Crimson Sky
Sidestory III - Secure, Defend, and Retaliate
Mendadak, sebuah kilat cahaya membutakanku, dan lalu semuanya menghitam.
Nafasku terengah, pandanganku gelap.Sebuah sengatan di dahi kiriku menimbulkan rasa pusing yang luar biasa. Kepalaku ringan bagai tak berbobot, ringan, namun memusingkan.
Aku dapat merasakan dua buah tangan, mencengkram pundakku, menyeretku dengan kasar, sebelum akhirnya melemparku keatas lantai beton yang dingin. Aku terguling bagai sebuah boneka tak bernyawa.
Sinar yang menyilaukan, diikuti oleh gambar-gambar yang kabur. Butuh waktu beberapa saat bagiku untuk mengumpulkan kesadaran yang tercecer, barulah semuanya tampak jelas.
HPCG yang terbakar, hangus menghitam. HPCG dengan lengan yang terkoyak karena ledakan. HPCG itu berlutut didepanku, tidak ingin tumbang, tidak ingin menjadi rongsokan besi yang akan didaur ulang. Ia sama sepertiku, tidak ingin menyerahkan rumahnya pada penyusup yang tidak dikenal.
Mayat beberapa penyusup bergelimpangan di garasi ini, dengan tubuh terkoyak ditangan robot yang setia menemani pilotnya. Selonsong peluru berserakan, peluncur roket dan juga senapan antitank tergenggam ditangan orang-orang yang tewas.
Dua orang dari mereka berlutut didepan pintu elevator, memasangkan rangkaian peledak pada pintu kokoh yang membatasi markas kami dengan dunia.
Tak jauh dariku, kulihat Lisa. Tangan-tangan berbalut perban memeganginya, setiap inci darinya. Mencabik setiap lembar dari apa yang ia punya. Ia meronta, berteriak, menangis. Namun tangan-tangan itu tak ingin melepasnya. Sebuah tangan menutup mulutnya, membungkam teriakannya.
Aku menjatuhkan tubuhku, menggerakkan kedua tangan yang lunglai, menyeret tubuhku secepat yang aku bisa, mendekati Lisa. Setiap gerakan yang kubuat menambah sakit yang menusuk kepalaku, pikiranku kacau, pusing, perih, Lisa.
'Hentikan'
Inginku berteriak, namun yang ada hanya nafas lirih yang tak terbaca.
'Dia.. Lisa..'
Lima meter dari mereka. Tubuhku mati rasa, tanganku berat, kakiku lumpuh. Aku mencakar-cakar lantai yang dingin dengan putus asa, berusaha menggeser tubuhku walau hanya lima senti.
'Hamil.'
Gelap, dingin dan kaku. Teriakan Lisa yang tertahan terngiang-ngiang ditelingaku, begitu juga dengan tawa liar orang-orang itu. Terulang-ulang bagaikan rekaman yang rusak, menusuk setiap sel yang ada di otakku.
Maaf, Lisa.
Rentetan tembakan bergema, menutupi tangisan dan teriakan Lisa ditelingaku. Dentingan selonsong peluru menyusul, dan keheningan.
Isak tangis Lisa merobek telingaku, merobek setiap lembar dari perasaanku. Membuatku ingin kembali berdiri, meskipun tubuhku tak lagi sanggup.
Suara langkah mendekati kami, langkah yang pelan, langkah yang terseok, terluka.
"Lisa.." SUara yang parau dari seorang pria yang terluka, sekarat.
"Katsu.." Gumam Lisa diantara isak tangisnya yang menggema diruangan yang hening.
Suara sebuah tubuh yang terhempas ke lantai beton yang dingin. Seorang lagi teman yang jatuh. Terkapar tak bergerak. Lisa yang meneriakkan nama partnernya membuat suasana semakin tidak mengenakkan.
Alarm bergema, berdengung menandakan bahwa lift mulai bergerak keatas, menuju ketempat kami jatuh, terkapar dan kalah. Regu pengintai dari bawah memang sudah datang, tetapi untuk apa? Tak ada yang tersisa diatas sini, hanya dua orang operator yang kehilangan partnernya yang tersisa, operator yang menunggu untuk dieksekusi. Hukum itu, kode etik itu, ritual SDR yang telah mengadat di aliran darah SDR semenjak organisasi ini didirikan. Operator yang kehilangan partnernya telah gagal, dan berhak untuk mati dihadapan publik SDR. Yang tersisa setelah itu hanyalah upacara kremasi yang menghilangkan jejakmu dari dunia, hanya tersisa dalam database SDR yang dliputi abu.
Derap langkah operator-operator SDR mendekati kami dengan cepat. "Sebuah HPCG hancur kuulangi, se- Ya tuhan, sersan! Kita butuh medis!"
"Ambilkan dia selimut! Cepat! Dan periksa dua orang itu!"
Sepasang tangan membalikkan tubuhku, menampar-nampar pipiku dengan pelan. Mencoba untuk membangunkanku. Mataku terbuka perlahan, membawa sinar kedalam mataku. Sebuah bendera tergantung diatasku, sebuah bendera dari sebuah negara yang telah lama hilang. Amerika.
"Lisa.. Dimana Lisa?" Ujarku lirih pada seorang operator yang membangunkanku.
"Dia akan baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas, keadaanmu sendiri cukup parah. Medis! Kemari!"
Syukurlah..
---
"That day.. We lost many operator, all good people.. Only three of them survived. Those intruders, we don't know anything about them, not even a name. They just appear from nowhere, appearing from thin air and gone to the dark, leaving the dead ones behind. Their weapon, there is no serial number on them, not identity, no trace. Every gun runners we knew, they denied involvement in this incident. We left in the dark, and they never appeared again.. That's all for today, little Alice, we got roads to travel on, we got destination to reach, we got goals to accomplish. Now, go to sleep, and good dream."
The End.
Sidestory II - May The Gods Have Mercy.
"A friend is need, is a friend in need. But I can't be there for him, for them, for anyone."
- - -
Sebuah selongsong peluru jatuh membentur lantai beton yang dingin, membuat suara dentingan yang menyusul gema tembakan yang memekakkan telinga.
Hening.
Tidak ada satupun diantara kami yang bergerak. Aku tak tahu kemana peluru itu melesat, tak tahu dimana peluru itu telah bersarang.
Pria itu terhuyung kehilangan keseimbangannya. Ia tangannya menggapai-gapai liar mencari pegangan.
Sebuah HPCG memukul pria itu, melemparkannya membentur dinding beton, meninggalkan jejak cipratan darah yang lebar. Kanon 30mm yang ada ditangan HPCG itu masih mengepulkan asap mesiu.
"Kalian berdua tak apa?" Ujar pilot HPCG, ia membuka kokpitnya, memperlihatkan wajahnya pada kami. Katsu.
Aku mengacungkan ibu jariku padanya. "Kami masih hidup, jika itu maksudmu."
"Baguslah. Cepat ambil senjatamu, kita sedang diserang." Ujar Katsu, Ia menutup kembali kokpitnya yang dilapisi plating metal tebal yang mampu menahan peluru 30mm sekalipun. HPCG biasanya digunakan untuk sistem modular yang digunakan untuk memasuki daerah yang terkontaminasi NBC dengan aman tanpa membahayakan pilot yang ada didalamnya, atau untuk kegiatan konstruksi yang terlalu berat untuk dikerjakan oleh manusia. Tetapi sejak kedua belah pihak dalam perang dunia ketiga memiliki teknologi mekanikal yang sama, HPCG mulai dilengkapi dengan berbagai macam persenjataan. Tapi, yah, kudengar dulu orang-orang memasangkan kanon disebuah skuter. bukan hal yang baru, kurasa.
"aku penasaran Katsu, siapa orang-orang ini? Dan yang paling penting, bagaimana caranya mereka masuk?" Ujarku.
"Aku tidak tahu, kurasa mereka cukup pintar, bukan bandit biasa yang sering kau temui di gurun. Mereka bisa menyelinap tanpa ketahuan orang-orang yang berjaga diatas, masuk dengan cara menggali beberapa titik di atas lorong, mengeliminasi penjaga dan memutuskan komunikasi. Kurasa orang-orang dibawah sama sekali belum mengetahui apa yang terjadi diatas sini."
Aku berjalan menuju lokerku yang ada di sisi terjauh garasi. "Bukankah kalau komunikasi terputus ada regu yang akan mencek keatas?"
"Dua jam, Andrei, dua jam. Setelah dua jam mereka baru akan mengirimkan regu ke atas sini."
Aku membuka lokerku, mengambil dan memakai bagian torso dari HEX milikku. "Jadi hanya kita yang tersisa diatas sini?"
"Kurasa iya, sungguh disayangkan, padahal orang-orang yang berjaga hari ini adalah orang-orang yang menyenangkan."
Aku mengambil sepucuk HK416 dan beberapa magasen. "Jadi apa rencananya?"
"Tidak ada, hanya bertahan disini. Kita juga tidak bisa turun kebawah, kurasa mereka juga memotong kontrol elevatornya."
"Ah, sial. Tapi yah, terpaksa, karena mereka harus melalui kita untuk bisa turun kebawah." Satu-satunya elevator menuju kebawah untuk sektor ini hanya ada dibelakang kami.
"Katsu, apa kau bisa membuat agar elevator itu turun?" Tanya Lisa.
"Kurasa aku bisa, menggunakan kendali manual."
"Ayo kita kebawah dan memperingatkan orang-orang yang ada dibawah."
"Tidak, Andrei, maksudku dengan kendali manual adalah memotong kabel elevator dan meluncur kebawah sampai rem daruratnya bekerja."
"Dan kita juga tidak bisa keatas melalui sektor ini jika kita melakukan itu. Bagaimana dengan tangga darurat?"
"Bukan pilihan yang bagus, tangga itu hanya bisa dinaikkan dari bawah, untuk mencegah situasi seperti ini, kau tahu?"
Aku hanya memandangi HPCG Katsu dengan tatapan aneh.
"Hei, pria ini punya radio." Ujar Lisa yang berlutut didekat mayat pria yang tewas tadi. Ia mengambil sebuah radio yang terkena darah dan menempelkannya ketelinga. Ia terdiam beberapa saat, mendengarkan percakapan yang ada diradio. Ia tertawa kecil. "Andrei, kau harus mendengar ini." ujarnya, ia melemparkan radio itu padaku, dari jarak lima belas meter.
Aku menangkap radio itu dan hampir saja kujatuhkan karena licin oleh darah. Aku menempelkannya ketelingaku. Suara Alvaro.
"-hu siapa kalian, aku tidak ingin tahu apapun tentang kalian, bagiku kalian hanyalah orang-orang liar dari gurun. Tapi, kalian telah mengusik rumahku, kalian telah membunuh teman-temanku.Aku sudah membunuh lima belas, dan aku tidak akan berhenti begitu saja. Aku pasti akan menemukan kalian semua, aku akan membunuh setiap personil yang kalian punya. Segeralah berdamai dengan tuhanmu, karena aku akan mematahkan leher kalian."
Alvaro, yang seperti ini memanglah gayanya. Dia seperti tokoh penjahat di cerita-cerita lama, berkata sinis dan memiliki sifat yang sama sinisnya. Tapi hampir seluruh ancamannya selalu ia laksanakan, sampai detail terkecil sekalipun.
"Ah, sepertinya salah seorang dari teman kalian memiliki sedikit pesan untuk kalian."
Suara teriakan kesakitan seorang pria terdengar dari radio, diikuti oleh suara tembakan.
"Ups, jariku licin. Maaf, salahku. Sekian dulu, ciao."
Statis.
Alvaro memang sadis.
"Katsu, yang naik ke atas hari ini ada berapa orang?" Tanya Lisa. Ia menenteng M249 dengan magasen kotak yang berisikan 200 peluru. Ia hanya memakai bagian torso dari HEX miliknya.
HPCG itu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Jadi kita hanya berasumsi kalau hanya kita yang tersisa? Andrei, aku tidak suka dengan ide bertahan disini. Bisakah kita maju ke tempat mereka masuk? Dan kurasa dalam 100 meter kedepan masih ada beberapa orang yang masih hidup."
"Dari mana kau yakin, Lisa? Aku tidak mau kau-"
"Katsu, pintu kamar istirahat untuk penjaga tidak dapat dibuka dari luar, dan juga tidak mempunyai jendela. Kupikir mereka tidak mau menghabiskan bahan peledak hanya untuk membuka ruangan yang isinya hanya sebuah kasur."
"Kau berasumsi terlalu jauh, bisa jadi mereka tidak tahu apa isi dari ruangan itu."
"Jika mereka bisa masuk dengan mudah tanpa diketahui penjaga dan tahu bagaimana cara mematikan komunikasi, bisa jadi ada orang dalam yang menyediakan informasi. Dan mengenai ruangan itu.. Semua orang tahu apa isinya kan?"
Tidak ada jawaban dari Katsu.
"Kau ada benarnya juga, tapi kita tidak bisa masuk kesana, lorong itu terlalu sempit untuk HPCG." Ujarku.
Lisa menoleh tajam padaku. "Kau, tuan Andrei, ikut denganku, dan Katsu, sayangku, kau tunggu disini, jangan biarkan orang yang lolos dari kami melewati tempat ini, oke?"
Sial, sial sial sial. Lisa sudah masuk ke sisi lainnya. Kumohon Katsu, jangan katakan iya, tolak perintahnya. Kumohon, aku tidak mau-
"Baiklah, kalian berdua, hati-hati." Ujarnya. HPCG itu bergerak menuju tengah ruangan. Berdiri diantara dua barisan HPCG, menyiagakan senjatanya ke arah pintu masuk, membelakangi lift barang.
"Aku benci kau, Katsu." Gumamku. Ia tidak bisa mendengarku didalam HPCG itu, kemampuan mikrofon HPCG tidak cukup kuat untuk menangkap suara pelan.
"Ayo, Andrei."
"Aku benci kalian berdua." Gumamku pelan.
"Kau hanya kesepian karena tidak punya pasangan, Andrei. Dan kau hanya iri pada kami." Ujar Lisa dengan senyuman di wajahnya.
Uh, haruskah kata-katamu setajam itu, Lisa?
- - -
Lima belas menit kami mencari orang-orang yang masih hidup, namun yang kami temui hanyalah mayat-mayat, baik dari SDR ataupun dari penyusup. Ruangan yang kami tuju itupun dipenuhi oleh lubang peluru dan ratusan selonsong peluru yang berserakan dilantai. Tidak ada yang selamat.
"Lisa, sepertinya memang hanya kita berempat yang tersisa. Ayo kita kembali ketempat Katsu."
Lisa hanya merengut. Ia kesal karena tidak bisa menemukan teman-teman yang masih hidup.
"Ayolah Lisa. Katsu pasti sudah menunggu."
Lisa memukul dinding dengan keras."SIAL!"
Sekarang giliranku yang diam.
"Ayo, Andrei, kita kembali ke tempat Katsu." Ujarnya sambil berlalu.
Seorang bandit terlihat diujung lorong, menenteng sebuah M134 dengan amunisi dan baterai tersimpan didalam tas punggung yang ia pakai. Ia melihat kami. Ia berteriak menggunakan bahasa yang tidak kuketahui. Laras M134-nya mulai berputar dan terarah pada kami.
Aku segera menarik Lisa memasuki sebuah ruangan, menghindari rentetan peluru yang melesat menuju ujung lorong dibelakang kami. Ia terhempas ke lantai karena tarikanku.
"Hampir saja, terimakasih, Andrei." Ujarnya. Ia berdiri dan menyiagakan senjatanya.
Aku menembakkan senjataku kearah bandit itu tanpa melihat, sebuah rentetan tembakan buta dari senjata yang kujulurkan keluar ruangan. Tidak mengenai apapun, kurasa.
Teriakan pria itu berganti menjadi teriakan panik dan kesakitan, diikuti oleh suara ledakan-ledakan kecil beruntun. Peluru tidak lagi beterbangan. Bau hangus dan asap tebal juga muncul dari arah pria itu berasal.
"Uh.. Andrei.. Kurasa aku ingin muntah.. Urk." Ujar Lisa yang mulai berwajah agak pucat, ia menutupi mulutnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menarik-narik lengan pakaianku. Senjatanya tergantung pada sling yang melingkar dipundaknya.
"Uh, um.. Keluarkan saja disudut ruangan, jika ada yang tanya aku akan bilang kalau orang-orang itu yang melakukannya." Ujarku.
Lisa memukul punggungku, keras. Nafasku sedikit sesak karena pukulan itu. Namun ia mengikuti saranku, berjalan menuju ruangan dan memuntahkan apapun yang ia makan tadi siang. "Ueeeeeek.. Blergh.. Bluuuuughh."
Aku mengalihkan pandanganku, membiarkan Lisa untuk mengurusi urusannya. Aku bukanlah seorang yang handal menghadapi situasi seperti ini. Aku mengintip keluar, mencari pria yang tadi menembaki kami dengan M134. Yang ada hanyalah sebuah mayat hangus yang masih terbakar ditempat ia berdiri tadi.
Lisa kembali bersandar disampingku, ia terlihat sangat letih dengan jejak cairan asam dibawah mulutnya. Ia segera menyeka jejak itu dengan lengannya.
"Ada apa?" Tanyaku.
Lisa tersenyum, ia terlihat sangat senang meskipun dalam kondisi seperti ini. "Akan kukatakan nanti, aku harus memberitahu Katsu terlebih dahulu."
Apa-apaan?
-To be continued-
Sidestory I - Heavenly Father, forgive Us for The Trespasses We Are About To Commit
"Alice.. Let me tell you a story, not about me, not about Beatrice, or us. It's about a man, a friend, who shared same fate with me."
- - -
Empat bulan sebelumnya.
"Pernahkah kalian memikirkan apa yang aku pikirkan? Memikirkan tentang apa sebenarnya yang sedang kita lakukan disini. Aku tahu kita adalah personil SDR, tapi aku merasa hampa. Tidak, aku tidak ingin menjadi seorang pengkhianat, tapi.."
Alvaro memukul kepalaku dengan pelan. "Sudah, habiskan saja makananmu, jangan bicara yang tidak-tidak."
"Hei, aku merasa SDR tidak lagi menyenangkan, kita hanya masuk kedalam misi, menembaki apapun yang bergerak, mengambil apa yang kita perlukan dan keluar dari sana berlumuran darah. Semua itu tidak lagi menyenangkan, kau tahu?"
"Kubilang, diam Andrei, jika kau mendapat masalah karena ucapanmu maka aku juga kena imbasnya tahu."
"Aku cuma.."
"Kubilang, DIAM!" Alvaro memukul belakang kepalaku dengan keras, membuat dahiku terhempas ke meja.
Aku meringis kesakitan memegangi dahiku yang sedikit mengucurkan darah. Kurasa luka itu akan membengkak dipagi nanti.
"Dengar, Andrei, kau adalah partner-ku, dan aku tidak ingin kau mendapatkan masalah, karena aku juga tidak ingin dapat masalah, oke? Nah, sekarang aku minta padamu agar tetap menutup mu'lutmu tentang masalah yang kau pikirkan tadi, setidaknya dimarkas."
"Kau tidak perlu memukulku sekeras itu kalau hanya ingin menyuruhku tutup mulut kan?! Kalau aku mati bagaimana?!"
Alvaro memegangi bahuku, ia menggengam bahuku dengan keras. "Dengar, Andrei, aku masih sangat marah padamu, tindakanmu kemarin bisa membuat kita tewas tahu!"
Aku menepis tangannya. "Bukan salahku! Mana aku tahu kalau dibalik pintu itu ada tiga ekor kraken! Dan lagipula kita selamat kan?!"
Alvaro mengenggam kerah bajuku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, menatap mataku dengan tajam. "Kita selamat hanya karena Katsumi ada disana dengan HPCG miliknya. Jika Katsu tidak ada apa kau pikir kau bisa melawan tiga ekor kraken sekaligus?!"
"Sudah kubilang, bukan salahku! Dan lagi, memangnya siapa diantara kita yang hampir terbakar karena menyalakan korek api disamping pipa gas yang bocor?" Ujarku mengejek.
"Kau.."
"Alvaro, kurasa kau terlalu kasar pada Andrei,lagipula toh kalian masih hidup kan? Tidak ada yang patut disesali dan disalahkan." Ujar seseorang duduk bersama kami. Yamashita Katsumi, kalau tidak salah itulah namanya. Meskipun namanya terdengar feminim, tetapi dia adalah seorang lelaki dengan perawakan kurus dan tatapan yang tajam.
"Ya, kau memang terlalu kasar pada Andrei, Alvaro." Ujar seorang lagi. Lisa Carver, seorang perempuan ceria yang selalu menurut pada partnernya, Katsumi. Meskipun ia terlihat lugu dan ceria, tapi aku tahu, dibalik senyumannya itu tersembunyi sosok seorang psikopat yang tidak ingin kau temui dalam ruangan yang sama denganmu.
Alvaro mendorongku dan melepas kerahku. Aku terhempas pada kursiku. Ia memalingkan wajahnya dariku.
"Aku paham apa masalahmu, Andrei. Kau sedang mempertanyakan apa tujuan hidupmu, benar kan?"
Aku mengusap dahi yang berdarah dan berujar pelan. "Memang itu maksudku."
"Pertanyaan seperti itu tidak masalah, bahkan wajar untuk ditanyakan. Aku juga sering mempertanyakan hal yang sama denganmu."
"Lalu, apa kau menemukan jawabannya?"
"Ya, aku menemukan tujuanku." Katsu menatap lembut Lisa dan mengusap rambutnya pelan. "Tujuanku ada didekatku selama ini."
Wajah Lisa memerah,ia berusaha untuk menyembunyikan senyumannya. Pada akhirnya ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Mungkin saja tujuan hidupmu selama ini ada didepanmu, hanya saja kau belum menyadarinya Andrei."
Aku dan Alvaro memandangi mereka berdua, dan kemudian saling menatap satu sama lain.
"Jangan menatapku seperti itu, aku ini pria normal dan tidak akan pernah mau menjadi pacarmu."
"Aku juga tidak mau. Aku ini masih pencinta wanita, aku belum terlalu putus asa untuk mencari seorang pria."
"Belum?" Tanya Alvaro.
"Eh, maksudku, tidak akan pernah."
Mendadak, kami berdua hanya diam. Keheningan yang membuatku merasa ganjil.
"Sumpah kalian berdua seperti pasangan homo."
Alvaro menatap sinis ke arah Katsumi. "Tutup mulutmu."
"Aku serius, maksudku.. Kau terlihat sangat cocok dengan.. Uh.. Aku lupa, sebuah istilah lama.. Turd.. Tundra.. Tura.. Ah, apalah. Pokoknya kalian berdua cocok." Lanjut Katsumi, dengan senyuman kecil menghiasi mulutnya. Pilihan yang burut, Katsu. Alvaro pasti akan mengamuk.
Alvaro mencengkram wajah Katsu, menekan kedua pipi pria itu. "Kubilang diam, Yamashita Katsumi. Atau kau ingin Lisa menjadi seorang janda yang menunggu untuk dieksekusi?"
"Siap pak tidak pak." Ujar Katsu dengan nada ketakutan.
"Bagus." Alvaro melepas wajah Katsu.
Aku dan Lisa hanya terdiam, meneruskan makan kami dalam kesunyian. Kurasa alasan Alvaro belum membunuhku hanyalah karena aku adalah partnernya.
---
"Andrei! Cepat pasang rangkaian pelurunya!" Teriak Katsumi yang bertengger di atas HPCG miliknya. Ia mengutak-atik beberapa antena yang ada di bagian kepala HPCG, ia memangku sebuah laptop yang tersambung ke HPCG melalui kabel-kabel rumit yang tidak terlalu kupahami.
Sementara aku bertugas untuk mengisi magasen HPCG yang terletak di bagian belakang. Rangkaian peluru 30 milimeter sangat berat, apalagi jika jumlahnya mencapai ratusan. Dan semua itu harus kulakukan dengan tangan kosong. Pertama-tama aku harus menenteng kotak-kotak yang berisikan peluru keatas sebuah tangga yang terletak dibelakang HPCG, lalu mengeluarkan rangkaian peluru tersebut dengan hati-hati dan memasukkan peluru itu kedalam magasen, atau lebih tepatnya sebuah kontainer persegi yang ada dipunggung HPCG. Aku harus mengatur timing dan sudut agar bisa memasukkan peluru itu tanpa masalah. Lalu aku harus menarik sebuah tuas yang ada dibagian bawah kontainer, mengeluarkan peluru menuju ventilasi yang terbuat dari campuran karet dan polimer yang menyambungkan kontainer dan senjata. Amat sangat merepotkan jika kau melakukannya dengan tangan. Bukan berarti tidak ada solusi yang lebih mudah, hanya saja aku tidak tahu cara mengoperasikan benda keparat itu.
Pekerjaan ini biasanya dipegang oleh Beatrice, tapi sayangnya ia sedang keluar dari markas, kudengar ia menuju Dome 13. Mengantarkan dan menjemput beberapa barang dari seseorang yang tinggal disana. Orang-orang yang beruntung, Beatrice dan partnernya, seorang pria aneh yang selalu menggunakan HEX walau dimarkas. kalau tidak salah namanya Richard. Aku tidak terlalu mengenalnya, namun sepertinya ia tahu banyak hal tentang personil-personil SDR lainnya. Seorang bandar informasi untuk orang-orang yang membutuhkan saran. Namun, kalau dipikir-pikir aku belum pernah melihat wajahnya, hanya pernah melihat sekilas matanya, itupun tertutup oleh visor HEX.
Di garasi yang cukup luas ini terparkir puluhan HPCG yang berbaris dengan rapi dalam beberapa barisan. Tidak seluruhnya masih operasional, ada beberapa yang rusak, sejujurnya, jumlah yang rusak lebih banyak daripada yang masih bisa dipakai.
"Selesai! Kau sendiri bagaimana diatas sana, Katsu?" Teriakku pada orang yang bertengger jauh diatas kepalaku.
Ia melongok kebawah, melambaikan tangannya. "Sedikit lagi!"
"Hei, Katsu! Memangnya kalibrasi tangan dan radar itu penting?"
"Tentu saja! Aku tidak mau peluruku meleset beberapa sentimeter diatas targetku! Jika kau mau duluan silakan saja! Kurasa Lisa memerlukan bantuanmu untuk menyapu koridor!"
Ah, sial. Perempuan aneh itu mulai lagi. Bukannya aku membencinya, hanya saja sifatnya yang acak itu membuatku resah. Ia sering melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan oleh sistem dasar markas. Seperti menyapu koridor. Pada waktu-waktu tertentu beberapa robot pembersih akan keluar dari kontainernya, menyusuri koridor-koridor. Bukan robot yang terlalu canggih, hanya beberapa buah penyedot debu yang diberi roda dan AI tingkat dasar yang jalurnya telah diatur sebelumnya.
. . .
Astaga, beberapa jam berdekatan dengan Katsu membuatku menjadi seseorang yang sangat paham dengan benda-benda elektronik. Atau tidak.
Menyusuri koridor, mencari seorang perempuan berpakaian seragam berwarna Khaki. Ketemu.
Ia berdiri didepan ruangannya, memandangi sapu yang ada ditangannya. Sebuah sapu yang bisa dibilang hanya tinggal tangkainya. Serat-serat plastik sintetis bertebaran didepannya, mungkin sapu ia yang pakai rontok.
Ia menyadari kedatanganku. "Andrei, anu, ini.." Ujarnya, Ia menunjuk bagian ujung sapu dengan tangan kirinya. "Tidak penting, yang penting, itu.." Lanjutnya. Ia menunjuk dahiku yang terbungkus oleh perban.
Aku mengusap dahiku dan tertawa kecil. "Tidak apa, hanya sedikit memar."
"Uh, kasihan." Ujarnya pendek.
"Kau menyindirku Lisa?" Ujarku penuh curiga.
Lisa menggeleng pelan.
Suara keras bergema dari arah garasi tempatku bekerja tadi. Suara itu sepertinya adalah suara ledakan. Aku dan Lisa segera berlari menuju sumber ledakan. Lisa menyambar sebuah tabung pemadam api dari dinding lorong.
Asap hitam bertebaran diudara, berasal dari rongsokan HPCG yang hancur dan terbakar. Aku tidak melihat Katsumi dimanapun. Lisa menembakkan busa putih ke sumber api, berusaha memadamkan apa yang tersisa dari HPCG yang terbakar.
Aku menarik tuas alarm, memicu sebuah sirene yang memekakkan telinga. Kurasa personil-personil yang berada didekat sektor ini akan segera tiba. Sistem ventilasi yang ada bekerja dengan sangat baik, mencegah ruangan ini dipenuhi oleh asap.
Sebuah cahaya merah mengenai mataku, berasal dari sudut ruangan. Pembidik laser?
Aku segera menarik Lisa kebelakang HPCG.
"Hei!" Protesnya.
"Sshhh, kecilkan suaramu."
Aku mengintip dari balik kaki HPCG menuju arah datangnya sinar laser. Benar saja, seorang pria berjubah berjalan mendekati kami, dikepalanya terpasang sebuah benda yang menutupi sebelah matanya, dan secarik kain menutupi matanya yang satu lagi, kupikir itu adalah NVG. Ia menyiagakan FAMAS kearah kami.
Sial. Aku meninggalkan HK416 milikku didalam loker. Dan aku juga tidak memakai HEX. Dan aku juga tidak bisa mengendarai HPCG. Dan lagi menyalakan HPCG butuh waktu beberapa menit. Aku menatap Lisa. "Lisa, kau bawa senjata?"
Lisa menggeleng. Ditangannya masih ada pemadam api.
"Berikan aku benda itu." Ujarku menyambar tabung merah itu dari tangan Lisa.
Pria dengan NVG berteriak-teriak menggunakan bahasa yang tidak kumengerti. Ia terdengar seperti dengungan yang kasar.
"Kupikir ia bicara dengan bahasa Portugis." Ujar Lisa. "Apa kau mau aku menjawabnya?"
"Memangnya ia bilang apa?"
"Tentang anak-anak, dan, um.. Kekerasan? Kupikir ia juga meneriakkan kata 'mati'."
"Tidak, terimakasih."
Aku melemparkan tabung merah itu kearahnya, berharap tabung itu mengenai kepalanya dan membuatnya jatuh pingsan. Tapi, yah, hal seperti itu hanya ada di kisah-kisah fiksi.
Tabung yang kulemparkan hanya mengenai kakinya, membuatnya memaki-maki dengan keras menggunakan bahasa yang tidak kumengerti. Ia melompat-lompat mengayun-ayunkan kakinya.
Sebuah tembakan.
-To be continued-
CHAPTER IX - THREE
Raphael
Ah.. Sial. Sepertinya aku pingsan. Kemampuan orang itu mengendalikan Handler-nya cukup hebat, bisa melemparku menembus tembok seperti itu. Tapi setidaknya aku sudah membawa Bianca kepada Sheeva.. Sebagian besar dari dirinya.
Punggungku terasa sakit, amat sakit. Tentu saja kan, sampai menembus tembok seperti itu. Kalau saja aku tidak memiliki tubuh ini mungkin aku sudah mati dari awal aku melawannya. Walaupun dadaku terasa nyeri namun apa yang telah lama menggantikan tulang dan dagingku menyelamatkanku. Sebanyak kutukan yang dibawanya sebanyak itu pula keberuntungan yang benda ini bawa, sebuah benda yang dibuat untuk beberapa pekerjaan kotor jauh dibelakang garis pertahanan lawan. Tak butuh waktu lama untuik mengumpulkan kesadaranku yang tercecer dan kembali merasakan indra-indra yang kembali bekerja.
Seorang wanita terisak ditengah-tengah keheningan yang amis.
Aku bangkit, mengusap-usap punggungku yang nyeri. Aku merasakan hawa dingin di kulitku, tubuhku basah kuyup oleh darah, membasahi setiap inci dari pakaianku. Aku mengambil sebuah kacamata dari saku dan memakainya. Barulah semua tampak jelas.
Potongan tubuh manusia, potongan tubuh manusia yang berserakan begitu saja dilantai, sebagian dari mereka masih segar, dan sebagian dari mereka telah mulai membusuk. Orang-orang yang malang, yang tertangkap oleh Children of Violence. Orang-orang yang tidak beruntung, nyawa mereka dikorbankan hanya untuk sebuah proyek gila dari sebuah perkumpulan keagamaan fanatik. Proyek gila yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah menanggalkan kemanusiaan dari jiwanya.
Risk adalah salah seorang dari mereka yang 'terpilih', aku yakin itu. Dipilih untuk sebuah senjata percobaan yang tercipta karena manusia dapat membuat imajinasinya menjadi nyata. Sebuah senjata percobaan yang seharusnya tidak pernah diciptakan. Sebuah senjata yang membuat seorang manusia dapat bermain bagaikan tuhan, memanipulasi benda pada tingkat molekul. Hebat memang, namun kekuatan yang besar pasti memiliki resiko yang besar pula. Sebagian besar personil yang memakai senjata itu berakhir menjadi seorang psikopat.
Wanita yang menangis itu memeluk sebuah tubuh yang terbungkus oleh armor putih, meratapi kepergian nyawa lelaki yang malang, nyawa seorang mitra yang telah lama menemaninya menjelajahi padang pasir. Sebuah pemandangan yang memilukan.
Tubuh lainnya, sebuah tubuh yang amat sangat kukenal, salah satu dari dua orang keponakanku. Ia memakai jas yang sama denganku, F. Ia terbaring disamping Beatrice yang sedang menangisi Richard. Kaku, tak bergerak, diam.
Tubuhku bergetar. Bergetar karena menyadari kegagalanku yang terulang. Bergetar karena rasa marah dan benci pada diriku sendiri yang tak bisa menepati janji pada Sheeva, dua kali. F.. Kau.. Kau bisa merasakan kepergian Sofia, benar kan? Tak kusangka kalian berdua akan meninggalkan aku dan Sheeva dihari yang sama.
Aku maju dan menyentuh pundak Beatrice. Tak ada respon apa-apa. Rambutnya yang panjang terurai menutupi matanya. Aku dapat melihat air mata yang jatuh dan menetes membasahi wajah Richard yang terlihat tenang, sangat kontras dengan Richard yang masih hidup.
"Yazoth.. Tak kusangka kau akan memberiku ujian seperti ini.. Maafkan aku yang terlalu angkuh dalam memberikan keselamatan kepada orang-orang yang menentangmu." Sesosok manusia yang bersandar di ujung ruangan. Tak perlu waktu lama untuk menebak siapa. Suara yang telah terekam dalam ingatanku, sebagai suara sumber kegilaan yang terjadi di gedung ini. Sebagai perancang proyek yang tidak dapat kuterima.
Ia berjalan tertatih, memegangi perutnya yang mengucurkan darah.
Bianca, keterlambatanku adalah petaka untukmu, aku tidak bisa mencapaimu tepat waktu. Kau dikurung di ruang bawah tanah, menunggu giliranmu untuk dipotong-potong dan menjadi bahan dari proyek gila itu. Seharusnya aku bisa datang lebih cepat untuk menyelamatkanmu dan Sofia.. Namun, akhirnya mereka dapat menyentuhmu dan Sofia. Kau kehilangan kakimu, karena aku. Orang-orang fanatik ini, sebenarnya seperti apa tuhan yang mereka sembah? Mereka sanggup melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan pada manusia sambil tertawa.
Isak tangis itu berhenti. Rambut Beatrice terangkat oleh udara panas yang entah datang darimana. Tubuhnya bergetar, tidak, udara yang ada di sekitarnya bergetar, bagaikan ada hawa panas disekitarnya. Apalagi yang terjadi disini?
"Dia pacarmu?" Tanya Risk dengan santainya. Ia mengayunkan tangan kanannya, melemparkanku beberapa meter. Kekuatannya terasa seperti sebuah pukulan yang menghantam perutku.
"Dia adalah orang yang cukup menarik, teriakannya aneh, apa pacarmu itu kelelawar?"
Sama sekali tidak lucu, Risk.
Aku bangkit dan menyambar sebuah SG552 yang tercecer di lantai, entah milik siapa. Kuarahkan senjata itu pada Risk, jari telunjukku menjepit pemicu dengan keras. Peluru-peluru yang kutembakkan hanya berhenti didepan Risk. Sial, kekuatan ini lagi. Yang kubutuhkan saat ini adalah seorang teman untuk menyerangnya dari belakang.
"Kalian tidak pernah belajar, senjatamu tidak ada gunanya!"
Peluru-peluru itu berjatuhan di depannya.
"Matilah!" Ia menjentikkan jarinya.
Suara tulang yang patah terdengar keras ditelingaku, tangan kiriku mati rasa. Tulang-tulang mencuat menembus otot buatan tua itu, mengalirkan darah menuju kebebasan mereka dari tubuh tua ini.
"Kau hanyalah manusia fana!"
Tubuhku sudah sampai batasnya, aku terdiam kaku seperti patung, tidak dapat menggerakkan satu jaripun, hanya dapat menggerakkan kepala dan mulut untuk bicara. Semua serangan yang dilancarkan Risk tadi menghabiskan energi yang dibutuhkan otot-otot artifisial ini untuk bergerak. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan sisa-sisa energi yang ada.
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku adalah utusan tuhan! Utusan tuhan yang telah kembali dari surga! Ia datang untuk menolong kita semua, kau tahu?! Yazoth telah datang ke dunia yang hancur ini!" Ia berteriak dengan kerasnya. Senyuman lebarnya menunjukkan ketidakwarasan otaknya.
"Lalu? Siapa yang peduli? Siapa yang akan peduli tentang tuhanmu yang pulang dari liburannya?" Ujar Beatrice. Suaranya terdengar bergetar karena amarah dan kesedihan.
"Jika tuhanmu itu memang tuhan, mengapa ia tidak datang sebelum dunia ini hancur!? Mengapa ia tak pernah mendamaikan dunia sebelum perang terjadi!? Mengapa?!" Bentak Beatrice.
Risk hanya diam. Senyumannya mengendur.
"Kau.. Kau meragukan tuhanku! Kau meragukan Yazoth! Mati! Mati! Mati!"
Risk mengganas, ia maju dan menerjang Beatrice, sebuah pukulan tertuju ke wajah Beatrice.
Memalukan.. Yang namanya barang rongsokan tetaplah barang rongsokan. Tubuh tua ini melebihi batasan yang ada, membuatnya kaku dalam keadaan yang sangat dibutuhkan. Mungkin seharusnya aku mencari baterai yang baru sebelum aku datang kemari.
Sebilah pedang menembus tubuh Risk, menikamnya menembus tulang rusuk yang berderak. Seorang wanita berambut ekor kuda berdiri di antara Risk dan Beatrice. Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan memegang gagang pedang dengan erat. Tulisan SWAT tertulis di rompinya. Apa kepolisian Dome sudah menganggap kalau masalah CoV ini adalah masalah yang cukup serius?
"Ksh.. Ahaha.. Aku jangan dilupakan, dasar kau." Ujarnya, entah bicara pada siapa. Matanya tertuju tajam pada Risk.
"Jangan.. Remehkan.. Aku! GAAAH!"
Risk masih bergerak, ia belum ingin tumbang. Ia menggenggam tangan kanan wanita itu dan menghancurkannya dalam satu genggaman.
"Ahn~ Kau itu kuat ya?" Ujar wanita itu dengan santainya. Ia menarik tangan kanannya dengan kuat, membuntungkan tangannya. Dari puntung lengannya mencuat kabel-kabel dan tulang logam. Lengan buatan?
Ada apa lagi ini..
Risk berusaha mencabut pedang dari dadanya dengan susah payah dan memegang lukanya dengan Handler.
"Jangan.. Remehkan.. Yazoth!" Ujarnya. Ia menyentak pedang itu lepas dari dadanya.
"Mati! Kau o-"
Sebuah tembakan membungkam Risk. Sebuah peluru menembus kepalanya. Ia tumbang membentur lantai. Tangannya kejang seakan tidak mau mati.
"Kecil, tapi berguna." Ujar wanita itu. Ia menimang sebuah Colt model 1908 dengan sepuhan nikel dan gagang mutiara.
"Kau tahu, tuan, ukuran bukanlah masalah, yang paling penting dimana dan kemana kau menembakkannya." Ujarnya. Ia memasukkan pistol kecil itu kedalam sakunya dan berjalan kearahku.
Beatrice hanya menatap kosong kearah Risk yang telah tumbang. Tubuh pria itu telah terbaring tak bergerak dilantai.
"Hei, bisa aku minta tolong padamu?" Ujarku padanya.
"Apa?"
"Tolong jauhkan segala senjata dari wanita yang ada disana, bisa?"
Ia mencabut dua buah M1911 dari holster punggungnya. Salah satunya adalah M1911 longslide sepuhan nikel milik Richard, dan yang satunya M1911A1 hitam arang yang entah milik siapa. Ia juga menendang sebuah MP7 kearahku.
"Terimakasih."
"Sama-sama. Kulihat kau agak.. Sedikit kaku, terlalu keras dalam bermain? Hmm?" Ia maju dan memelukku dari belakang.
"Maaf, nona, kurasa tidaklah sopan melakukan hal ini pada orang asing."
"Aku tidak melakukan apapun.. Hanya.. Membuatmu sedikit lemas."
Mendadak, kekakuan tubuhku hilang. Tanganku sudah dapat digerakkan meskipun masih sedikit bergetar. Entah apa yang ia lakukan dibelakang sana, apapun itu, aku menjadi tertolong.
"Kau seharusnya mengganti bateraimu, sayang.." Ujarnya. Ia mengusap daguku. Astaga.
"Ah.. Colt milikku.." Ujar Beatrice. Ia memeriksa holster yang ada dipahanya.
"Ingin meledakkan kepalamu sendiri, nona?"
"Ya.. Partnerku tewas."
"Untuk apa? Peraturan SDR?"
Beatrice tidak menjawab.
"Atau mungkin ada alasan lain?"
Beatrice masih tidak menjawab. Ia hanya menempelkan jari telunjuknya ke pelipis kepalanya.
Wanita itu maju dan menerjang Beatrice, menindih dan menahan tubuhnya. Suara ledakan terdengar keras. Bongkahan besar perut wanita itu hancur berhamburan seperti terkena peluru. Tidak ada darah, tidak ada daging, yang ada hanyalah komponen-komponen logam yang berserakan. Jari telunjuk Beatrice mengarah pada bagian yang berlubang pada tubuh wanita itu.
"Memangnya kau pikir Richard akan senang dengan kematianmu, hah?" Ujar wanita itu. Ia terlihat sama sekali tidak terganggu dengan perutnya yang berlubang. Ia hanya dapat menahan salah satu tangan Beatrice.
Aku berdiri dan berjalan tertatih kearah Beatrice.
"Beatrice, anakku. Hari ini kita kehilangan tiga orang teman.. Richard, F dan Sofia.. Aku dan Sheeva tidak ingin kehilangan lagi.. Aku akan menjagamu dari SDR.. Kumohon.." Aku berlutut disampingnya.
Wanita itu menjatuhkan dirinya dari atas tubuh Beatrice. Ia terbaring disamping Beatrice, mengacungkan ibu jarinya kepadaku. Ekspresi wajahnya tidak berubah meskipun kerusakan pada tubuhnya terlihat sangat mengerikan.
"Kamu tidak bisa Ralph, mereka pasti akan menemukanku.. Lagipula aku gagal, ada peraturan yang harus kuturuti, kami adalah SDR.."
Aku memeluknya erat.
"Cukup.. Tiga kematian sudah cukup.. Kumohon.." Air mataku jatuh menetes.
C RI M SO N S KY
CHAPTER VIII - DOME
The Gap merupakan nama hamparan padang pasir yang sangat luas, gabungan dari beberapa gurun pasir yang telah menyatu di Amerika Serikat mencakup enam puluh persen daratan Amerika Serikat yang muncul karena hancurnya kota-kota besar dalam ledakan nuklir pada akhir perang dunia ketiga. Setelah keadaan permukaan aman, orang-orang bermunculan dan mendirikan kota-kota yang diselubungi kubah yang sangat besar dan luas, kubah tersebut dinamakan 'Dome'.
Ditengah-tengah gurun itu terletak markas SDR, markas bawah tanah yang merupakan fasilitas militer eksperimental dengan daya tampung lima ratus personil. Didesain sebagai markas perlindungan rahasia National Guard, markas ini sangatlah luas, mungkin dapat disebut sebagai kota kecil.
Yang kupikirkan saat ini bukanlah markas SDR atapun para personilnya, namun suatu fasilitas tertentu yang ada di markas, yaitu Hangar Heavy Purpose Combat Gear. N2552, nomor seri HPCG milikku dan Bice yang terparkir di Hangar tersebut. Sudah lama aku tidak memasuki kokpit N2552 dan melihat panel-panel konsil berisi informasi keadaan integritas kontrolnya.Mungkin mengutak-atik mesin HPCG dan melakukan sedikit perubahaan disana-sini untuk mendapatkan efektifitas gerakan yang bagus. Selalu lebih menyenangkan daripada duduk disebuah kantin personil yang sepi, hanya ditemani oleh seorang gadis kecil yang sedang memasak didapur kantin. Aku dapat melihatnya punggungnya dari sini, seorang gadis dengan postur tubuh yang langsing alias tipis sana-sini, tangan kiri yang mungil dan juga.. Um.. Bagian tertentu yang juga rata.
Sebuah piring melayang dari arah dapur, dilemparkan oleh gadis tadi... Alice, kurasa itulah namanya. Piring itu hampir saja mengenai kepalaku.
"Hale! Aku bisa membaca pikiranmu tahu! Kau sedang memikirkan tentang ukuranku kan?! Memangnya aku serata itu?" Teriaknya. Wajahnya memerah, ia meraba dadanya dengan tangan kirinya, mengukur gundukan daging yang ada disana. Namun.. Tetap saja rata. "Hale! Berhenti mengatakan kalau aku ini rata!" Teriaknya lagi. Ia membalikkan badannya dengan kesal, menghadapkan punggungnya padaku dan kembali pada masakannya yang entah apa.
"Aku memasakkan sayuran untukmu, karena kamu baru saja keluar dari sana kan? Kamu akan butuh banyak nutrisi!" Ujarnya dengan riang. Meskipun hanya memiliki satu tangan kiri, gerakan Alice cukup lincah, ia dengan piawai memainkan dan mengayunkan pisau di antara jari-jarinya, memindahkan dan memotong-motong benda hijau yang entah apa dengan gesit.
"Terima kasih! Dan benda hijau ini adalah sayuran, mungkin diluar sana sudah sangat jarang ya?" Ujarnya riang.
Dia.. Membaca pikiranku lagi kan?
"Yep!"
Jika dipikir-pikir lagi.. Alice memiliki tubuh yang indah dan sempurna, sangatlah manis. Ia sangatlah anggun didalam gaun putihnya. Rambut pirang panjangnya tergerai lepas, tertiup angin halus yang ada di dalam ruangan membuatku menganga.
Suara hentakan tunggal pisau yang keras terdengar dari dapur. Alice, ia bergetar entah karena marah atau malu. Wajahnya kembali merah. Ia membalikkan badannya dan menatapku dengan tajam. Bulir air mata terlihat disudut matanya.
Hei.. Apa salahku?
"Hale.. Kau mengatakan itu hanya untuk menyenangkanku, iya kan?" Ia bergetar menahan tangis.
Ah, tidak.. Aku... Alice.. Kumohon, berhentilah membaca pikiranku! Berilah aku sedikit kebebasan disini! Bagaimanapun aku adalah tokoh utama cerita ini tahu! Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan pada pembaca apa yang terjadi disini kalau kamu terus-terusan membaca pikiranku?
"T-tapi.."
Dan juga.. Aku jujur sewaktu aku mengatakan kalau kamu itu manis.
Ia tersenyum malu, tersipu karena kata-kataku.
Maukah kau berjanji padaku, Alice, berhentilah membaca pikiranku, kecuali aku yang memberimu izin dan keadaan darurat, mulai dari sekarang.
"Baiklah!" Ujarnya dengan riang, ia kembali meneruskan masakannya, yang sedari tadi belum juga selesai. Mungkin ia menyiapkan masakan spesial atau apa.
Ah, dasar Alice. Sampai-sampai aku lupa apa yang kupikirkan karenanya.
Ah, tentang Alice, ia adalah gadis berumur sama denganku, namun entah kenapa terperangkap ditubuh gadis pirang kecil yang seperti baru berumur dua belas sampai empat belas tahunan, sangat sesuai dengan sifatnya yang kekanak-kanakan. Aku hanya bisa memaklumi, dua belas tahun terperangkap disini,di fasilitas laboratorium bawah tanah ini tanpa kontak dengan manusia dan menunggu orang yang sudah melupakannya membuatnya memiliki sifat itu.
Tentang ingatanku.. Aku belum sempat menanyakannya pada Alice, ia langsung menarikku ke ruangan ini untuk makan. Tubuhku hanya dibungkus oleh sebuah selimut yang hangat. Sial.
Tentang Bice. Entah berapa hari aku dimasukkan kedalam tabung itu, yang sepertinya memulihkan lukaku meskipun lubang yang ada dijantungku, hei, lubang dijantung dapat menyebabkan kematian seratus persen. Mungkin teknologi baru milik BCE. Jika sudah lewat seminggu, mungkin Bice sudah dieksekusi didepan publik SDR.
Sial.
"Ayo dimaka~n!" Ujar Alice yang meletakkan sebuah panci diatas mejaku. Wajahnya terlihat sangat riang. Alice menarik sebuah kursi dan duduk didepanku.
"Hei." Ujarnya. Ia kembali meraba dadanya. "Ukuranku tidak separah itu kan?"
Aku hanya menatapnya dengan aneh. Aku.. Aku merasa tidak nyaman mendengar anak kecil menanyakan hal seperti itu padaku. Alice menepuk dahiku.
"Aih! Hale! Kau pasti sedang memikirkan hal yang tidak-tidak!" Ujarnya. Ekspresi wajahnya terlihat lucu, dengan dahinya yang mengkerut dan juga pipinya yang menggembung, sebuah pemandangan yang tidak biasa kulihat di luar sana. Aku mengalihkan pandangan ke dalam panci. Entah mengapa.. Benda-benda hijau yang mengapung di dalam air yang ada di dalamnya membuat air liurku menetes sekaligus memualkan perutku. Ada perasaan aneh yang bergejolak dalam perutku, sepertinya asam yang bersemayam disana meminta tumbal, sementara naluriku menolak untuk memasukkan benda-benda hijau itu. Benda itu tiba-tiba membuka mata dan mulut mereka, tertawa. Mereka menertawakanku. Tawa mereka berdengung di dalam telingaku.
Keringat dingin menetes di dahiku, aku menelan ludah. Tawa mereka.. Tawa mereka memasuki setiap bagian yang ada di otakku, mengais-ngais dan mencabik-cabik selaput-selaput lunak yang ada di otakku. Aku merasa bagaikan seorang kurcaci kecil yang dikelilingi oleh benda-benda hijau raksasa yang tertawa-tawa, menatapku dengan pandangan yang tajam. Aku jatuh.
Tak ada harapan lagi.. Benda-benda hijau itu telah membuktikan bahwa mereka lebih baik daripada aku. Aku tenggelam dala-
"Hale! Kamu kenapa?" Suara Alice membawaku kembali ke kantin personil. Ia menempelkan tangannya ke dahiku, sepertinya memeriksa suhu badanku.
"Kau mengucurkan keringat dan bergetar hebat Hale, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya.
"A-aku tidak apa-apa.." Jawabku sedikit tergagap.
"Kamu.. Tidak mau makan masakanku?" Ujarnya.Ia tertunduk, terlihat sedikit kecewa.
"Kenapa kamu tidak mau makan masakanku?" Tambahnya.
Ralat, benar-benar terlihat sangat kecewa. Aku sepertinya dapat melihat sebuah awan hitam melayang-layang di atas kepalanya.
"Ah.. Itu.. Itu.. Uhm.. Karena kamu belum memberiku sendok?" Jawabku panik.
"Ah! Maaf, aku lupa!" Ujarnya cepat. Ia segera berdiri dan berlari menuju dapur, mengambil sebuah sendok dan kembali ke mejaku dalam waktu yang cukup singkat.
"Ini!" Teriaknya riang. Ia menyodorkan sendok itu padaku. Syukurlah, kelihatannya ia tidak lagi kecewa.
Aku mengambil sendok itu dari tangannya. Aku menghela nafas panjang. Dengan terpaksa aku mengambil sebuah benda hijau yang ada di dalam panci. Dengan rasa takut dan terpaksa aku memasukkan benda itu ke dalam mulutku.
Sejuta sengatan listrik mengenai lidah dan tubuhku, bulu kudukku berdiri. Tulang punggungku serasa tertusuk oleh rasa dingin yang menjalar. Aku hanya menganga, tak sanggup untuk berkata-kata. Air mataku mulai turun karena sensasi yang kurasakan ini.
"Ada apa, Hale?" Ujar Alice yang duduk di depanku. Ia menatap wajahku dengan ekspresi penasaran.
Tanganku bergetar.
"Hale?"
Dadaku sesak.
"Uh.. Kamu.. Kenapa?"
"E..e-e..."
"Ee?"
Aku menarik nafas panjang.
"Hale?"
"EEENAAAAAAAAK!" Teriakku.
Alice hanya memandangiku cemas saat aku menghabiskan seluruh isi panci itu.
***
Jika lewat seminggu, MUNGKIN Bice sudah dieksekusi oleh SDR. Mungkin. Apa yang sedang kupikirkan, terlalu cepat menyerah begini? Melanggar etos kerja personil SDR. Aku tidak boleh berputus asa begini, jika Bice mungkin sudah tewas, berarti ada kemungkinan Bice masih hidup.
Sebuah senyuman muncul di wajahku, saat aku menyadari kebodohanku. Tidak ada alasan untuk menyerah, tidak ada alasan untuk berhenti. Aku hanya perlu melakukan apa yang kupercayai itu benar.
"Alice.." Ujarku. Menggenggam erat sendok yang kupegang, membengkokkan gagangnya.
"Ya?"
"Berapa lama dari sini ke Dome 13?" Tanyaku dengan tatapan tajam pada Alice, tatapan yang terdeterminasi yang kumiliki.
"Tiga hari, kalau jalan kaki."
"Maaf, aku harus pergi. Bisakah kau tunjukkan padaku pintu keluar?" Tanyaku. Aku berdiri, memakai selimut seperti sebuah jubah.
"Eeh? Langsung pergi? Kan kamu baru satu-dua jam berada disini!" Ujar Alice. Ia berdiri dan menggebrak meja karena heran.
"Maaf, nyawa seseorang bergantung padaku saat ini Alice, dan aku tidak ingin orang itu kehilangan nyawanya jika aku terlambat menemuinya."
Alice menutupi wajahnya, ia terisak. "Aku.. Aku tidak ingin berpisah lagi darimu Hale! Aku tidak mau.. Huaa.."
"Setelah aku menemukannya, aku akan kembali kemari, percayalah." Ujarku berusaha menenangkannya. Aku mengusap air matanya dengan tanganku.
"Tidak! Aku tidak mau.. Aku tidak ingin sendirian lagi.. Aku tidak mau berpisah.. Tetaplah disini.." Ujarnya. Ia menghempaskan tubuhnya padaku, memelukku dengan erat.
Aku merasa berat untuk meninggalkan Alice sendirian disini, yang mungkin pernah kulakukan pada waktu dahulu. Namun.. Aku merasa lebih berat untuk membawanya keluar sana, ke padang pasir yang berbahaya itu.
"Aku akan ikut denganmu!" Ujarnya. Mengatakan kata-kata yang paling kutakuti.
Membawanya keluar, selama tiga hari menuju Dome 13, dan akupun tak tahu Dome 13 berada dimana. Aku tak tahu arahnya, mungkin butuh waktu lebih dari tiga hari bagiku untuk mencapai Dome 13. Hal seperti itu membuat perasaanku tidak enak, bagaimana kalau aku tidak bisa menjaganya?
"Dua jam, menggunakan ATV yang ada di Hangar, dan disana terdapat sebuah peta yang menunjukkan lokasi seluruh Dome yang ada di benua ini." Ujar Alice yang masih membenamkan wajahnya di perutku.
Kamu.. Membaca pikiranku lagi?
Alice tidak menjawab, ia menarikku keluar dari kantin, menyusuri lorong-lorong beton yang cukup terang karena pencahayaannya masih bekerja. Kurasa pembangkit listrik yang ada di fasilitas ini masih bekerja dengan baik.
"Kamu tidak akan kubiarkan keluar sendirian! Apalagi tanpa pakaian begini!"
Alice menarikku ke dalam sebuah ruangan luas yang berisikan rak-rak senjata yang tergantung di dinding. Woah. Sebagian dari rak itu sudah kosong, mungkin dibawa oleh orang-orang saat keluar dari sini, dan sebagian lainnya tertinggal dalam keadaan cukup baik, tanpa ada debu satupun yang melekat.
"Aku datang kesini sekali seminggu untuk membersihkan mereka, karena aku tidak memiliki banyak hal untuk dikerjakan disini.." Ujar Alice dengan wajah bangga. Ia memegang pinggangnya dan membusungkan dada.
Aku mengusap kepalanya.
"Terima kasih." Ujarku.
"Aku akan ke kamarku dulu."
"Hei!" Namun Alice telah menghilang di koridor.
***
Aku mengelilingi ruangan, melihat-lihat benda yang dapat kugunakan. Cukup banyak senjata yang ada di dalam lemari yang terletak di bagian atas, namun hanya ada tiga jenis senjata. M16, mungkin tipe A4, Barrett M98B dan.. TDI Vector? Kurasa aku akan membawa M16 sajalah. Pandanganku teralihkan menuju rak senjata bawah yang tertutup, semuanya terkunci dengan gembok yang dapat dibuka dengan memasukkan angka tertentu dengan cara memutar bundaran yang ada. Mari kita lupakan rak itu untuk saat ini.
Dua buah lemari yang berbeda warna yang ada di sudut ruangan menarik perhatianku. Tulisan 'Hazardous Environment eXoskeleton' yang terpampang di sudut salah satu lemari berpendar, seakan meminta perhatianku. Senyumku merekah. Sebuah HEX menantiku di dalam ruangan ini, sebuah powered armor yang kuat serta ringan dan dapat membuat gerakanku menjadi cukup ringan dapat kupakai segera. Dengan perasaan tidak sabar aku memegang gagang pintu lemari itu dan menariknya dengan perlahan. Kosong.
Entah mengapa, aku bisa mendengar tawa seseorang yang berada di dimensi yang sama sekali belum aku ketahui, karena melihat seorang Richard Imran terpancing dengan lemari HEX yang kosong. Lelucon yang sangat garing, dapat kupastikan hal itu untuk orang yang ada di dimensi sana.
Dengan perasaan setengah hari kulirik lemari yang ada disampingnya, sebuah lemari yang lebih kusam jika dibandingkan dengan lemari HEX yang ada didepanku. 'Juggernaut Class Hazardous Environment eXoskeleton.' Nama yang cukup bagus. Dapat dipastikan kalau lemari ini juga kosong. Namun, aku tetap membuka pintu lemari itu dengan setengah hati.
Perkiraanku salah. Satu set HEX menyambutku. Mereka tergantung di dalam dengan tenangnya. Senyumku kembali merekah. Terima kasih! Orang yang ada di dimensi lain! Aku berhutang padamu! Tapi.. Tidak akan ada lelucon lainnya kan?
Dengan semangat aku mengambil apa yang kuperlukan, dan menghabiskan waktu dua puluh menit untuk memakai itu semua. Alice masih belum kembali.
'Juggernaut Class Hazardous Environment eXoskeletion' ini terlihat lebih tebal dibandingkan dengan HEX biasa, dengan tambahan pada pelindung bagian belakang yang lebih tinggi. Bagian luarnya masih ada tempat untuk mengaitkan kantong-kantong peluru dan granat. Sistem vest modular, heh. Helmnya juga lebih tebal pada bagian telinga dan dahi.
Oke, aku sudah berpakaian, sekarang hanya tinggal persenjataan. Apa aku harus membawa M16? Atau sebuah Barret? Yang pasti aku tidak ingin membawa TDI Kriss. Aku memiliki sedikit insiden yang masih meninggalkan trauma dengan senjata itu.
"Kamu siapa?! Dimana Hale!" Teriakan Alice bergema di seluruh ruangan. Aku mengalihkan pandanganku ke arah datangnya suara.
Alice berdiri di pintu masuk, membawa sebuah tas punggung dan sebuah boneka beruang. Ia memukuliku dengan boneka itu. Ia kembali menangis. "Mana Hale! Mana! Dimana dia!" Teriaknya.
Aku menahan tangannya, dan memeluk tubuhnya yang kecil itu sebelum ia melukai dirinya sendiri. HEX menjadi cukup keras jika mengalami pukulan. "Hei! Tenang! Ini aku, Hale!"
"Eh?" Ujarnya heran. Aku melepaskan pelukanku.
"Itu.." Ia menunjuk ke arahku dengan wajah heran.
"Menyeramkan, yah, aku tahu.."
"Ah, Hale! Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu!" Ujarnya. Ia berlari kecil menghampiri rak yang terkunci tadi. Ia memutar gembok itu dan membuka rak. Di dalamnya, terdapat sebuah koper besar yang memanjang. Ia memberi kode padaku untuk mengambil koper itu. Koper itu cukup berat, mungkin lima belas kilo atau berapa lah. Aku meletakkan koper itu di lantai, dan Alice membukanya.
Didalamnya, terdapat sebuah revolver besar, maksudku.. Sangatlah besar. Entah orang gila senjata mana yang membuat revolver dengan barel yang terlalu panjang ini. Selain itu, juga ada sebuah stock dan lembaran-lembaran kertas, mungkin cetak biru dari senjata ini. Revolver dan stock itu tersusun rapi di dalam koper, sementara lembaran-lembaran kertas terlipat di kantong atas. Aku tidak dapat melihat peluru dimana-mana, melihat dari ukuran silindernya, mungkin revolver ini menggunakan kaliber .50 atau lebih. 'CR343 Artemis', itulah yang terukir di pelindung barel senjata ini. Groovy.
Aku kembali menutup koper itu. Melihat benda ini membuatku pusing.
"Hale, maukah kamu membawa senjata ini bersama kita? Aku.. Aku ingin mencoba menembakkannya suatu hari nanti." Pinta Alice dengan wajah memelas padaku. Yang benar saja, tubuhmu yang kecil seperti itu menembakkan senjata sebesar ini? Melihat panjang barelnya saja membuatku takut!
"Kumohon?"
Hm.. Baiklah.. Akan kita bawa benda ini, dan.. Mungkin aku mengenal seseorang yang bisa membuat peluru untuk senjata ini.
"Ya?"
Hei! Bukannya aku sudah bilang.. Ah, maaf, kamu tidak membaca pikiranku, anak baik. Aku mengelus rambutnya lagi.
"Baik, kita bawa." Ujarku.
Aku memperhatikan Alice, melihatnya dari ujung kaki sampai ke kepala. Ia masih memakai gaun putih yang ia pakai tadi.
"Kau pasti bercanda kan?"
"Eh?"
"Pakaianmu, apa cuma pakaian ini yang kau punya?"
"Tidak, aku punya yang lain.. Tapi cuma yang ini yang cukup ringan."
Aku memegang pundaknya dan memutar tubuhnya menghadap keluar. Ia hanya menurut.
"Ganti pakaianmu, pakai jaket ataupun pakaian lainnya yang memiliki lengan panjang, dan juga pakai celana, jangan terlalu sempit dan jangan terlalu lapang, untuk memudahkan gerakan. Mengerti?"
"Hee? Tapi kan.." Wajahnya terlihat tak setuju.
"Sudahlah, cepat."
Alice mengangguk dan keluar dari ruangan secara terburu-buru. Aku menghela nafas, mengambil sehelai kain tebal yang ada di meja yang ada ditengah ruangan, mengibaskannya untuk menerbangkan debu yang ada.
Aku menyandang kain itu, dan mengambil sebuah topeng gas yang ada di meja. Aku memandangi topeng itu untuk beberapa saat.
Apa sebenarnya yang sedang kulakukan? Membawa anak kecil keluar dari tempat yang aman, menuju ke dunia luar yang mungkin belum pernah ia lihat, sebuah dunia yang dipenuhi oleh sampah-sampah radioaktif, gas-gas beracun yang beterbangan dimana-mana, monster-monster bertentakel tajam dan haus darah, para fanatik keagamaan yang pedofil, dan juga orang-orang putus asa yang mencari perlindungan dibalik tembok yang membatasi sentral dome dengan bagian luar.
Aku terduduk, bersandar di meja dan memegangi kepalaku yang mulai sakit. Apa yang seharusnya kulakukan? Sejenak, keputusan untuk meninggalkannya disini adalah keputusan terbaik, namun.. Auranya yang memancarkan kesendirian dan kesepian membuatku iba. Lagipula.. Ia bilang kalau akulah orang yang ia tunggu, ia sangat mengharapkanku, ia bahkan menyebut dirinya sebagai milikku.
Aku tidak bisa.. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, tapi aku juga tidak bisa tinggal disini, ada hal yang harus kulakukan, ada seseorang yang harus kutemui.
C R I M S O N S K Y
CHAPTER VII - LOST IN MEMORIES
Tewas di pelukan orang yang kau cintai hanya ada pada cerita-cerita roman dan film-film drama. Pada kenyataannya, kau memerlukan keberuntungan yang sangat besar agar orang yang kau cintai ada disampingmu saat kau mati.
Dan juga, tidak ada masalah yang terselesaikan dengan kematian, kau hanya akan meninggalkan luka dan masalah baru bagi orang-orang yang kau sayangi, seperti yang telah kulakukan pada Bice.
Apa aku telah memberitahu kalian bahwa Beatrice Castillo adalah Partner-ku? Jika aku telah mengatakannya, sekarang akan kujelaskan mengapa aku telah memberinya sebuah masalah.
Partner, pasangan kami yang telah ditentukan semenjak kami lahir. Kami harus menjalani hidup bersama-sama, kami tidak boleh terpisah dengan alasan apapun, kami harus kembali bersama-sama ke markas, dan kami juga harus mati bersama-sama.
Partnership adalah sebuah hukum yang ada pada tubuh SDR, sebuah organisasi Militer Privat yang bekerja untuk siapapun yang mau membayar.
SDR menjalankan hukum ini sejak awal pendiriannya, dan mereka tidak akan membiarkan satu orangpun melanggar hukum itu, siapapun. Baik para personil tingkat enam, pasukan elit milik SDR maupun pemimpin SDR sendiri.
Beatrice, kuharap Ia tidak bunuh diri disamping mayatku.
Mati itu sama sekali tidak menyenangkan, kau tahu orang yang kau sayangi dalam bahaya namun kau tidak dapat berbuat apa-apa, selain terjebak di sebuah dimensi hitam yang dingin, tanpa ada satu orangpun yang menemani.
Sepertinya tidak ada yang namanya surga ataupun neraka, tapi, jika aku boleh berpendapat, tempat ini adalah neraka itu sendiri.
Apa yang harus kulakukan.. Tidak, apa yang BISA kulakukan? Aku hanya melayang-layang tanpa berat di tengah dimensi hitam ini.
Ah.. Kuharap.. Bice baik-baik saja.
<i>"Sepertinya ia sangat berharga bagimu, Hale?"</i> Sebuah suara mengagetkanku, suara seorang perempuan.
"Ya, dia memang sangat berharga bagiku.." Jawabku.
Terkadang, aku heran pada diriku sendiri, mengapa aku mau menjawab begitu saja pertanyaan orang yang tidak kukenal dan memanggilku tidak dengan namaku. Namun.. Entah kenapa, nama Hale itu sangatlah familiar.
Sebuah tangan yang halus dan sejuk menyentuh dahiku.
Perempuan itu, perempuan tanpa tangan itu. Ia berdiri tegak sementara aku melayang-layang tanpa beban. Ia tersenyum padaku.
"Dan.. Siapa kau? Seorang teman masa kecilku yang telah lama hilang?" Ujarku dengan sinis.
Ia kaget, ia terlihat benar-benar heran dengan apa yang kuucapkan. Ia menutup mulutnya sementara matanya melihat kearahku dengan heran.
"Apa kau tersinggung karena ucapanku?" Tanyaku.
Ia masih diam karena kaget, tangan kirinya masih menutupi mulutnya.
"Uh.. Nona?"
Dari pelupuk matanya, sebutir air mata mengalir.
"Nona?" Tanyaku lagi. Perasaan tidak enak memenuhi tubuhku, aku baru saja membuat seorang perempuan menangis karena kata-kataku.
"Hale.." Ujarnya pelan.
"Kau masih ingat padaku?" Ujarnya dengan senyuman, ia menyeka air matanya.
"Err.. Tidak, tidak sama sekali.. Maaf."
"Tak apa, kita memang sudah lama sekali, Hale.. Walaupun hanya dua belas tahun, namun bagiku terasa ratusan.." Ujarnya.
"Er.. Maaf, bisakah kau memberiku namamu terlebih dahulu? Mungkin aku bisa mengingatnya jika kita pernah bertemu dahulu." Pintaku.
"Namaku? Ah, mungkin kau benar.. Namaku Alice."
Aku berfikir dengan keras, berusaha mengumpulkan kepingan ingatan yang ada.
"Bagaimana, Hale, kau sudah ingat padaku?" Tanyanya. Ia menatap penuh harap padaku.
Aku menggeleng, tidak, tidak ada satu orangpun yang bernama Alice yang ada di ingatanku, kecuali pada salah satu buku milik F yang kubaca di penginapan.
Ia menghela nafas, terlihat sangat kecewa.
"Yah, mungkin aku yang terlalu mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak mungkin.. Padahal.. Nama itu adalah pemberianmu."
Hee? Pemberianku?
"A-apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?" Tanyaku dengan heran.
"Aku adalah Entitas milikmu." Ujarnya. Senyum bahagia kembali muncul dibibirnya.
Milikku? Uh.. Aku ingin bertanya padamu, orang-orang yang ada diluar monitor sana.. Apa aku terlihat mirip seorang pria genit yang suka memperbudak wanita? Tidak? Bagus.
"M-m-maksudmu? K-kau?" Mungkin wajahku sudah memerah sekarang..Perempuan ini, bahkan menggunakan kata Entitas untuk menunjukkan dirinya.. Apa dia sampai segitunya terikat padaku?
"Ah, aku lupa, kau tidak ingat.."
"Maaf saja, Alice, itu kan namamu? Aku mengingat masa kecilku dengan jelas, aku tahu siapa aku, dan namaku bukan Hale, namaku adalah Richard! Richard Imran! Bukan Hale! Dan aku tidak tahu siapa kamu!" Ujarku. Kata-katanya yang terus menyatakan bahwa aku tidak ingat apapun mulai memancing sedikit emosiku.
"Akan kujelaskan semuanya.. Tapi.. Sebelumnya.. Ayo kita pindah." Ujarnya. Ia menjentikkan jarinya.
---
Nafasku tertahan oleh air yang dingin, menyesakkan. Rasa dingin itu serasa menikam kulitku, menusuk tulangku.
Aku tenggelam, berusaha menggapai-gapai pada sesuatu dalam kebutaan yang kelam.
Aku berteriak, namun teriakanku tertahan oleh air.
'TOLONG!' Itulah kata yang ingin kuteriakkan.
Lama kelamaan, air yang menggenang mulai turun, dan hilang, meninggalkanku yang meringkuk dalam kedinginan.
Aku meraba-raba kepalaku, sebuah mesin terpasang disana, seperti sebuah helm. Sekeras apapun aku menariknya, benda itu tak mau lepas.
"Sini, biar kulepaskan benda itu."
Benda yang ada dikepalaku mengeluarkan suara mendesis, sebelum akhirnya lepas dan jatuh ke lantai.
Mataku silau, rasanya seperti terbakar karena cahaya yang tiba-tiba datang.
Bayangan perempuan tanpa tangan kanan itu terlihat diantara cahaya silau, ia menggapai ke arahku.
"Hale.." Ia mengusap pipiku dengan lembut. Ia bergetar, butiran air mata mulai terlihat disudut matanya, siap untuk jatuh kapan saja.
Ia terisak.
Aku hanya diam, memandangnya dengan perasaan kaget dan nafas yang terengah.
Perempuan itu melingkarkan sebuah selimut dileherku, membungkus tubuhku yang dingin.
Ia mendudukkanku, menyandarkanku ke dinding kaca yang dingin.
Aku sulit bergerak karena kelelahan, terlalu tak bertenaga untuk menggerakkan tangannku secara sempurna.
Alice, ia meledak. Tidak, tidak dalam konotasi yang seperti itu. Butiran air mata mengalir dipipinya.
"Hale! Hale! Uaaaah! Aaaah! Uaaaa!" Teriaknya. Ia memeluk tubuhku dengan sangat erat, dengan seluruh tenaga yang ia punyai.
Perasaan ini.. Aura yang ada disekitarnya.. Sangatlah pahit, ia kesepian.. Rasa sepi yang sangat luar biasa.. Bahkan aku.. Ia menungguku.. Dua belas tahun.
Aku kehabisan kata untuk diucapkan, aku.. Aku merasa kasihan padanya.. Ia menunggu..ku? Selama dua belas tahun, namun aku tidak mengingat satupun tentangnya.. Apa.. Apa ini salahku?
Aku menggerakkan tanganku dengan lemah, membalas memeluknya.
Sepuluh menit.. Dua puluh menit.. Entahlah, aku tak tahu.
Ia berhenti menangis. Suara tangisannya tergantikan oleh suara nafas lembut yang berirama. Ia terlelap karena kelelahan.
Alice.. Siapa.. Siapa aku?
- C R I M S O N S K Y -
Dan juga, tidak ada masalah yang terselesaikan dengan kematian, kau hanya akan meninggalkan luka dan masalah baru bagi orang-orang yang kau sayangi, seperti yang telah kulakukan pada Bice.
Apa aku telah memberitahu kalian bahwa Beatrice Castillo adalah Partner-ku? Jika aku telah mengatakannya, sekarang akan kujelaskan mengapa aku telah memberinya sebuah masalah.
Partner, pasangan kami yang telah ditentukan semenjak kami lahir. Kami harus menjalani hidup bersama-sama, kami tidak boleh terpisah dengan alasan apapun, kami harus kembali bersama-sama ke markas, dan kami juga harus mati bersama-sama.
Partnership adalah sebuah hukum yang ada pada tubuh SDR, sebuah organisasi Militer Privat yang bekerja untuk siapapun yang mau membayar.
SDR menjalankan hukum ini sejak awal pendiriannya, dan mereka tidak akan membiarkan satu orangpun melanggar hukum itu, siapapun. Baik para personil tingkat enam, pasukan elit milik SDR maupun pemimpin SDR sendiri.
Beatrice, kuharap Ia tidak bunuh diri disamping mayatku.
Mati itu sama sekali tidak menyenangkan, kau tahu orang yang kau sayangi dalam bahaya namun kau tidak dapat berbuat apa-apa, selain terjebak di sebuah dimensi hitam yang dingin, tanpa ada satu orangpun yang menemani.
Sepertinya tidak ada yang namanya surga ataupun neraka, tapi, jika aku boleh berpendapat, tempat ini adalah neraka itu sendiri.
Apa yang harus kulakukan.. Tidak, apa yang BISA kulakukan? Aku hanya melayang-layang tanpa berat di tengah dimensi hitam ini.
Ah.. Kuharap.. Bice baik-baik saja.
<i>"Sepertinya ia sangat berharga bagimu, Hale?"</i> Sebuah suara mengagetkanku, suara seorang perempuan.
"Ya, dia memang sangat berharga bagiku.." Jawabku.
Terkadang, aku heran pada diriku sendiri, mengapa aku mau menjawab begitu saja pertanyaan orang yang tidak kukenal dan memanggilku tidak dengan namaku. Namun.. Entah kenapa, nama Hale itu sangatlah familiar.
Sebuah tangan yang halus dan sejuk menyentuh dahiku.
Perempuan itu, perempuan tanpa tangan itu. Ia berdiri tegak sementara aku melayang-layang tanpa beban. Ia tersenyum padaku.
"Dan.. Siapa kau? Seorang teman masa kecilku yang telah lama hilang?" Ujarku dengan sinis.
Ia kaget, ia terlihat benar-benar heran dengan apa yang kuucapkan. Ia menutup mulutnya sementara matanya melihat kearahku dengan heran.
"Apa kau tersinggung karena ucapanku?" Tanyaku.
Ia masih diam karena kaget, tangan kirinya masih menutupi mulutnya.
"Uh.. Nona?"
Dari pelupuk matanya, sebutir air mata mengalir.
"Nona?" Tanyaku lagi. Perasaan tidak enak memenuhi tubuhku, aku baru saja membuat seorang perempuan menangis karena kata-kataku.
"Hale.." Ujarnya pelan.
"Kau masih ingat padaku?" Ujarnya dengan senyuman, ia menyeka air matanya.
"Err.. Tidak, tidak sama sekali.. Maaf."
"Tak apa, kita memang sudah lama sekali, Hale.. Walaupun hanya dua belas tahun, namun bagiku terasa ratusan.." Ujarnya.
"Er.. Maaf, bisakah kau memberiku namamu terlebih dahulu? Mungkin aku bisa mengingatnya jika kita pernah bertemu dahulu." Pintaku.
"Namaku? Ah, mungkin kau benar.. Namaku Alice."
Aku berfikir dengan keras, berusaha mengumpulkan kepingan ingatan yang ada.
"Bagaimana, Hale, kau sudah ingat padaku?" Tanyanya. Ia menatap penuh harap padaku.
Aku menggeleng, tidak, tidak ada satu orangpun yang bernama Alice yang ada di ingatanku, kecuali pada salah satu buku milik F yang kubaca di penginapan.
Ia menghela nafas, terlihat sangat kecewa.
"Yah, mungkin aku yang terlalu mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak mungkin.. Padahal.. Nama itu adalah pemberianmu."
Hee? Pemberianku?
"A-apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?" Tanyaku dengan heran.
"Aku adalah Entitas milikmu." Ujarnya. Senyum bahagia kembali muncul dibibirnya.
Milikku? Uh.. Aku ingin bertanya padamu, orang-orang yang ada diluar monitor sana.. Apa aku terlihat mirip seorang pria genit yang suka memperbudak wanita? Tidak? Bagus.
"M-m-maksudmu? K-kau?" Mungkin wajahku sudah memerah sekarang..Perempuan ini, bahkan menggunakan kata Entitas untuk menunjukkan dirinya.. Apa dia sampai segitunya terikat padaku?
"Ah, aku lupa, kau tidak ingat.."
"Maaf saja, Alice, itu kan namamu? Aku mengingat masa kecilku dengan jelas, aku tahu siapa aku, dan namaku bukan Hale, namaku adalah Richard! Richard Imran! Bukan Hale! Dan aku tidak tahu siapa kamu!" Ujarku. Kata-katanya yang terus menyatakan bahwa aku tidak ingat apapun mulai memancing sedikit emosiku.
"Akan kujelaskan semuanya.. Tapi.. Sebelumnya.. Ayo kita pindah." Ujarnya. Ia menjentikkan jarinya.
---
Nafasku tertahan oleh air yang dingin, menyesakkan. Rasa dingin itu serasa menikam kulitku, menusuk tulangku.
Aku tenggelam, berusaha menggapai-gapai pada sesuatu dalam kebutaan yang kelam.
Aku berteriak, namun teriakanku tertahan oleh air.
'TOLONG!' Itulah kata yang ingin kuteriakkan.
Lama kelamaan, air yang menggenang mulai turun, dan hilang, meninggalkanku yang meringkuk dalam kedinginan.
Aku meraba-raba kepalaku, sebuah mesin terpasang disana, seperti sebuah helm. Sekeras apapun aku menariknya, benda itu tak mau lepas.
"Sini, biar kulepaskan benda itu."
Benda yang ada dikepalaku mengeluarkan suara mendesis, sebelum akhirnya lepas dan jatuh ke lantai.
Mataku silau, rasanya seperti terbakar karena cahaya yang tiba-tiba datang.
Bayangan perempuan tanpa tangan kanan itu terlihat diantara cahaya silau, ia menggapai ke arahku.
"Hale.." Ia mengusap pipiku dengan lembut. Ia bergetar, butiran air mata mulai terlihat disudut matanya, siap untuk jatuh kapan saja.
Ia terisak.
Aku hanya diam, memandangnya dengan perasaan kaget dan nafas yang terengah.
Perempuan itu melingkarkan sebuah selimut dileherku, membungkus tubuhku yang dingin.
Ia mendudukkanku, menyandarkanku ke dinding kaca yang dingin.
Aku sulit bergerak karena kelelahan, terlalu tak bertenaga untuk menggerakkan tangannku secara sempurna.
Alice, ia meledak. Tidak, tidak dalam konotasi yang seperti itu. Butiran air mata mengalir dipipinya.
"Hale! Hale! Uaaaah! Aaaah! Uaaaa!" Teriaknya. Ia memeluk tubuhku dengan sangat erat, dengan seluruh tenaga yang ia punyai.
Perasaan ini.. Aura yang ada disekitarnya.. Sangatlah pahit, ia kesepian.. Rasa sepi yang sangat luar biasa.. Bahkan aku.. Ia menungguku.. Dua belas tahun.
Aku kehabisan kata untuk diucapkan, aku.. Aku merasa kasihan padanya.. Ia menunggu..ku? Selama dua belas tahun, namun aku tidak mengingat satupun tentangnya.. Apa.. Apa ini salahku?
Aku menggerakkan tanganku dengan lemah, membalas memeluknya.
Sepuluh menit.. Dua puluh menit.. Entahlah, aku tak tahu.
Ia berhenti menangis. Suara tangisannya tergantikan oleh suara nafas lembut yang berirama. Ia terlelap karena kelelahan.
Alice.. Siapa.. Siapa aku?
- C R I M S O N S K Y -
CHAPTER VI - LAST LULLABY / FALL OF THE RISEN
Sebuah senyuman.
Sebuah senyuman yang melekat di wajah seorang ayah serigala yang mencari anaknya. Senyuman yang memancarkan ketenangan, pasrah dan senang menerima kematian.
"Tidak, tak apa Richard.. Dengan begini, aku dapat bertemu Sofia lagi.." Bisiknya. Ia menutup mata, menanti menit-menit terakhir dalam hidupnya.
Kenapa kau yakin dia sudah mati? Kita belum menemukan mereka! Kau sendiri yang bilang! Dan.. Apa kau memikirkan ibumu! F!
Aku.. Disaat begini.. Aku tidak berguna... Hanya beberapa buah peluru yang mengenai tulang.. Dapat menghentikan gerakanku.. F.. Maafkan aku F.. Aku lemah.. Aku.. Maaf.. Maafkan aku..
Beberapa butir air mata jatuh. Aku berusaha dengan keras menahan tangisku. Aku tidak ingin F ataupun Bice melihatku begini.
Ralph.. Jika kau masih hidup, bangunlah! Bangun! Ambil senjata kesayanganmu itu dan bunuh orang ini! Cepatlah Ralph!
Bice, disaat begini kau selalu datang untuk menolongku, kali ini, di mana kau? Aku membutuhkanmu disini Bice! Datanglah! Teriak batinku, aku mengharapkan keajaiban akan terjadi.
Suara tengkorak yang pecah, cipratan darah yang mengenai lantai dan dinding, partikel otak manusia yang lunak berceceran dimana-mana.
From ashes, to ashes.
Dari debu, menjadi debu.
Setidaknya itu yang dikatakan oleh Jacob padaku. Jacob.. Kau benar. Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja, bisa di luar sana, ataupun di dalam Dome. Dan sekarang, kau tahu Jacob? Aku melihat kematian temanku sendiri di depan mataku. Aku pernah bersumpah, aku tidak akan membiarkan Partnerku tewas dalam tugas, namun.. Kurasa sumpah itu tidak berlaku untuk klienku.
F, F sudah pergi.Hanya rahang bawah yang tersisa dari kepalanya, partikel otak, gigi dan apapun yang ada di kepalanya berserakan di dinding dan kaca, membuat sebuah lukisan merah darah yang mencekam. Tubuhnya terbaring lemas di atas lantai yang hangat, hangat oleh genangan darah segar yang baru saja mengalir.
"Sebuah pengorbanan untuk Yazoth." Ujar Risk. Ia tertawa, tawa maniak yang harus dilenyapkan. Ia tertawa saat ia berlumuran oleh darah F. Ia mandi dengan darah F. Di tangannya, ada darah F. Nyawanya.. Aku akan mendapatkan nyawanya..
"Dan satu lagi.. Satu lagi pengorbanan untukmu! Terimalah! Terimalah persembahanku, Yazoth!" Teriaknya. Ia menggapaikan tangannya ke udara yang kosong, bagaikan mengharapkan datangnya seorang malaikat yang akan memeluknya.
Ia berbalik dan berjalan dengan pelan ke arahku, tangan kanannya menggapai kepalaku. Setiap langkah yang ia buat, setiap nafas yang ia hirup.. Aku.. Aku akan membunuhnya..
"Kau akan menjadi pengorbanan yang baik untuk Yazoth.. Terimalah nasibmu seperti temanmu itu.. Semoga Yazoth memberimu ampunan di alam sana." Ia memegang kepalaku. Ia kembali mengeluarkan tawa maniak itu.
Kesedihan.. Amarah.. Kesepian.. Dendam.
Perasaanku terasa teraduk menjadi satu.
Tidak.. Tidak sanggup lagi..
Aku tidak mampu menahan lagi..
"YEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!"
Aku berteriak dengan seluruh tenaga yang tersisa, dengan setiap liter udara yang tertampung dalam paru-paruku, dengan seluruh kemampuan yang dimiliki oleh pita suara manusia. Telingaku berdenging karena teriakanku sendiri.
Tak kusangka, kaca-kaca yang ada di ruangan ini pecah, potongan-potongan mayat bergetar karena gelombang suara.
Risk mundur beberapa langkah memegangi telinganya.
Darah.
Darah mengalir dari sela-sela jarinya.
Ia berlutut dan meringkuk memegangi kepalanya.
Risk.
Aku akan membunuhmu.
--
Rasa sakit itu mulai memudar. Tubuhku terasa ringan entah kenapa. Aku dapat menggerakkan tanganku lagi.
'Ad mortem festinamus peccare desistamus.'
'Ni conversus fueris et sicut puer factus'
'Et vitam mutaveris in meliores actus'
'Intrare non poteris regnum Dei beatus'
Keempat kalimat itu terngiang-ngiang ditelingaku secara berulang-ulang, saling bertumpuk sehingga akhirnya yang kudengar hanya bunyi yang tidak jelas.
Aku berdiri, bangkit dengan nafas yang memburu. Amarah menguasai kepalaku, aku tidak dapat berfikir jernih. Satu hal yang kuketahui dengan pasti, Risk telah membunuh F. F adalah anak Sheeva yang tersisa. Sheeva telah kehilangan sebelumnya, dan dia akan merasakan hal itu lagi. Risk. Aku.. Akan membunuhmu.
"Kuharap kau berdamai dengan tuhanmu." Ujarku padanya. Aku mengambil pistolku yang ada di lantai. Menarik slide-nya, mengeluarkan sebuah peluru yang jatuh berdenting di lantai, aku menahan slide itu.
"Kau.. Kau bukanlah utusan Yazoth! Matilah!" Teriaknya. Ia mengarahkan tangan anehnya padaku, namun tidak terjadi apapun, aku tidak merasakan sebuah tarikan ataupun dorongan. Risk terlihat panik.. Tidak.. Ia terlihat ketakutan.
"Karena kau akan mematahkan lehermu." Aku berjalan mendekatinya dengan perlahan, aku masih ingin menerornya, menyiksa mentalnya.
"Akulah utusan Yazoth! Aku! Teriaknya." Ia dibutakan oleh perasaan yang terlalu menganggap dirinya penting. Ia mengeluarkan sebuah Raging Bull dari balik pakaiannya dan menembakkan senjata itu padaku.
Peluru mengenai dan menembus HEX, melukai organ bagian dalamku. Aku tidak peduli. Aku masih berdiri dan menahan slide M1911.
Dua tembakan, dan senjata itu mengeluarkan bunyi klik.
"Mati! Mati! Sial! Kenapa kau tidak mati! Dan kenapa kau masih menahan kokang senjata itu hah!" Teriaknya. Ia merangkak mundur, sebuah bongkahan mayat yang mulai membusuk membuatnya terpeleset jatuh.
"Siapa kau! Kenapa kau masuk kedalam gereja kami!" Teriaknya. Ia mulai mengarahkan kembali tangan anehnya itu dengan panik, namun tidak terjadi apa-apa.
Aku melepaskan slide M1911, memasukkan sebuah peluru ke dalam firing chamber.
"Aku hanyalah seseorang yang dikontrak, dan kau telah membunuh klienku." Ujarku. Kuarahkan senjataku padanya, memastikan agar front sight dan rear sight menyatu dengan sempurna. Aku ingin membunuh pria ini, namun.. Aku belum melakukannya, aku ingin ia tersiksa, aku ingin ia mati dengan perlahan.. Aku ingin ia merasakan kesakitan disisa umurnya.
"Ahhh.. Aaahh... Eaaaaah.." Erangnya kalut. Tangan anehnya tidak berfungsi lagi, kabel-kabel yang ada kehilangan pendarnya.
Aku menarik trigger dua kali. Menembak bagian pinggang dan perutnya.
Ia mengerang kesakitan, memegangi luka yang ada di pinggangnya.
"Yazoth, selamatkan aku! Selamatkan aku! SELAMATKAN AKU!" Teriaknya.
Aku menarik triggernya sekali lagi. Mengenai bagian dada.
"Tuhanmu tidak akan menyelamatkanmu dari kematian, tidak.. Tidak akan pernah." Ujarku.
"Kenapa.. Kenapa aku masih tersadar.. Aku ingin mati.. Aku ingin pingsan.. TIdak.. RaSA sAKiT InI TIdAk DApAT KuTAhAN! ARHH!!!"
"Kau terlalu cengeng untuk seorang utusan tuhan." Ujarku pelan.
Aku menarik triggernya sekali lagi. Klik.
Heh..
"Matilah dengan pelan.. Kau akan mati karena kehabisan darah.. Dan ucapkan sa- Hurk!"
Aku memuntahkan darah segar,tumbang,jatuh tersungkur di lantai yang dingin, di antara potongan puluhan mayat lainnya. Aku terkapar di depan Risk yang sedang merintih dan mengerang.
Aku benci ironi.
Tewas di depan orang yang sangat kau benci.
Darah mengalir dari lubang yang ada di HEX. Darahku.
Peluru itu melubangi paru-paru. Mengganggu pernafasanku.
Cepat atau lambat aku juga akan mati..
Aku berbalik dan merangkak. Merangkak menuju tubuh F yang kaku. Berusaha untuk menggapai tubuhnya. Aku memegang tangannya yang dingin.
"Maafkan aku.. Sobat." Bisikku.
Tubuhku melemah. Pandanganku kabur dan mulai menggelap.. Tidak ada cahaya terang yang menyilaukan seperti yang ada di film yang biasa kutonton bersama F dan Ralph, tidak ada malaikat yang menjemput seperti dibuku-buku yang pernah kubaca.. Yang ada hanyalah kekosongan dan kegelapan.. Dan kaki yang mulai mendingin..
Kami bertiga.. Tewas di dalam ruangan yang sama. Ralph, F dan aku.. Mungkin ini takdir.. Takdir.. Aku benci takdir..
Padahal aku ingin melihat langit senja yang merah bersama Bice.. Maafkan aku.. Bice.. Karena aku.. Kau juga harus ikut mati.. Larilah.. Jangan sampai orang-orang dari SDR menemukanmu.. Larilah.. Pergi..
"Bukankah sudah aku katakan padamu bahwa kita akan berjumpa, Hale?"
C r I M s O n S K y
Sebuah senyuman yang melekat di wajah seorang ayah serigala yang mencari anaknya. Senyuman yang memancarkan ketenangan, pasrah dan senang menerima kematian.
"Tidak, tak apa Richard.. Dengan begini, aku dapat bertemu Sofia lagi.." Bisiknya. Ia menutup mata, menanti menit-menit terakhir dalam hidupnya.
Kenapa kau yakin dia sudah mati? Kita belum menemukan mereka! Kau sendiri yang bilang! Dan.. Apa kau memikirkan ibumu! F!
Aku.. Disaat begini.. Aku tidak berguna... Hanya beberapa buah peluru yang mengenai tulang.. Dapat menghentikan gerakanku.. F.. Maafkan aku F.. Aku lemah.. Aku.. Maaf.. Maafkan aku..
Beberapa butir air mata jatuh. Aku berusaha dengan keras menahan tangisku. Aku tidak ingin F ataupun Bice melihatku begini.
Ralph.. Jika kau masih hidup, bangunlah! Bangun! Ambil senjata kesayanganmu itu dan bunuh orang ini! Cepatlah Ralph!
Bice, disaat begini kau selalu datang untuk menolongku, kali ini, di mana kau? Aku membutuhkanmu disini Bice! Datanglah! Teriak batinku, aku mengharapkan keajaiban akan terjadi.
Suara tengkorak yang pecah, cipratan darah yang mengenai lantai dan dinding, partikel otak manusia yang lunak berceceran dimana-mana.
From ashes, to ashes.
Dari debu, menjadi debu.
Setidaknya itu yang dikatakan oleh Jacob padaku. Jacob.. Kau benar. Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja, bisa di luar sana, ataupun di dalam Dome. Dan sekarang, kau tahu Jacob? Aku melihat kematian temanku sendiri di depan mataku. Aku pernah bersumpah, aku tidak akan membiarkan Partnerku tewas dalam tugas, namun.. Kurasa sumpah itu tidak berlaku untuk klienku.
F, F sudah pergi.Hanya rahang bawah yang tersisa dari kepalanya, partikel otak, gigi dan apapun yang ada di kepalanya berserakan di dinding dan kaca, membuat sebuah lukisan merah darah yang mencekam. Tubuhnya terbaring lemas di atas lantai yang hangat, hangat oleh genangan darah segar yang baru saja mengalir.
"Sebuah pengorbanan untuk Yazoth." Ujar Risk. Ia tertawa, tawa maniak yang harus dilenyapkan. Ia tertawa saat ia berlumuran oleh darah F. Ia mandi dengan darah F. Di tangannya, ada darah F. Nyawanya.. Aku akan mendapatkan nyawanya..
"Dan satu lagi.. Satu lagi pengorbanan untukmu! Terimalah! Terimalah persembahanku, Yazoth!" Teriaknya. Ia menggapaikan tangannya ke udara yang kosong, bagaikan mengharapkan datangnya seorang malaikat yang akan memeluknya.
Ia berbalik dan berjalan dengan pelan ke arahku, tangan kanannya menggapai kepalaku. Setiap langkah yang ia buat, setiap nafas yang ia hirup.. Aku.. Aku akan membunuhnya..
"Kau akan menjadi pengorbanan yang baik untuk Yazoth.. Terimalah nasibmu seperti temanmu itu.. Semoga Yazoth memberimu ampunan di alam sana." Ia memegang kepalaku. Ia kembali mengeluarkan tawa maniak itu.
Kesedihan.. Amarah.. Kesepian.. Dendam.
Perasaanku terasa teraduk menjadi satu.
Tidak.. Tidak sanggup lagi..
Aku tidak mampu menahan lagi..
"YEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!"
Aku berteriak dengan seluruh tenaga yang tersisa, dengan setiap liter udara yang tertampung dalam paru-paruku, dengan seluruh kemampuan yang dimiliki oleh pita suara manusia. Telingaku berdenging karena teriakanku sendiri.
Tak kusangka, kaca-kaca yang ada di ruangan ini pecah, potongan-potongan mayat bergetar karena gelombang suara.
Risk mundur beberapa langkah memegangi telinganya.
Darah.
Darah mengalir dari sela-sela jarinya.
Ia berlutut dan meringkuk memegangi kepalanya.
Risk.
Aku akan membunuhmu.
--
Rasa sakit itu mulai memudar. Tubuhku terasa ringan entah kenapa. Aku dapat menggerakkan tanganku lagi.
'Ad mortem festinamus peccare desistamus.'
'Ni conversus fueris et sicut puer factus'
'Et vitam mutaveris in meliores actus'
'Intrare non poteris regnum Dei beatus'
Keempat kalimat itu terngiang-ngiang ditelingaku secara berulang-ulang, saling bertumpuk sehingga akhirnya yang kudengar hanya bunyi yang tidak jelas.
Aku berdiri, bangkit dengan nafas yang memburu. Amarah menguasai kepalaku, aku tidak dapat berfikir jernih. Satu hal yang kuketahui dengan pasti, Risk telah membunuh F. F adalah anak Sheeva yang tersisa. Sheeva telah kehilangan sebelumnya, dan dia akan merasakan hal itu lagi. Risk. Aku.. Akan membunuhmu.
"Kuharap kau berdamai dengan tuhanmu." Ujarku padanya. Aku mengambil pistolku yang ada di lantai. Menarik slide-nya, mengeluarkan sebuah peluru yang jatuh berdenting di lantai, aku menahan slide itu.
"Kau.. Kau bukanlah utusan Yazoth! Matilah!" Teriaknya. Ia mengarahkan tangan anehnya padaku, namun tidak terjadi apapun, aku tidak merasakan sebuah tarikan ataupun dorongan. Risk terlihat panik.. Tidak.. Ia terlihat ketakutan.
"Karena kau akan mematahkan lehermu." Aku berjalan mendekatinya dengan perlahan, aku masih ingin menerornya, menyiksa mentalnya.
"Akulah utusan Yazoth! Aku! Teriaknya." Ia dibutakan oleh perasaan yang terlalu menganggap dirinya penting. Ia mengeluarkan sebuah Raging Bull dari balik pakaiannya dan menembakkan senjata itu padaku.
Peluru mengenai dan menembus HEX, melukai organ bagian dalamku. Aku tidak peduli. Aku masih berdiri dan menahan slide M1911.
Dua tembakan, dan senjata itu mengeluarkan bunyi klik.
"Mati! Mati! Sial! Kenapa kau tidak mati! Dan kenapa kau masih menahan kokang senjata itu hah!" Teriaknya. Ia merangkak mundur, sebuah bongkahan mayat yang mulai membusuk membuatnya terpeleset jatuh.
"Siapa kau! Kenapa kau masuk kedalam gereja kami!" Teriaknya. Ia mulai mengarahkan kembali tangan anehnya itu dengan panik, namun tidak terjadi apa-apa.
Aku melepaskan slide M1911, memasukkan sebuah peluru ke dalam firing chamber.
"Aku hanyalah seseorang yang dikontrak, dan kau telah membunuh klienku." Ujarku. Kuarahkan senjataku padanya, memastikan agar front sight dan rear sight menyatu dengan sempurna. Aku ingin membunuh pria ini, namun.. Aku belum melakukannya, aku ingin ia tersiksa, aku ingin ia mati dengan perlahan.. Aku ingin ia merasakan kesakitan disisa umurnya.
"Ahhh.. Aaahh... Eaaaaah.." Erangnya kalut. Tangan anehnya tidak berfungsi lagi, kabel-kabel yang ada kehilangan pendarnya.
Aku menarik trigger dua kali. Menembak bagian pinggang dan perutnya.
Ia mengerang kesakitan, memegangi luka yang ada di pinggangnya.
"Yazoth, selamatkan aku! Selamatkan aku! SELAMATKAN AKU!" Teriaknya.
Aku menarik triggernya sekali lagi. Mengenai bagian dada.
"Tuhanmu tidak akan menyelamatkanmu dari kematian, tidak.. Tidak akan pernah." Ujarku.
"Kenapa.. Kenapa aku masih tersadar.. Aku ingin mati.. Aku ingin pingsan.. TIdak.. RaSA sAKiT InI TIdAk DApAT KuTAhAN! ARHH!!!"
"Kau terlalu cengeng untuk seorang utusan tuhan." Ujarku pelan.
Aku menarik triggernya sekali lagi. Klik.
Heh..
"Matilah dengan pelan.. Kau akan mati karena kehabisan darah.. Dan ucapkan sa- Hurk!"
Aku memuntahkan darah segar,tumbang,jatuh tersungkur di lantai yang dingin, di antara potongan puluhan mayat lainnya. Aku terkapar di depan Risk yang sedang merintih dan mengerang.
Aku benci ironi.
Tewas di depan orang yang sangat kau benci.
Darah mengalir dari lubang yang ada di HEX. Darahku.
Peluru itu melubangi paru-paru. Mengganggu pernafasanku.
Cepat atau lambat aku juga akan mati..
Aku berbalik dan merangkak. Merangkak menuju tubuh F yang kaku. Berusaha untuk menggapai tubuhnya. Aku memegang tangannya yang dingin.
"Maafkan aku.. Sobat." Bisikku.
Tubuhku melemah. Pandanganku kabur dan mulai menggelap.. Tidak ada cahaya terang yang menyilaukan seperti yang ada di film yang biasa kutonton bersama F dan Ralph, tidak ada malaikat yang menjemput seperti dibuku-buku yang pernah kubaca.. Yang ada hanyalah kekosongan dan kegelapan.. Dan kaki yang mulai mendingin..
Kami bertiga.. Tewas di dalam ruangan yang sama. Ralph, F dan aku.. Mungkin ini takdir.. Takdir.. Aku benci takdir..
Padahal aku ingin melihat langit senja yang merah bersama Bice.. Maafkan aku.. Bice.. Karena aku.. Kau juga harus ikut mati.. Larilah.. Jangan sampai orang-orang dari SDR menemukanmu.. Larilah.. Pergi..
"Bukankah sudah aku katakan padamu bahwa kita akan berjumpa, Hale?"
C r I M s O n S K y
Langganan:
Komentar (Atom)