CHAPTER V - MESSENGER OF EVIL

F segera menghampiri tubuh Ralph yang tertelungkup kaku di lantai. Wajahnya terlihat sangat panik saat ia membalikkan tubuh Ralph yang berlumuran darah.

"Ralph? Hei! HEI! RALPH?" Bentak F. Ia menampar-nampar wajah Ralph dengan keras, berusaha untuk membangunkan pria berumur 54 tahun itu.

Ralph tidak merespon apapun, ia hanya terbujur disana, tidak bergerak. Jejak darah mengucur dari atas kepalanya. Kemeja dan rompi anti pelurunya telah berubah warna. Warna merah tua yang sangat khas.

Aku menghampiri bekas lubang yang ia buat, membidikkan senjataku kebawah, menunggu siapapun yang melempar Ralph untuk muncul. Namun, tidak ada apapun.

"F?" Panggilku.

"Aku tidak bisa merasakan detak jantungnya!" Teriak F. Ia meletakkan tangannya di atas dada Ralph, dan menekan-nekan jantungnya, berusaha untuk membangkitkan kerja jantungnya kembali.
Di bawah, hanya ada lantai yang dipenuhi oleh lubang peluru dan jejak kaki yang terkena darah.  Menuju ke arah tangga.

Aku segera mengalihkan bidikanku ke arah kami masuk, dengan perasaan yang -, menunggu siapapun yang akan masuk. Dengan perlahan kuhampiri F.

F masih melakukan CPR untuk membangunkan Ralph, namun, belum ada tanda-tanda kalau Ralph akan bangun.

"Sial Ralph! Dimana Sofia?! Dimana mereka berdua?!" Teriak F pada Ralph yang entah masih hidup atau sudah mati. F mencengkeram leher Ralph dan menamparnya dengan panik.

Namun, Ralph lagi-lagi tidak bereaksi, hanya mata terpejam dan tubuh yang tergeletak lunglai oleh tenaga F yang menamparnya dengan keras. Dari bibirnya kulihat tetesan darah segar, kupikir organ dalamnya juga terluka.

Aku menepuk pundak F dengan tangan kiriku selagi tangan kananku mengarahkan senjata ke arah pintu untuk masuk ke ruangan luas ini.

F meletakkan kembali tubuh Ralph ke lantai. dengan wajah kecewa, sedih dan marah bercampur menjadi satu, ia terdiam dan mengenggam MP7nya dengan erat.

"Children of Violence... Kalian akan kuhancurkan!" Teriaknya.

Kuperhatikan sekitarku, dinding ruangan ini sebagian terdiri dari kaca, yang sebagian sudah pecah, membiarkan cahaya bulan yang samar masuk kedalam. Ah, aku ingin keluar.. Melihat cahaya bulan tanpa penyaring yang ada di atas kubah akan lebih menyenangkan.

F berdiri, aura kemarahan dapat kurasakan dengan jelas. Ia terlihat sangat mengerikan. Ia melepaskan magasen  yang ada di MP7 miliknya dan menggantinya dengan magasen baru.

"Ayo, Richard, mari berburu CoV yang tersisa." Ujarnya dengan nada yang bergetar. Ia siap untuk membalaskan dendam Ralph, Sofia dan Bianca.

"Kita tidak bisa meninggalkan Ralph begitu saja di sini, kita harus membawanya untuk penguburan yang layak." Ujarku, melihat tubuh Ralph yang tergeletak begitu saja di atas genangan darah dan potongan tubuh manusia lainnya.

"Wow, ruangan ini.. Orang seperti apa yang tega melakukan semua ini?" Tambahku. Aku menyeret tubuh Ralph dengan satu tangan sementara tangan yang lainnya memegang pistol M1911 perak.

Suara rentetan halus dari MP7 mengagetkanku, F melepaskan tembakan ke arah sebuah bayangan yang muncul di pintu masuk. Dentingan terdengar dengan samar, karena darah yang ada menghalangi jatuhnya selonsong itu ke lantai.

Tidak ada reaksi apapun. Bayangan yang menaiki tangga itu tidak bereaksi apapun.

F melepaskan magasen dari MP7 dan mengambil sebuah magasen baru yang ada di rompinya dalam waktu yang hampir bersamaan, ia memasukkan magasen baru sebelum magasen yang kosong menyentuh lantai. Man, that was fast!

"Hehe.." Terdengar tawa dari arah bayangan itu. Perlahan, bayangan itu mendekat, menuju ke tempat yang terkena cahaya rembulan, menunjukkan wujudnya. Tangan kanannya terangkat kedepan, menutupi sebagian dari wajahnya.

Di depannya, dua puluh butir peluru mengambang di udara, seperti tertahan oleh semacam kekuatan yang tidak terlihat.


"Kalian telah membantai sebagian besar dari pengikutku... Apa kalian tidak tahu berapa lama aku mengumpulkan mereka?" Ujarnya. Ia menggerakkan tangannya kesamping, menunjukkan wajahnya pada kami, dan peluru-peluru itu mengikuti gerak tangannya.

Orang itu, seorang lelaki yang kira-kira sedikit lebih tua daripada aku, memakai pakaian pendeta gereja yang berwarna hitam, kalung salib perak tergantung dilehernya, dan tangan kirinya membawa sebuah buku berwarna hitam. Rambutnya tersisir kesamping dengan rapi. Sebuah sarung tangan berwarna putih dengan kabel-kabel yang berpendar terpasang di tangan kanannya.

Aku menyeret tubuh Ralph kesudut ruangan, untuk berjaga-jaga agar tubuhnya tidak terkena luka apapun lagi, karena kupikir luka yang ada di tubuhnya sudah cukup parah.

"Memang aku peduli, bajingan. Lagipula, siapa kau?" Maki F. Senjatanya masih tertuju ke arah orang itu.

"Aku peduli." Jawab orang itu dengan nada datar, sepertinya ia tidak senang dengan sikap F. Ia kembali mengangkat tangannya kearah depan, membawa peluru-peluru itu untuk membelakangi F.

Jarak mereka hanya sekita sepulur meter.

Aku, entah kenapa merasa familiar dengan keadaan ini, seperti aku pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, dan entah kenapa, aku memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi.

"Dan aku tidak, terima kasih. Lagipula... Mengapa kau bisa melakukan itu?" Tanya F.

"Yah, kau tahu, mukjizat. Dan apa kau tidak kaget?"

"Tidak, kurasa aku terlalu sering membaca buku.. Bukan kebiasaan buruk, kurasa." Ujar F. Ia berjalan dengan perlahan kesamping, menjauhi aku dan Ralph.

"Dan kurasa kau sudah tahu apa yang akan kulakukan, benar kan?" Ejek orang itu. Tangannya mengikuti arah gerakan F.

Aku benar-benar memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Apa kau mau menjadi target latihanku, hmm?" Tanya orang itu dengan riang.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, kau ini siapa?" Tanya F balik.

"Kau tidak tahu? Astaga... Aku adalah pemimpin dari Children of Violence, Risk."

Mendengar nama itu, F kembali mengenggam trigger senjatanya dengan erat, memuntahkan dua puluh peluru ke pria itu, namun.. Peluru-peluru itu hanya melambat sebelum akhirnya berhenti.

"Ah.. Apa kau terlalu putus asa?" Ejek orang itu lagi.

"Tidak. Tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?" Jawab F dengan nada marah.

Aku mengangkat SG552 milikku dan mengarahkannya ke orang itu.

"Ah... Orang aneh berarmor putih dengan sedikit warna merah yang tidak dikenal yang  tidak kompeten dan mungkin menderita impotensi..." Ejeknya padaku, dengan senyuman yang terlihat menyebalkan..

"Hei! Aku tidak impoten!" Teriakku padanya.

F memandangiku dengan tatapan aneh dan sedikit heran. "Richard... Apa kau harus menjawab ejekannya?"

"Aku hanya membela diri!"

"Tetap saja, pertanyaan seperti itu tidak usah dijawab!"

"Lalu? Apa aku akan membiarkannya mengejekku?"

"Tidak.. Tapi kenapa hanya ejekan yang terakhir kau jawab?"

"Uh, kau tahu... Harga diri lelaki." Ujarku dengan pelan.

"Memangnya harga diri lelaki ada disana?" F lagi-lagi mengeluarkan ekspresi anehnya.

Orang itu membaca buku hitamnya selagi kami beradu mulut, nampaknya ia tidak terintimidasi dengan dua buah senjata yang tertuju padanya.

"Uh, F, kurasa sebaiknya kau tidak bertengkar denganku.. Dan.. Nampaknya suasana hatimu berubah dengan cepat." Ujarku pada F.

"Kau pikir aku sedang apa, ha?"

"Oh, kalian sudah selesai? Maafkan aku, tapi buku ini lebih menarik daripada percakapan kalian berdua." Ujar orang itu. Ia menutup buku hitamnya dan kembali membawanya kesamping.

"Ah, sampai dimana tadi? Maaf, aku lupa." Ujarnya lagi. Ia mengarahkan tangan kanannya kearahku dan menjentikkan jarinya. Apa yang terjadi selanjutnya sesuai dengan firasat burukku.

Peluru-peluru itu melesat dengan cepat, cukup untuk melukai tubuh manusia.Dan sayangnya tubuh itu adalah tubuhku.

Tenaga dorongan peluru-peluru itu mendorongku terduduk disamping tubuh Ralph, tubuhku tidak dapat kugerakkan, rasa sakit yang ditimbulkan oleh lubang-lubang kecil di bagian tubuh yang tidak tertutupi oleh HEX terlalu sakit untuk ditahan.

F kembali memuntahkan peluru kearah pria itu, namun, sebagian besar peluru hanya berhenti didepannya.

"For God so loved the world, that he gave his one and only son. That who ever believes in him shall not perish, but have eternal life." Ujar pria itu saat F menembakinya.

Sial.. Kalau saja aku dapat bergerak.. Kalau saja aku dapat meraih M1911 dan menembak pria itu saat punggungnya terarah padaku seperti sekarang..

MP7 milik F hanya mengeluarkan bunyi klik.

"Sial." Ujar F.

"Sepertinya tuhan berpihak padaku, hmm?"

F melemparkan MP7nya kelantai dan mengambil sebuah pisau dari holster dibalik kaki celananya.

"Jika aku punya tuhan, tentu." Ujar F. Ia memasang kuda-kuda dan tidak melepaskan pandangannya dari Risk.

"Ooooh... Bertobatlah segera! Sebab Yazoth akan menerimamu dengan tangan terbuka!" Seru Risk pada F, sepertinya menawarkan kerjasama.

F menaikkan salah satu alisnya karena heran atau ingin mengejek. "Ya..zoth? Apa kau mengubah nama Yesus dan menjadikannya tuhanmu?"

"Seperti yang telah dilakukan oleh Yesus sendiri dimasa lampau! Ada banyak rahasia dunia yang belum terkuak oleh kita!"

"Jadi.. Kau mengakui bahwa tuhanmu hanyalah seorang peniru?"

"Kau.."

Hei, kalian berdua.. Kumohon hentikan pembicaraan yang terlalu sensitif itu.. Aku tidak mau kalau nanti cerita ini jadi dicekal..

"Siapapun yang menolak keberadaannya akan dihukum! Matilah dalam kesengsaraan!" Teriak Risk dengan marah. Ia mengayunkan tangannya pada F, melemparkan peluru-peluru itu dengan kecepatan tinggi.

F dengan cepat melompat kesamping, menghindari peluru-peluru itu. ia telah memperhitungkan segalanya dari awal.

"Aku terlalu sering membaca buku, benar kan?" Teriak F. Ia menerjang kearah Risk, dengan pisau tergenggam ditangan.

Risk, hanya tersenyum dan menangkap tangan F yang memegang pisau dengan tangan kiri.

"Kau tidak pernah memperhitungkan hal ini, benarkan?" Risk melemparkan bukunya dan membanting tubuh F dengan mudahnya, ia baru saja membanting F yang bertubuh besar itu dengan mudah.. Wow..

Risk menindih F dan melancarkan pukulan cepat disaat F berusaha untuk berdiri. Wow..

Hei, ini bukan saatnya untuk kagum Richard! Bergeraklah! Bergerak!Namun, tidak ada gunanya. Aku sama sekali tidak  mengerakkan tubuhku satu sentimeter pun, disaat Risk dengan memukuli F dengan brutal.

F menendang perut Risk, melemparkannya beberapa meter dari tubuhnya.

"Giliranku." Ujar F, ia berusaha untuk menyerang, namun Risk dengan mudah menangkis setiap tendangan dan pukulan  F.

Risk memukul perut F dan menendang lututnya, membuat F berlutut didepannya.

F terlihat sangat lelah dan kalah, ia sudah tidak sanggup untuk melawan, rasa putus asa dan pukulan yang dilancarkan oleh F telah mengikis bagian terakhir dari semangatnya.

Risk mengenggam kepala F dengan tangan kanannya. Sial! Bergerak! Tubuhku..

"Hukumanmu, akan dijatuhkan."

CRIMSON SKY


CHAPTER IV- SECOND LULLABY

Lantai dua.

Desingan peluru memaksaku meloncat turun, hampir menabrak F pada prosesnya.

Beberapa orang personil CoV sudah menanti kami dengan senjata tertuju kearah mulut tangga. Peluru-peluru memantul didinding dibelakang kami.

"Hei, F, mungkin kau bisa membujuk mereka untuk berhenti menembaki kita." Ujarku pada F yang sedang menunggu gilirannya naik.

"Hei, aku ini mantan tentara, bukan negosiator." Jawab F. Ia menyodorkan dua buah granat padaku.

Aku menerima granat-granat itu dengan lesu.

"Kurasa granat sama sekali bukan gayaku, apa masih ada cara lain?" Tanyaku.

F memandangiku dengan tatapan kesal.

"Kurasa aku tidak punya pilihan lain.." Aku memasukkan salah satu granat kedalam kantong yang ada pada bagian torso HEX, dan menarik pin granat sisanya. Aku melemparkan granat itu keatas.

Sayangnya, sebuah peluru mengenai granat itu dan membuatnya terpental kebawah. Sial.

"Bodoh!" Bentak F. Ia dengan sigap menendang granat itu keluar melalui jendela.

Granat itu meledak diluar, menciptakan gelombang getaran yang membuat kami kehilangan keseimbangan dan melontarkan pecahan kaca dengan kecepatan tinggi, membuatnya menjadi proyektil-proyektil tajam yang mematikan. Badai jarum, groovy.

F dan aku dengan reflek menyilangkan tangan kami didepan kepala untuk melindungi mata kami.

"Argh!" Erangku. Beberapa pecahan kaca menancap pada HEX, lengan dan pahaku, namun tidak sampai menembus.

"Richard! Kau bodoh!" Bentak F. Lagi-lagi, F memanggilku dengan panggilan Romeo..Ada apa gerangan dengan nama itu?

Aku segera membantu F berdiri dan mendudukkannya diatas tangga.

Di saat bersamaan, suara tembakan diatas berhenti, peluru-peluru tidak lagi berpantulan didinding.

"Hei, kau belum mati kan?" Tanyaku.

"Belum, masih belum." Jawabnya. Ia memegangi lengannya yang mengucurkan darah. Pecahan kaca telah menggores dan menyobek tangan dan lengannya.

"Bagaimana lenganmu?"

"Masih bisa digerakkan, tenang saja." Ia meringis menahan rasa sakit yang ada ditangannya. Wajar saja, luka sobek yang ada di telapak tangannya terlihat cukup mengerikan, bahkan aku tidak dapat melihat bagian putih dari telapak tangannya yang berlumuran darah.

"Tunggu disini, berusahalah untuk menghentikan pendarahannya."

"Argh.. Kau mau kemana?"

"Melihat keadaan diatas." Aku menyiagakan SG552.

Dengan hati-hati aku menjulurkan kepalaku, melihat-lihat keadaan dilantai dua.

"Astaga..." Gumamku kaget.

Lorong berlantai abu-abu tempat personil CoV berdiri dan menembaki kami telah berubah menjadi merah darah.

Potongan-potongan tubuh personil CoV berserakan dilantai, tangan, kepala, kaki, torso dan telinga dipotong dengan sayatan yang rapi. Salah satu dari mereka bahkan disangkutkan ke dinding mengunakan sebilah katana yang ditusukkan melalui bagian dada sebelah kirinya.

Seorang perempuan berdiri ditengah-tengah pemandangan yang mengerikan itu. Dengan rambut ekor kudanya yang basah oleh darah, perempuan yang menembakku tadi. Tulisan SWAT putih yang ada pada seragamnya telah berubah warna menjadi merah. Senyuman psikopat masih melekat di bibirnya.

Tangannya kirinya memegang gagang sebuah M1911 berwarna hitam, dan tangan kanannya memegang sebuah pedang yang besar dan kelihatan berat.

Ia berbalik kearahku dan tertawa kecil.

"Ahehehe.. Kau masih hidup? Ah.. Senior memang hebat!" Ujarnya dengan riang. Ia mengarahkan M1911 nya kearahku.

Aku menyandang kembali SG552 milikku dan bersiap untuk menerjang kearahnya .Aku tidak bisa menembak seorang perempuan.

Aku melompat kelantai dua, membiarkan peluru yang ia tembakkan mengenai HEX. Tenaga dorongan dari .45ACP membuatku sedikit terdorong kebelakang, namun hal itu tidak kubiarkan menghentikanku, aku terus menerjang kearahnya tanpa senjata ditangan.

"Ohh.. Senior memang menarik!" Teriaknya penuh semangat. Ia menyimpan M1911 miliknya dan memasang kuda-kuda tusukan. Ia mengangkat pedang besar itu kedepan tubuhnya, dengan ujung pedang yang terarah padaku.

"Kau membuatku bersemangat!" Ia menerjang kedepan, melakukan gerakan menusuk dengan pedang besar itu dengan jarak yang cukup dekat denganku.

Dengan cepat aku mengenggam  bagian rata dari pedangnya, membelokkan arah serangannya agar tidak mengenaiku, menyobek sarung tangan dan telapak tanganku. Darahku ikut membasahi mata pedang tajam itu.

Ia tersenyum lebar saat tatapanku dan tatapannya beradu dalam jarak yang cukup dekat.

Aku mengenggam pergelangan tangannya dengan keras, memaksanya untuk melepaskan pedang besar itu.

"Ahn~ Kau nakal!" Rintihnya. Pedangnya jatuh dan berdenting di lantai.

Aku mengenggam rompinya dan membanting tubuhnya.

Senyuman masih melekat di bibirnya. Ia mencabut M1911 hitam itu dari holsternya, berusaha untuk menembakku dari jarak dekat dengan benda itu.

Aku memelintir tangannya dan merebut pistolnya.

Ia terbaring di atas lantai yang merah oleh darah. Ia tertawa saat aku mundur beberapa langkah dan mengarahkan senjatannya padanya.

"Ah, Senior! Kau memang tahu cara memperlakukan wanita! Ahehe..." Ujarnya. Uh.. Memangnya wanita mau diperlakukan kasar begitu? Dasar perempuan aneh..

"Berhentilah memanggilku senior! Namaku.."

"Richard? Ahehe.. Setidaknya itu yang Ia katakan padamu, benarkan?" Ia duduk memeluk lututnya. Menatap padaku dengan tatapan anak kecil yang melihat sesuatu yang ia suka. Senyumnya berubah, kali ini tidak lagi senyuman psikopat yang ia biasa gunakan, namun senyum kali ini terlihat lebih lembut daripada sebelumnya.

Aku menatap padanya dengan mulut ternganga, tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya.

"K-kau..."

"Vita brevis breviter in brevi finietur, Mors venit velociter quae neminem veretur." Ujarnya. Entah kenapa, aku merasa familiar dengan kata-katanya.

"Ad mortem festinamus peccare desistamus." Bisikku tanpa sadar. M1911 hitam itu hampir saja lepas dari genggamanku.

"Kita.. Semua.. Sama." Ujarnya pelan. Kata-kata yang sama..

"Surga, atau neraka.. Tentukan pilihanmu." Tambahnya.

Dari balik rompinya, ia melemparkan sebuah flashbang.

"Adios."

Dengan reflek aku menutup mataku.

Letupan flashbang yang memekakkan telinga memenuhi ruangan, mungkin F juga mendengarnya.

Saat kubuka mata, ia hilang, meninggalkan sebilah pedang.

"Hei, Richard!" Panggil F yang mendekatiku dari belakang.

Aku berbalik dan melihat wajahnya, ia terlihat sangat kaget.

"Dan ternyata gayamu lebih merepotkan daripada sebuah granat." Ujarnya melihat potongan-potongan tubuh dan darah yang membanjiri lantai.

Aku memasukkan pistol M1911 hitam itu kesebuah holster kosong di bagian dada HEX.

"Bukan aku." Ujarku. Aku meraih SG552 yang ada dipunggungku dan mengecek pengamannya, full auto.

"Lalu siapa?" Tanyanya. Ia mengambil pedang besar yang ada di lantai, mungkin untuk mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang mengerikan di sekitar.

"Entahlah, aku juga tidak tahu.."

"Yah, tidak usah dibahas.. Lagipula aku melihat semuanya kok." Ujar F. Ia mengayun-ayunkan pedang itu di depannya.

"Zweihander, pedang buatan Jerman..." Ujarnya lagi. Matanya terlihat sedikit bersinar melihat pedang itu.

"F, apa kau sudah selesai melihat-lihat? Kita perlu meneruskan pencarian!" Seruku padanya. Ia membalas dengan tertawa kecil dan meletakkan pedang itu kembali kelantai.

"Kali ini, kau duluan.."


- - -


Kami telah menyusuri dan memeriksa beberapa ruangan, namun tidak ada tanda-tanda dari Sofia dan Bianca, yang kami temukan hanyalah personil-personil CoV  yang tidak senang akan kedatangan kami, dan juga beberapa mayat yang tewas karena ditusuk pisau dan diletakkan ditempat yang gelap.

F mulai terlihat putus asa, wajahnya yang tadinya tenang terlihat agak kacau. Ia terlihat membisikkan sesuatu secara berulang-ulang. Ini kali kedua aku membaca gerak bibir seseorang dalam hari ini.

"Tetaplah bertahan, tunggu aku, tetaplah bertahan, tunggu aku, tetaplah bertahan, tunggu aku.." Bisiknya.

Ia menarik nafas panjang, menatap kearahku dengan kesedihan terpancar jelas diwajahnya. "Lantai paling atas." Ujarnya.

Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya menaiki tangga.

Pemandangan yang kami dapati di lantai atas sama sekali tidak mengenakkan, lagi-lagi, potongan tubuh manusia dan mayat bergelimpangan di dalam sebuah ruangan luas.

"Sial..." Gumam F.

Ruangan ini adalah ruangan terakhir yang ada di gedung ini, dan kami masih belum menemukan Sofia dan Bianca... Dan Ralph.

"Argh! Sial! Kalau saja aku lebih cepat!" Bentak F, sepertinya pada dirinya sendiri. Ia menjatuhkan senjatanya dan berlutut di lantai, sepertinya ia mau menangis..

Aku mengalihkan perhatianku pada potongan tubuh manusia yang ada di lantai. Pemiliknya bervariasi... Tapi kurasa mereka bukanlah personil CoV, karena tidak ada potongan rompi anti peluru maupun senjata yang berserakan. Dan kebanyakan dari potongan-potongan kepala yang kulihat adalah milik perempuan..

"Aku.. Minta maaf.." Ujarku pada mereka yang menjadi korban CoV.

Aku duduk di samping F yang duduk dengan tatapan kosong, butiran air mata mengalir pipinya. Aku menarik nafas panjang.

"Hei, Richard." Ujarnya padaku, masih dengan tatapan kosong itu.

"Apa?" Jawabku.

"Aku memang tidak berguna, benar kan?" Tanya F.

Aku hanya diam dan melihatnya, tidak mengatakan apapun. Tanganku menepuk pundaknya dengan lunak.

"Richard?"

"Tidak, F, kita hanya..Belum menemukan mereka.. Itu saja.."

"Apa yang harus kukatakan pada Ibu? Dia.. Dia pasti akan marah... Lagi.." Ujarnya dengan suara yang bergetar.

Lagi? Apa maksudnya?

"Mungkin Ralph sudah membawa mereka keluar.. Bukankah Bice dengan Sheeva telah mengeliminasi penjaga yang ada dibawah?"

Wajah F terlihat sedikit lebih cerah setelah aku mengatakan itu. "Kau.. Kau benar..."

"Ayo kita lihat keluar.."

Suara dentuman dan getaran yang keras mengagetkan kami. Suara itu berasal dari lantai di bawah kami.

"Apa-apaan?" Ujarku.

F menyiagakan senjatanya dan bergerak menjauh dari sumber getaran.

"Ini tidak terlihat bagus..." Ujarku.

Benar saja, sesosok tubuh menembus lantai tembok itu, terlempar di atas kami sebelum akhirnya jatuh terjerembab di lantai.

Tubuhnya terbujur kaku, tidak bergerak dilantai, aku tidak tahu apa dia masih hidup ataupun sudah mati. Wajahnya terlihat sangatlah familiar.. Ia memakai pakaian yang hampir sama dengan F.

Aku tertegun, menyadari siapa yang barusan melubangi lantai dengan tubuhnya sendiri.

"RALPH!"

CRIMSON SKY