CHAPTER III - FIRST LULLABY


Berada di atas atap pada malam hari membuat bulu kudukku merinding, dilanda ketakutan jika suatu saat bagian-bagian dari langit itu runtuh dan menimpaku. Sebuah gedung segi empat dengan jendela kaca yang ada diatapnya, yep, disanalah kami berada saat ini.

Tarikan nafas F yang teratur memecah suasana malam yang sunyi. Aku yang bertubuh kecil ini hanya bersembunyi dibalik punggungnya yang lebar.

"Yo, Richard, kau siap?" Ujarnya sambil mengikat tali kesebuah cerobong asap, tali itu akan kami gunakan untuk melompat kebawah. F membuka kaca jendela itu dengan hati-hati, berusaha agar suara yang ditimbulkannya tidak membangunkan siapapun yang ada didalam.
Di atas sebuah gedung yang berada dikejauhan kulihat Beatrice dengan SSG-69 kesayangannya mengawasi kami berdua. Namun aku tidak dapat melihat Sheeva, maupun Ralph. Mungkin Ralph sedang berada didalam mengawasi Sofia dan Bianca.

Aku menaikkan pengaman senjataku, dan menggantungkannya dibelakang punggungku.

"Apa kau selalu terlihat setenang ini?" Tanyaku pada F. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak mencerminkan kegelisahan, yang wajar dialami oleh seseorang dalam situasi ini, yah.. F memang bukan orang yang biasa.

"Ya." Ujarnya pendek, ia melemparkan tali itu kedalam jendela, menimpa sebuah kotak kardus besar, yang cukup luas untuk menyimpan lima orang manusia didalamnya. Didalam ruangan itu terdapat banyaaaaaaaaak sekali kardus.

Ia menyodorkan tali itu padaku, dengan wajah tenang yang membuatku merasa takut kalau berada didekatnya.

Aku menerima tali itu dengan tangan kananku. Tali itu merupakan sebuah tali, tali berwarna hitam terbuat dari bahan yang sama sekali tidak kuketahui, mungkin dari benang ataupun plastik, tali itu cukup kuat untuk menahan berat tubuh manusia normal, namun... Aku tidak yakin apa cerobong asap itu bisa menahan kami.

"Setelah kupikir-pikir... Sebaiknya kau duluan.." Ujarku dan kusodorkan tali itu padanya.

Dia menatapku aneh dan mengambil tali itu dari tanganku. Dengan sigap ia menggunakan tali itu untuk meluncur kebawah. Dalam hitungan detik ia sudah menginjak kardus itu dan amblas kedalamnya. Ternyata kardus itu memiliki kedalaman yang cukup untuk membuat manusia tenggelam didalamnya.

"Ah, sial.." Kudengar suara F dengan samar.

Sebuah mata pisau menembus dinding kardus itu dari dalam, menoreh dan memotong dinding kardus itu, membuat sebuah lubang yang cukup besar untuk dilalui oleh manusia.

F keluar dari lubang itu, dan dia memasukkan kebali pisaunya kedalam holster yang terdapat didepan vest miliknya. Dengan sigap ia menyiagakan MP7-nya, membidik ke lorong dimana orang-orang bisa kapan saja muncul.

Aku mengenggam erat tali itu dan melompat turun, dengan agak takut, tidak seperti F, aku turun terlalu lama. Dan sialnya, cerobong itu tidak mampu menahanku. Aku terjatuh dengan pantat duluan kedalam kardus yang cukup empuk, namun menimbulkan suara yang cukup keras.

"Ay, bokongku!" Ujarku. Aku berdiri sambil meraba-raba bagian belakangku dan menyiagakan senjataku. Aku keluar melalui lubang yang dibuat oleh F, namun F kembali mendorongku masuk bersamanya.

Ia mengambil potongan kardus itu dan menutup lubang yang ia buat.

Aku berdiri disamping kirinya.

"Sst, diam." Ujarnya pendek.

Tak lama kemudian, kudengar langkah kaki manusia, kira-kira dua orang. Langkah kaki itu terdengar jelas didepan kardus kami.

"Apa kau melihat sesuatu?" Tanya salah seorang dari mereka, mungkin pada temannya.

"Tidak, tidak ada apa-apa disini." Jawab temannya.

Aku mengintip dari sela-sela kardus yang dipegang oleh F. Kulihat dua orang itu berdiri tepat didepan kami, mereka berdua bersenjatakan AK-200 dan memakai set CIRAS, kurasa Children of Violence bukan kelompok radikal biasa.

Pencahayaan didalam ruangan yang cukup gelap membuat mereka tidak menyadari kalau kotak kardus ini sudah terpotong. Namun, apabila mereka melihat atap yang terbuka dan tali yang tergantung itu... Kurasa mereka akan segera menyadari kalau.

"Hei, lihat diatas."

Sial.

F melemparkan potongan kardus yang ia pegang kesamping, segera menangkap dan melubangi batok kepada seorang personil itu dengan pisaunya.

Yang seorang lagi terkejut dan mengarahkan senjatanya pada F, namun, gerakanku terlalu cepat untuknya. Aku mengenggam barel senjatanya dan mengarahkannya keatas, dan menghantam pria itu tepat diwajah. Pria itu pingsan dan terkapar dilantai.

"Segera bunuh dia dan kita pergi dari sini." Ujar F. Dia menyeret mayat pengikut yang ia bunuh kedalam kotak kardus tempat kami bersembunyi tadi.

"Hei, dia sudah pingsan, itu sudah cukup kan?" Jawabku.

"Tidak, pingsan belum cukup, ini bukan video game. Bereskan." Ujar F yang melemparkan pisaunya padaku.

Aku menangkap pisau itu dengan tangan gemetaran, aku tidak pernah membunuh orang dalam jarak dekat sebelumnya.

"Lakukan, cepat."

Aku memalingkan wajahku, dan menginjak wajah pria itu dengan keras.. Suara tulang leher yang patah dapat kudengar dengan jelas.

"Maaf kawan, maaf."

F hanya menatapku aneh saat kuserahkan pisau itu padanya. Ia mengelap darah yang menempel pada pisaunya menggunakan pakaian mayat yang tergeletak didepannya.

""A-ayo.." Ujarku tergagap dan menahan rasa mual. Darah tergenang di lantai kardus besar itu.

F segera menutup lubang itu dan menunjuk kearah sebuah pintu yang ada di ujung ruangan ini. Gedung ini terbagi menjadi dua bagian, gudang dan kantor.

"Kita akan kesana, mungkin Sofia dan Bianca ada disana."

Tumpukan-tumpukan kardus membentuk labirin yang sangat rapuh, sedikit pukulan maka kardus-kardus itu akan berjatuhan dan membuat lautan kardus didalam ruangan luas ini. Untung saja aku tidak fobia terhadap kardus..

F berhenti secara tiba-tiba, membuatku hampir saja menabraknya.

"Ada sesuatu didepan, tunggu disini." Ujarnya dengan suara pelan. Ia mengendap-endap dibalik tumpukan kardus, mengintip ke arah sebuah sumber cahaya.

Cahaya terang berpendar-pendar dibalik tumpukan kardus, dari tengah ruangan. Aku juga ikut mengintip dari sela-sela tumpukan kardus.

Dua orang pria membelakangi kami, mereka sedang menghangatkan diri didepan sebuah drum yang berisi benda-benda terbakar.

"Kupikir apimu sama sekali tidak aman.." Ujar salah seorang dari mereka. Ia menghisap rokok dan menghembuskan asap tebal.

"Hah, aku adalah ahli dalam membuat api unggun, dan jarak antara drum ini dengan kardus-kardus itu juga cukup jauh." Jawab temannya. Ia melemparkan potongan-potongan kertas ke dalam drum agar apinya tetap menyala.

"Rasanya cukup disayangkan, dia terbakar begitu saja didalam tong ini." Si perokok melemparkan puntung rokoknya kedalam drum, dan kembali mengambil sebatang rokok lagi dari dalam sakunya.

"Yah, kau sudah selesai dengannya, kan? Lagi pula dia sudah rusak dan terlalu kecil untuk ukuranmu." Si ahli menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, berusaha untuk melawan dingin.

"Ya, tapi tetap saja kan?"

F mengangkat MP7 miliknya, membidikkan senjata itu dengan tenang pada pria yang berada disebelah kanan.

"Ambil yang kiri." Ujarnya.

Aku mengarahkan senjataku ke seorang lainnya. Namun, sesuatu yang ada didalam drum itu menarik perhatianku. Sepotong tangan perempuan kecil, ditengah kobaran api. Bianca!

Amarah mulai menguasaiku, bayangan Bianca muncul dibenakku.

F berusaha untuk menahanku, namun ia tidak bisa. Aku menyerbu dengan marah, menendang kepala si perokok dan menjatuhkan si ahli kelantai, lututku menahan lehernya, menguncinya dilantai. Aku mengarahkan M1911 kekepalanya.

"Hei! Bangsat! Lepaskan!" Orang itu meronta-ronta berusaha untuk lepas.

F dengan tenang mengeksekusi si perokok dengan satu peluru ditengkorak. Wajahnya masih terlihat tenang, berbeda denganku, yah.. Dengan helm seperti ini mungkin agak sulit untuk melihat ekspresi wajahku saat ini.

"Apa kalian dari DPD?!" Tanya si ahli.

"Kau.." Aku menarik trigger.

M1911 menyalak dan membuat lubang dikepala si ahli, darah muncrat dimana-mana.

F menarikku berdiri dan memukul helmku dengan sikunya. "Tenanglah! Tenang!" Ujarnya.

"Dia membunuh Bianca!" Bentakku. Kutunjuk kearah drum, namun, tangan itu sudah hilang dimakan api.

"Hei, dalam perang, setiap kemungkinan itu ada, dan kita tidak boleh buta dengan apa yang terlihat didepan mata! Yang mereka bakar itu hanyalah sebuah love doll!"

Perkataannya membuatku terdiam, memang, kemungkinan itu memang ada, dan seharusnya aku berfikiran optimis tentang Sofia dan Bianca, tidak mungkin Ralph yang mengikuti mereka membiarkan mereka tewas begitu saja.. Namun.. Satu hal yang mengganjar pikiranku, dimana Ralph?

Jendela yang berada di atas pintu tujuan kami terbuka, seorang pria yang kelihatannya sama sekali tidak ramah mengarahkan AK-74-nya ke arah kami.

"MATI KALIAAAAN!!" Teriaknya. Rentetan tembakan mulai terdengar.

F menghindar dengan lompatan cantik kebelakang, dan ia masih sempat mengarahkan MP7-nya untuk tembakan balasan. Rentetan halus MP7 menambah bisingnya ruangan ini.

Aku, sama sekali tidak sempat menghindar, empat atau enam peluru mengenai armorku, memang tidak tembus, namun masih cukup sakit, HEX memang menyerap kekuatan tumbukan dan menyebarkannya ke seluruh bagian dari armor, tapi, yah.. Energi yang berlebihan memang tidak sehat.

9 buah peluru 4.6 menembus tubuh pria yang menembaki kami, menjatuhkannya, aku tidak tahu apa dia tewas atau masih hidup.

"Richard, bagaimana keadaanmu?" Tanya F, masih mengarahkan senjatanya ke jendela itu.

"Urgh." Ujarku pendek.

"Baguslah, tandanya kau masih hidup."

F mengambil posisi disamping pintu itu, begitu juga aku.

"Kau yang masuk duluan." Perintahnya.

"Kenapa?"

"Karena kau yang punya armor." Jawabnya, pendek, datar dan tanpa emosi.

Aku hanya menghembuskan nafas panjang, dengan malas kupegang gagang pintu, kudorong secara perlahan. Didalam tidak ada apa-apa, hanya ruangan gelap dengan sebuah tangga untuk menuju keatas. Aku membuka pintu itu sepenuhnya.

"Aman, ayo." Ujarku pada F, dengan SG552 yang terus siaga didepanku.

Aku melangkahkan kakiku kedalam ruangan gelap itu, dengan tidak hati-hati.

Sebuah bayangan muncul didepanku, tepat didepanku, ia berguling dan berlutut tepat didepanku. Ia mengangkat sebuah SM203 dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengenggam barel SG552 milikku. Senyumannya memancarkan aura psikopat yang sangat kental, namun sangatlah familiar.

Aku tertegun untuk beberapa saat, berusaha mengingat-ingat siapakah perempuan yang ada didepanku ini. Dia kelihatan seumuran denganku, dengan rambut ekor kuda berwarna hitam.

Moncong SM203-nya memukul dadaku, membuatku sedikit terdorong kebelakang.

"Terbanglah, kakak. Ehehe." Ujarnya, diiringi dengan tawa yang keras.

Disaat terakhir, barulah aku sadar apa yang akan terjadi, dia akan menembakku dengan peluncur granat pada jarak dekat. Sial.

Tangannya yang dibungkus oleh sarung tangan tanpa jari menarik trigger.

Proyektil granat 40mm menghantam dadaku, membawaku terbang beberapa meter keatas lantai tembok yang keras. Proyektil itu sama sekali tidak meledak, entah itu karena pengamannya atau dia menggunakan peluru slug 40mm.

Pandanganku kabur, nafasku sesak, kurasa aku mematahkan beberapa tulang rusukku.

Tiba-tiba, semuanya menjadi putih, hanya putih, dan sesosok bayangan perempuan tanpa tangan kanan berada di antara keputihan itu. Sesosok bayangan itu berada tepat diatasku, menatapku lekat. Ia memiliki wajah yang sama dengan perempuan yang menembakku tadi, hanya saja.. Senyumannya memancarkan kelembutan dan membawa kenyamanan kepada siapapun yang melihatnya.

Ia menatapku, dan akupun menatapnya. Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak terdengar sepatah katapun darinya.

Aku mengikuti gerakan bibirnya.

"Hale.. Hale.. Hale.." Ujarnya berulang-ulang.

Tangan kanannya yang dibalut kain meneteskan darah segar.

"Romeo! Romeo!" Kudengar suara F, memanggil-manggil seseorang, namun, disaat bersamaan, kurasakan kalau tubuhku digoncang-goncang oleh seseorang.

"Mari.. Berjumpa.." Ujar perempuan itu.

"Kita.. Semua.. Sama."

Semuanya berganti lagi, menjadi ruangan gelap dengan pencahayaan remang-remang, aku telah kembali.

Wajah F terlihat sangat cemas saat kulihat wajahnya didepan mataku, dia menepuk-nepuk helmku, berusaha untuk membangunkanku.

"Aku tak apa.." Ujarku.

Sebuah proyektil granat 40mm menancap di HEX milikku, proyektil itu memang proyektil granat, bukan slug ataupun buck.

Siapakah mereka?


CRIMSON SKY