pria itu tepat diwajah. Pria itu pingsan dan terkapar dilantai.

"Segera bunuh dia dan kita pergi dari sini." Ujar F. Dia menyeret mayat pengikut yang ia bunuh kedalam kotak kardus tempat kami bersembunyi tadi.

"Hei, dia sudah pingsan, itu sudah cukup kan?" Jawabku.

"Tidak, pingsan belum cukup, ini bukan video game. Bereskan." Ujar F yang melemparkan pisaunya padaku.

Aku menangkap pisau itu dengan tangan gemetaran, aku tidak pernah membunuh orang dalam jarak dekat sebelumnya.

"Lakukan, cepat."

Aku memalingkan wajahku, dan menginjak wajah pria itu dengan keras.. Suara tulang leher yang patah dapat kudengar dengan jelas.

"Maaf kawan, maaf."

F hanya menatapku aneh saat kuserahkan pisau itu padanya. Ia mengelap darah yang menempel pada pisaunya menggunakan pakaian mayat yang tergeletak didepannya.

""A-ayo.." Ujarku tergagap dan menahan rasa mual. Darah tergenang di lantai kardus besar itu.

F segera menutup lubang itu dan menunjuk kearah sebuah pintu yang ada di ujung ruangan ini. Gedung ini terbagi menjadi dua bagian, gudang dan kantor.

"Kita akan kesana, mungkin Sofia dan Bianca ada disana."

Tumpukan-tumpukan kardus membentuk labirin yang sangat rapuh, sedikit pukulan maka kardus-kardus itu akan berjatuhan dan membuat lautan kardus didalam ruangan luas ini. Untung saja aku tidak fobia terhadap kardus..

F berhenti secara tiba-tiba, membuatku hampir saja menabraknya.

"Ada sesuatu didepan, tunggu disini." Ujarnya dengan suara pelan. Ia mengendap-endap dibalik tumpukan kardus, mengintip ke arah sebuah sumber cahaya.

Cahaya terang berpendar-pendar dibalik tumpukan kardus, dari tengah ruangan. Aku juga ikut mengintip dari sela-sela tumpukan kardus.

Dua orang pria membelakangi kami, mereka sedang menghangatkan diri didepan sebuah drum yang berisi benda-benda terbakar.

"Kupikir apimu sama sekali tidak aman.." Ujar salah seorang dari mereka. Ia menghisap rokok dan menghembuskan asap tebal.

"Hah, aku adalah ahli dalam membuat api unggun, dan jarak antara drum ini dengan kardus-kardus itu juga cukup jauh." Jawab temannya. Ia melemparkan potongan-potongan kertas ke dalam drum agar apinya tetap menyala.

"Rasanya cukup disayangkan, dia terbakar begitu saja didalam tong ini." Si perokok melemparkan puntung rokoknya kedalam drum, dan kembali mengambil sebatang rokok lagi dari dalam sakunya.

"Yah, kau sudah selesai dengannya, kan? Lagi pula dia sudah rusak dan terlalu kecil untuk ukuranmu." Si ahli menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, berusaha untuk melawan dingin.

"Ya, tapi tetap saja kan?"

F mengangkat MP7 miliknya, membidikkan senjata itu dengan tenang pada pria yang berada disebelah kanan.

"Ambil yang kiri." Ujarnya.

Aku mengarahkan senjataku ke seorang lainnya. Namun, sesuatu yang ada didalam drum itu menarik perhatianku. Sepotong tangan perempuan kecil, ditengah kobaran api. Bianca!

Amarah mulai menguasaiku, bayangan Bianca muncul dibenakku.

F berusaha untuk menahanku, namun ia tidak bisa. Aku menyerbu dengan marah, menendang kepala si perokok dan menjatuhkan si ahli kelantai, lututku menahan lehernya, menguncinya dilantai. Aku mengarahkan M1911 kekepalanya.

"Hei! Bangsat! Lepaskan!" Orang itu meronta-ronta berusaha untuk lepas.

F dengan tenang mengeksekusi si perokok dengan satu peluru ditengkorak. Wajahnya masih terlihat tenang, berbeda denganku, yah.. Dengan helm seperti ini mungkin agak sulit untuk melihat ekspresi wajahku saat ini.

"Apa kalian dari DPD?!" Tanya si ahli.

"Kau.." Aku menarik trigger.

M1911 menyalak dan membuat lubang dikepala si ahli, darah muncrat dimana-mana.

F menarikku berdiri dan memukul helmku dengan sikunya. "Tenanglah! Tenang!" Ujarnya.

"Dia membunuh Bianca!" Bentakku. Kutunjuk kearah drum, namun, tangan itu sudah hilang dimakan api.

"Hei, dalam perang, setiap kemungkinan itu ada, dan kita tidak boleh buta dengan apa yang terlihat didepan mata! Yang mereka bakar itu hanyalah sebuah love doll!"

Perkataannya membuatku terdiam, memang, kemungkinan itu memang ada, dan seharusnya aku berfikiran optimis tentang Sofia dan Bianca, tidak mungkin Ralph yang mengikuti mereka membiarkan mereka tewas begitu saja.. Namun.. Satu hal yang mengganjar pikiranku, dimana Ralph?

Jendela yang berada di atas pintu tujuan kami terbuka, seorang pria yang kelihatannya sama sekali tidak ramah mengarahkan AK-74-nya ke arah kami.

"MATI KALIAAAAN!!" Teriaknya. Rentetan tembakan mulai terdengar.

F menghindar dengan lompatan cantik kebelakang, dan ia masih sempat mengarahkan MP7-nya untuk tembakan balasan. Rentetan halus MP7 menambah bisingnya ruangan ini.

Aku, sama sekali tidak sempat menghindar, empat atau enam peluru mengenai armorku, memang tidak tembus, namun masih cukup sakit, HEX memang menyerap kekuatan tumbukan dan menyebarkannya ke seluruh bagian dari armor, tapi, yah.. Energi yang berlebihan memang tidak sehat.

9 buah peluru 4.6 menembus tubuh pria yang menembaki kami, menjatuhkannya, aku tidak tahu apa dia tewas atau masih hidup.

"Richard, bagaimana keadaanmu?" Tanya F, masih mengarahkan senjatanya ke jendela itu.

"Urgh." Ujarku pendek.

"Baguslah, tandanya kau masih hidup."

F mengambil posisi disamping pintu itu, begitu juga aku.

"Kau yang masuk duluan." Perintahnya.

"Kenapa?"

"Karena kau yang punya armor." Jawabnya, pendek, datar dan tanpa emosi.

Aku hanya menghembuskan nafas panjang, dengan malas kupegang gagang pintu, kudorong secara perlahan. Didalam tidak ada apa-apa, hanya ruangan gelap dengan sebuah tangga untuk menuju keatas. Aku membuka pintu itu sepenuhnya.

"Aman, ayo." Ujarku pada F, dengan SG552 yang terus siaga didepanku.

Aku melangkahkan kakiku kedalam ruangan gelap itu, dengan tidak hati-hati.

Sebuah bayangan muncul didepanku, tepat didepanku, ia berguling dan berlutut tepat didepanku. Ia mengangkat sebuah SM203 dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengenggam barel SG552 milikku. Senyumannya memancarkan aura psikopat yang sangat kental, namun sangatlah familiar.

Aku tertegun untuk beberapa saat, berusaha mengingat-ingat siapakah perempuan yang ada didepanku ini. Dia kelihatan seumuran denganku, dengan rambut ekor kuda berwarna hitam.

Moncong SM203-nya memukul dadaku, membuatku sedikit terdorong kebelakang.

"Terbanglah, kakak. Ehehe." Ujarnya, diiringi dengan tawa yang keras.

Disaat terakhir, barulah aku sadar apa yang akan terjadi, dia akan menembakku dengan peluncur granat pada jarak dekat. Sial.

Tangannya yang dibungkus oleh sarung tangan tanpa jari menarik trigger.

Proyektil granat 40mm menghantam dadaku, membawaku terbang beberapa meter keatas lantai tembok yang keras. Proyektil itu sama sekali tidak meledak, entah itu karena pengamannya atau dia menggunakan peluru slug 40mm.

Pandanganku kabur, nafasku sesak, kurasa aku mematahkan beberapa tulang rusukku.

Tiba-tiba, semuanya menjadi putih, hanya putih, dan sesosok bayangan perempuan tanpa tangan kanan berada di antara keputihan itu. Sesosok bayangan itu berada tepat diatasku, menatapku lekat. Ia memiliki wajah yang sama dengan perempuan yang menembakku tadi, hanya saja.. Senyumannya memancarkan kelembutan dan membawa kenyamanan kepada siapapun yang melihatnya.

Ia menatapku, dan akupun menatapnya. Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak terdengar sepatah katapun darinya.

Aku mengikuti gerakan bibirnya.

"Hale.. Hale.. Hale.." Ujarnya berulang-ulang.

Tangan kanannya yang dibalut kain meneteskan darah segar.

"Romeo! Romeo!" Kudengar suara F, memanggil-manggil seseorang, namun, disaat bersamaan, kurasakan kalau tubuhku digoncang-goncang oleh seseorang.

"Mari.. Berjumpa.." Ujar perempuan itu.

"Kita.. Semua.. Sama."

Semuanya berganti lagi, menjadi ruangan gelap dengan pencahayaan remang-remang, aku telah kembali.

Wajah F terlihat sangat cemas saat kulihat wajahnya didepan mataku, dia menepuk-nepuk helmku, berusaha untuk membangunkanku.

"Aku tak apa.." Ujarku.

Sebuah proyektil granat 40mm menancap di HEX milikku, proyektil itu memang proyektil granat, bukan slug ataupun buck.

Siapakah mereka?


CRIMSON SKY

CHAPTER II - Children of Violence


Aku terbangun disebuah ruangan sempit dengan pencahayaan yang redup, hanya ada lampu kecil yang terletak disudut ruangan. Kepalaku terasa agak sakit.

Aku duduk dan memeriksa tubuhku sendiri. Pakaianku telah diganti oleh seseorang dengan sebuah t-shirt dan celana militer bercorak urban.

 "Sudah bangun?" Tanya seorang perempuan yang sangat kukenal, namanya Beatrice Castillo, partnerku. Beatrice duduk dilantai dan bersandar didinding. Dia masih mengenakan armor HEX, Hostile Environtment Exoskeleton. sebuah powered armor yang dapat meredam pukulan dengan cara menyebarkan dampak tekanan ke seluruh permukaannya. Ia sedang mengasah pisauku menggunakan tongkat besi miliknya. Disampingnya terdapat SSG-69 miliknya yang tersandar di dinding, kain yang ia gunakan untuk membungkus senapannya terlipat rapi di atas meja kecil di sudut ruangan, kurasa ia baru saja membersihkan senjatanya.

"Hei, kraken itu tidak membenturkan kepalamu terlalu keras kan?" Tambahnya. Mata coklatnya menatapku penuh tanya. Helm miliknya tergeletak disamoing SSG miliknya bersama.. oh tidak.. C2AR milikku yang sudah bengkok di bagian receivernya.

CHAPTER I - Richard

Jari-jarinya yang berlumuran darah menggenggam erat gagang pisaunya yang sudah tumpul. Bukan karena dia tidak mengasah pisaunya, namun lawan yang ia hadapi mememiliki tulang yang sangat keras.

Ia berlari diantara gang-gang gedung yang sudah ditinggalkan di Outer Vegas, bagian dari kota Vegas yang tidak tertutupi oleh perlindungan 'Dome', sebuah kubah yang dibuat untuk menahan radiasi.

Makhluk yang mengejarnya melompat diantara gedung-gedung, memburu tanpa ampun. Tentakel-tentakel yang tumbuh dipunggungnya membantunya melompati gedung-gedung, menancapkan tulang-tulang tajam itu ke dinding beton.

Pria itu terus berlari, memegangi lengannya yang terluka. Helm HEX miliknya retak karena pukulan makhluk yang mengejarnya.

"Kraken." Gumamnya di sela-sela nafasnya yang memburu.

Ia telah kehilangan C2AR miliknya karena serangan mendadak makhluk yang dipanggil kraken tersebut, dan Colt M1911 longslide yang ia simpan dalam holster pahanya telah kosong dari peluru.

Rasa nyeri yang ada di lengannya hampir saja membuatnya kehilangan kesadaran, ia tidak dapat fokus terhadap arah tujuannya.

Berkali-kali ia menabrak sesuatu yang ada dijalan itu, tong sampah, bangkai mobil bahkan tembok. Pengejarnya nampaknya ingin bermain-main terlebih dahulu dengan mangsanya.

Kraken itu mengeluarkan suara teriakan yang mengerikan. Ia melompat tinggi diudara, dan mendarat diatap sebuah gedung, menghilang dari pandangan.

Pria itu merasa sedikit lega, namun ia sama sekali tidak memperlambat larinya.

"Bice, dimana kau?" Ujarnya cemas.

Ia terjatuh, terguling di atas aspal, kakinya sudah tidak mampu untuk digerakkan. Pisaunya terlempar beberapa meter darinya.

Ia terbaring disana untuk beberapas saat, memandangi langit malam, berusaha untuk mengumpulkan tenaga untuk bangkit. Hari ini adalah hari yang sial baginya. Ia terpisah dari partnernya dan kehilangan C2AR kesayangannya. Helm HEX miliknya retak karena pukulan kraken yang muncul secara tiba-tiba, tentakel tajam menusuk lengan kirinya, mengambil sepotong daging dari lengannya. Ia telah berjalam beberapa kilometer, dan ditambah dengan kejaran kraken selama sepuluh menit sudah cukup untuk menghabiskan staminanya.

Untuk sesaat, ia merasa sangat tenang dan nyaman berbaring diatas aspal, dari visornya yang retak, ia dapat melihat bulan purnama yang bersinar diatasnya.

Suara teriakan panjang yang mengerikan terdengar di kejauhan, suara itu semakin mendekatinya.

Pria itu sudah lelah, ia tidak dapatmenggerakkan tubuhnya dengan bebas lagi, pandangannya kabur, kesadarannya hampir hilang. Ia merangkak dengan putus asa menuju pisaunya yang terletak beberapa meter darinya.

"Bice.." Ujarnya menyebut nama partnernya.

Tinggal beberapa sentimeter lagi.

Ia berusaha untuk menggapai pisau itu, namun, saat jarinya menyentuh gagang pisau itu, tidak dapat bergerak lagi, ia masih sadar, tubuhnya telah mengkhianatinya.

Suara teriakan itu sudah berada tepat dibelakangnya.

Ia merasakan lilitan tentakel yang basah dan keras yang menggengam erat kakinya. Menariknya jauh dari pisaunya. Ia diseret dengan kasar diatas aspal, Jejak darahnya yang merah berceceran di aspal.

Kraken itu melempar tubuhnya dengan kasar. Makhluk itu mengeluarkan teriakan lagi.

Pria malang itu menghantam tembok dengan keras, ia merasa beberapa tulangnya patah. Ia tertelungkup di atas lantai semen yang keras. Ia tidak dapat bergerak, namun ia masih sadar, visor helmnya pecah, memperlihatkan sorot matanya yang lemah.

Ia tersandar di dinding. Mungkin ini saatnya, pikirnya, ia telah menerima kematiannya, namun ia tidak memejamkan matanya seperti para pengecut, ia ingin mati sebagai laki-laki. Ia menatap dalam-dalam kraken yang melangkah kearahnya.

Kraken itu adalah manusia, lebih tepatnya dulunya manusia. Dengan mata hitam yang besar, mulut dengan gigi-gigi yang bergerigi dan tajam, dan juga jari-jari tangan dan kakinya yang memanjang dengan kuku yang tajam membuatnya tampak menakutkan. Tentakel-tentakel tumbuh seperti tumor dibalik punggungnya, tumbuh dari sistem saraf yang ada ditulang punggungnya.

Tentakel-tentakel tajam itu melayang di udara, ujung-ujung tajam tentakel itu mengarah kearahnya, siap menikamnya kapan saja.

Dikejauhan, dilantai tiga sebuah gedung, sesosok bayangan memperhatikan gerak-gerik kraken tersebut. bayangan itu menggenggam handguard senjatanya, sebuah sniper rifle kaliber 7.62 yang dibuat oleh perusahaan Steyr sebelum perang dunia ketiga, SSG-69. Rifle itu dibalut dengan kain secara kasar untuk menyembunyikannya dari penglihatan di kawasan gurun yang tandus. Bayangan itu menarik bolt dengan hati-hati, memasukkan sebuah peluru kedalam chamber.Jari telunjuknya meraba trigger dengan halus.

Kraken itu berteriak lagi, ia merasa telah mendapatkan makan malam yang sangat enak untuk malam ini. Ia tidak pernah melihat apa yang datang untuknya, sebuah peluru 7.62 menembus tengkoraknya, membuyarkan partikel otaknya kepada pria malang yang kini telah bersimbah darahnya.

Tubuh kraken itu jatuh diatas aspal yang keras, ia terkapar diatas genangan darahnya sendiri. Tentakel-tentakel tajam itu sempat bergerak-gerak untuk beberapa saat, sebelum akhirnya diam.

Sosok bayangan itu tersenyum dalam kegelapan, ia kembali menyandang rifle miliknya, dan melompat turun dari gedung berlantai tiga tersebut.

Pria yang tersandar itu menghela nafas lega, dengan pandangannya yang kabur, ia memperhatikan sosok bayangan yang mendekatinya dari arah depan, menginjak mayat kraken yang tewas didepannya.

Sosok bayangan itu mengenakan pakaian yang sama dengannya, sebuah armor HEX berwarna putih, menandakan bahwa ia juga adalah personil Scavenge, Defend and Retaliate dari Gap.

Pria itu menyunggingkan senyuman lega dari balik helmnya yang pecah. Ia tahu, bahwa sosok bayangan itu adalah partnernya sendiri. "Bice.." Ujarnya lemah.

"Tidak cukup kuat untuk pergi sendiri, Richard?" Ujar wanita itu. Ia berlutut disamping pria yang dipanggil Richard itu dan melepaskan helm yang pecah itu.

"Aku tidak pernah mau ditinggal sendiri, bukannya aku pernah bilang begitu?" Balasnya.

Wanita itu menggantungkan helm milik Richard di kait yang ada di pinggangnya.

"Aku akan membawamu masuk kedalam kubah sebelum pagi tiba, bertahanlah." Wanita itu memegang lengan Richard.

"Maaf merepotkanmu, Beatrice." Ujar Richard sebelum ia kehilangan kesadaran.

Wanita itu hanya menggeleng dan membelai rambut partnernya yang pingsan itu.

"Kau memang tidak diciptakan untuk pertarungan infantri." Ujarnya.


CRIMSON SKY

PROLOGUE - CHILDREN

Dokter Jacob Imran mendapati seorang gadis kecil yang kehilangan tangan kanannya dimalam yang mencekam ditengah padang pasir yang sunyi.Sekarat, namun masih hidup. Ia juga mencium aroma darah yang amis yang telah melekat erat dalam pikirannya. Dokter tua itu telah terlalu sering mencium bau darah.

Didekat gadis kecil itu, duduklah seorang anak lelaki  dengan tatapan mata yang kosong.Ditangannya ada sebuah pistol yang telah berumur lebih dari tiga puluh tahun, yaitu P228, pistol yang dibuat sebelum perang dunia ketiga dimulai.

Disekitar mereka, tergeletak beberapa mayat manusia yang telah bermutasi menjadi makhluk yang haus darah, dengan nafsu membunuh yang kuat dan kekejaman yang tiada batas. Kraken.

Dokter Imran berlutut disamping gadis kecil itu.Ia merobek ujung dari jubahnya dan mengikatkan secarik kain itu ketangan gadis kecil itu. Ia mengangkat tubuh gadis kecil itu dan menahan kepala gadis itu dengan tangan kirinya.

"Tidak mungkin." Gumamnya pelan.

"Kalian mengalahkan mereka semua?" Tanyanya.

Anak lelaki itu mengangguk pelan, ia terlalu takut untuk bicara.

"Vita brevis breviter in brevi finietur,Omnia mors perimit et nulli miseretur. ( Life is short, and shortly it will end, Death comes quickly and respects no one) " Gumam anak itu berulang-ulang.

Dokter Imran mengernyitkan dahi, berusaha untuk memahami ucapan anak itu, namun ia sama sekali tidak mengerti.

Bau darah yang amis itu juga mengundang beberapa ekor serigala yang kelaparan yang muncul dari kegelapan yang kelam dan mengepung mereka bertiga dari segala arah, tidak menyediakan celah untuk mereka untuk melarikan diri.

Dokter Imran hanya pasrah akan nasibnya, ia tahu bahwa ia tidak mungkin lolos dari serigala-serigala itu. Meskipun C2AR-SPW tersandang dipunggungnya, ia tidak dapat melindungi mereka bertiga.

"Ad mortem festinamus peccare desistamus. (To death we are hastening, let us refrain from sinning)" Ujar anak lelaki itu dengan jelas.Dia berdiri tegak didepan Dokter Imran dan gadis kecil itu, ditangan kanannya ia menggengam pistol P228, dan ditangan kirinya ia menggenggam sebuah bayonet yang berlumuran darah.

Seekor serigala mengeluarkan lolongan panjang, memberikan kode kepada serigala-serigala yang lain untuk menyerang.

"Ad mortem festinamus peccare desistamus. (To death we are hastening, let us refrain from sinning)"

Dokter Imran menutup matanya dan memeluk gadis kecil itu dengan erat, ia menginginkan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan.

"Intrare non poteris regnum Dei beatus. (You will not be able to enter, blessed, the Kingdom of God)" Gumam anak lelaki itu pelan.

CRIMSON SKY