"Ralph? Hei! HEI! RALPH?" Bentak F. Ia menampar-nampar wajah Ralph dengan keras, berusaha untuk membangunkan pria berumur 54 tahun itu.
Ralph tidak merespon apapun, ia hanya terbujur disana, tidak bergerak. Jejak darah mengucur dari atas kepalanya. Kemeja dan rompi anti pelurunya telah berubah warna. Warna merah tua yang sangat khas.
Aku menghampiri bekas lubang yang ia buat, membidikkan senjataku kebawah, menunggu siapapun yang melempar Ralph untuk muncul. Namun, tidak ada apapun.
"F?" Panggilku.
"Aku tidak bisa merasakan detak jantungnya!" Teriak F. Ia meletakkan tangannya di atas dada Ralph, dan menekan-nekan jantungnya, berusaha untuk membangkitkan kerja jantungnya kembali.
Di bawah, hanya ada lantai yang dipenuhi oleh lubang peluru dan jejak kaki yang terkena darah. Menuju ke arah tangga.
Aku segera mengalihkan bidikanku ke arah kami masuk, dengan perasaan yang -, menunggu siapapun yang akan masuk. Dengan perlahan kuhampiri F.
F masih melakukan CPR untuk membangunkan Ralph, namun, belum ada tanda-tanda kalau Ralph akan bangun.
"Sial Ralph! Dimana Sofia?! Dimana mereka berdua?!" Teriak F pada Ralph yang entah masih hidup atau sudah mati. F mencengkeram leher Ralph dan menamparnya dengan panik.
Namun, Ralph lagi-lagi tidak bereaksi, hanya mata terpejam dan tubuh yang tergeletak lunglai oleh tenaga F yang menamparnya dengan keras. Dari bibirnya kulihat tetesan darah segar, kupikir organ dalamnya juga terluka.
Aku menepuk pundak F dengan tangan kiriku selagi tangan kananku mengarahkan senjata ke arah pintu untuk masuk ke ruangan luas ini.
F meletakkan kembali tubuh Ralph ke lantai. dengan wajah kecewa, sedih dan marah bercampur menjadi satu, ia terdiam dan mengenggam MP7nya dengan erat.
"Children of Violence... Kalian akan kuhancurkan!" Teriaknya.
Kuperhatikan sekitarku, dinding ruangan ini sebagian terdiri dari kaca, yang sebagian sudah pecah, membiarkan cahaya bulan yang samar masuk kedalam. Ah, aku ingin keluar.. Melihat cahaya bulan tanpa penyaring yang ada di atas kubah akan lebih menyenangkan.
F berdiri, aura kemarahan dapat kurasakan dengan jelas. Ia terlihat sangat mengerikan. Ia melepaskan magasen yang ada di MP7 miliknya dan menggantinya dengan magasen baru.
"Ayo, Richard, mari berburu CoV yang tersisa." Ujarnya dengan nada yang bergetar. Ia siap untuk membalaskan dendam Ralph, Sofia dan Bianca.
"Kita tidak bisa meninggalkan Ralph begitu saja di sini, kita harus membawanya untuk penguburan yang layak." Ujarku, melihat tubuh Ralph yang tergeletak begitu saja di atas genangan darah dan potongan tubuh manusia lainnya.
"Wow, ruangan ini.. Orang seperti apa yang tega melakukan semua ini?" Tambahku. Aku menyeret tubuh Ralph dengan satu tangan sementara tangan yang lainnya memegang pistol M1911 perak.
Suara rentetan halus dari MP7 mengagetkanku, F melepaskan tembakan ke arah sebuah bayangan yang muncul di pintu masuk. Dentingan terdengar dengan samar, karena darah yang ada menghalangi jatuhnya selonsong itu ke lantai.
Tidak ada reaksi apapun. Bayangan yang menaiki tangga itu tidak bereaksi apapun.
F melepaskan magasen dari MP7 dan mengambil sebuah magasen baru yang ada di rompinya dalam waktu yang hampir bersamaan, ia memasukkan magasen baru sebelum magasen yang kosong menyentuh lantai. Man, that was fast!
"Hehe.." Terdengar tawa dari arah bayangan itu. Perlahan, bayangan itu mendekat, menuju ke tempat yang terkena cahaya rembulan, menunjukkan wujudnya. Tangan kanannya terangkat kedepan, menutupi sebagian dari wajahnya.
Di depannya, dua puluh butir peluru mengambang di udara, seperti tertahan oleh semacam kekuatan yang tidak terlihat.
"Kalian telah membantai sebagian besar dari pengikutku... Apa kalian tidak tahu berapa lama aku mengumpulkan mereka?" Ujarnya. Ia menggerakkan tangannya kesamping, menunjukkan wajahnya pada kami, dan peluru-peluru itu mengikuti gerak tangannya.
Orang itu, seorang lelaki yang kira-kira sedikit lebih tua daripada aku, memakai pakaian pendeta gereja yang berwarna hitam, kalung salib perak tergantung dilehernya, dan tangan kirinya membawa sebuah buku berwarna hitam. Rambutnya tersisir kesamping dengan rapi. Sebuah sarung tangan berwarna putih dengan kabel-kabel yang berpendar terpasang di tangan kanannya.
Aku menyeret tubuh Ralph kesudut ruangan, untuk berjaga-jaga agar tubuhnya tidak terkena luka apapun lagi, karena kupikir luka yang ada di tubuhnya sudah cukup parah.
"Memang aku peduli, bajingan. Lagipula, siapa kau?" Maki F. Senjatanya masih tertuju ke arah orang itu.
"Aku peduli." Jawab orang itu dengan nada datar, sepertinya ia tidak senang dengan sikap F. Ia kembali mengangkat tangannya kearah depan, membawa peluru-peluru itu untuk membelakangi F.
Jarak mereka hanya sekita sepulur meter.
Aku, entah kenapa merasa familiar dengan keadaan ini, seperti aku pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, dan entah kenapa, aku memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi.
"Dan aku tidak, terima kasih. Lagipula... Mengapa kau bisa melakukan itu?" Tanya F.
"Yah, kau tahu, mukjizat. Dan apa kau tidak kaget?"
"Tidak, kurasa aku terlalu sering membaca buku.. Bukan kebiasaan buruk, kurasa." Ujar F. Ia berjalan dengan perlahan kesamping, menjauhi aku dan Ralph.
"Dan kurasa kau sudah tahu apa yang akan kulakukan, benar kan?" Ejek orang itu. Tangannya mengikuti arah gerakan F.
Aku benar-benar memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa kau mau menjadi target latihanku, hmm?" Tanya orang itu dengan riang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, kau ini siapa?" Tanya F balik.
"Kau tidak tahu? Astaga... Aku adalah pemimpin dari Children of Violence, Risk."
Mendengar nama itu, F kembali mengenggam trigger senjatanya dengan erat, memuntahkan dua puluh peluru ke pria itu, namun.. Peluru-peluru itu hanya melambat sebelum akhirnya berhenti.
"Ah.. Apa kau terlalu putus asa?" Ejek orang itu lagi.
"Tidak. Tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?" Jawab F dengan nada marah.
Aku mengangkat SG552 milikku dan mengarahkannya ke orang itu.
"Ah... Orang aneh berarmor putih dengan sedikit warna merah yang tidak dikenal yang tidak kompeten dan mungkin menderita impotensi..." Ejeknya padaku, dengan senyuman yang terlihat menyebalkan..
"Hei! Aku tidak impoten!" Teriakku padanya.
F memandangiku dengan tatapan aneh dan sedikit heran. "Richard... Apa kau harus menjawab ejekannya?"
"Aku hanya membela diri!"
"Tetap saja, pertanyaan seperti itu tidak usah dijawab!"
"Lalu? Apa aku akan membiarkannya mengejekku?"
"Tidak.. Tapi kenapa hanya ejekan yang terakhir kau jawab?"
"Uh, kau tahu... Harga diri lelaki." Ujarku dengan pelan.
"Memangnya harga diri lelaki ada disana?" F lagi-lagi mengeluarkan ekspresi anehnya.
Orang itu membaca buku hitamnya selagi kami beradu mulut, nampaknya ia tidak terintimidasi dengan dua buah senjata yang tertuju padanya.
"Uh, F, kurasa sebaiknya kau tidak bertengkar denganku.. Dan.. Nampaknya suasana hatimu berubah dengan cepat." Ujarku pada F.
"Kau pikir aku sedang apa, ha?"
"Oh, kalian sudah selesai? Maafkan aku, tapi buku ini lebih menarik daripada percakapan kalian berdua." Ujar orang itu. Ia menutup buku hitamnya dan kembali membawanya kesamping.
"Ah, sampai dimana tadi? Maaf, aku lupa." Ujarnya lagi. Ia mengarahkan tangan kanannya kearahku dan menjentikkan jarinya. Apa yang terjadi selanjutnya sesuai dengan firasat burukku.
Peluru-peluru itu melesat dengan cepat, cukup untuk melukai tubuh manusia.Dan sayangnya tubuh itu adalah tubuhku.
Tenaga dorongan peluru-peluru itu mendorongku terduduk disamping tubuh Ralph, tubuhku tidak dapat kugerakkan, rasa sakit yang ditimbulkan oleh lubang-lubang kecil di bagian tubuh yang tidak tertutupi oleh HEX terlalu sakit untuk ditahan.
F kembali memuntahkan peluru kearah pria itu, namun, sebagian besar peluru hanya berhenti didepannya.
"For God so loved the world, that he gave his one and only son. That who ever believes in him shall not perish, but have eternal life." Ujar pria itu saat F menembakinya.
Sial.. Kalau saja aku dapat bergerak.. Kalau saja aku dapat meraih M1911 dan menembak pria itu saat punggungnya terarah padaku seperti sekarang..
MP7 milik F hanya mengeluarkan bunyi klik.
"Sial." Ujar F.
"Sepertinya tuhan berpihak padaku, hmm?"
F melemparkan MP7nya kelantai dan mengambil sebuah pisau dari holster dibalik kaki celananya.
"Jika aku punya tuhan, tentu." Ujar F. Ia memasang kuda-kuda dan tidak melepaskan pandangannya dari Risk.
"Ooooh... Bertobatlah segera! Sebab Yazoth akan menerimamu dengan tangan terbuka!" Seru Risk pada F, sepertinya menawarkan kerjasama.
F menaikkan salah satu alisnya karena heran atau ingin mengejek. "Ya..zoth? Apa kau mengubah nama Yesus dan menjadikannya tuhanmu?"
"Seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dimasa lampau! Ada banyak rahasia dunia yang belum terkuak oleh kita!"
"Jadi.. Kau mengakui bahwa tuhanmu hanyalah seorang peniru?"
"Kau.."
Hei, kalian berdua.. Kumohon hentikan pembicaraan yang terlalu sensitif itu.. Aku tidak mau kalau nanti cerita ini jadi dicekal..
"Siapapun yang menolak keberadaannya akan dihukum! Matilah dalam kesengsaraan!" Teriak Risk dengan marah. Ia mengayunkan tangannya pada F, melemparkan peluru-peluru itu dengan kecepatan tinggi.
F dengan cepat melompat kesamping, menghindari peluru-peluru itu. ia telah memperhitungkan segalanya dari awal.
"Aku terlalu sering membaca buku, benar kan?" Teriak F. Ia menerjang kearah Risk, dengan pisau tergenggam ditangan.
Risk, hanya tersenyum dan menangkap tangan F yang memegang pisau dengan tangan kiri.
"Kau tidak pernah memperhitungkan hal ini, benarkan?" Risk melemparkan bukunya dan membanting tubuh F dengan mudahnya, ia baru saja membanting F yang bertubuh besar itu dengan mudah.. Wow..
Risk menindih F dan melancarkan pukulan cepat disaat F berusaha untuk berdiri. Wow..
Hei, ini bukan saatnya untuk kagum Richard! Bergeraklah! Bergerak!Namun, tidak ada gunanya. Aku sama sekali tidak mengerakkan tubuhku satu sentimeter pun, disaat Risk dengan memukuli F dengan brutal.
F menendang perut Risk, melemparkannya beberapa meter dari tubuhnya.
"Giliranku." Ujar F, ia berusaha untuk menyerang, namun Risk dengan mudah menangkis setiap tendangan dan pukulan F.
Risk memukul perut F dan menendang lututnya, membuat F berlutut didepannya.
F terlihat sangat lelah dan kalah, ia sudah tidak sanggup untuk melawan, rasa putus asa dan pukulan yang dilancarkan oleh F telah mengikis bagian terakhir dari semangatnya.
Risk mengenggam kepala F dengan tangan kanannya. Sial! Bergerak! Tubuhku..
"Hukumanmu, akan dijatuhkan."
CRIMSON SKY