Sebuah senyuman.
Sebuah senyuman yang melekat di wajah seorang ayah serigala yang mencari anaknya. Senyuman yang memancarkan ketenangan, pasrah dan senang menerima kematian.
"Tidak, tak apa Richard.. Dengan begini, aku dapat bertemu Sofia lagi.." Bisiknya. Ia menutup mata, menanti menit-menit terakhir dalam hidupnya.
Kenapa kau yakin dia sudah mati? Kita belum menemukan mereka! Kau sendiri yang bilang! Dan.. Apa kau memikirkan ibumu! F!
Aku.. Disaat begini.. Aku tidak berguna... Hanya beberapa buah peluru yang mengenai tulang.. Dapat menghentikan gerakanku.. F.. Maafkan aku F.. Aku lemah.. Aku.. Maaf.. Maafkan aku..
Beberapa butir air mata jatuh. Aku berusaha dengan keras menahan tangisku. Aku tidak ingin F ataupun Bice melihatku begini.
Ralph.. Jika kau masih hidup, bangunlah! Bangun! Ambil senjata kesayanganmu itu dan bunuh orang ini! Cepatlah Ralph!
Bice, disaat begini kau selalu datang untuk menolongku, kali ini, di mana kau? Aku membutuhkanmu disini Bice! Datanglah! Teriak batinku, aku mengharapkan keajaiban akan terjadi.
Suara tengkorak yang pecah, cipratan darah yang mengenai lantai dan dinding, partikel otak manusia yang lunak berceceran dimana-mana.
From ashes, to ashes.
Dari debu, menjadi debu.
Setidaknya itu yang dikatakan oleh Jacob padaku. Jacob.. Kau benar. Kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja, bisa di luar sana, ataupun di dalam Dome. Dan sekarang, kau tahu Jacob? Aku melihat kematian temanku sendiri di depan mataku. Aku pernah bersumpah, aku tidak akan membiarkan Partnerku tewas dalam tugas, namun.. Kurasa sumpah itu tidak berlaku untuk klienku.
F, F sudah pergi.Hanya rahang bawah yang tersisa dari kepalanya, partikel otak, gigi dan apapun yang ada di kepalanya berserakan di dinding dan kaca, membuat sebuah lukisan merah darah yang mencekam. Tubuhnya terbaring lemas di atas lantai yang hangat, hangat oleh genangan darah segar yang baru saja mengalir.
"Sebuah pengorbanan untuk Yazoth." Ujar Risk. Ia tertawa, tawa maniak yang harus dilenyapkan. Ia tertawa saat ia berlumuran oleh darah F. Ia mandi dengan darah F. Di tangannya, ada darah F. Nyawanya.. Aku akan mendapatkan nyawanya..
"Dan satu lagi.. Satu lagi pengorbanan untukmu! Terimalah! Terimalah persembahanku, Yazoth!" Teriaknya. Ia menggapaikan tangannya ke udara yang kosong, bagaikan mengharapkan datangnya seorang malaikat yang akan memeluknya.
Ia berbalik dan berjalan dengan pelan ke arahku, tangan kanannya menggapai kepalaku. Setiap langkah yang ia buat, setiap nafas yang ia hirup.. Aku.. Aku akan membunuhnya..
"Kau akan menjadi pengorbanan yang baik untuk Yazoth.. Terimalah nasibmu seperti temanmu itu.. Semoga Yazoth memberimu ampunan di alam sana." Ia memegang kepalaku. Ia kembali mengeluarkan tawa maniak itu.
Kesedihan.. Amarah.. Kesepian.. Dendam.
Perasaanku terasa teraduk menjadi satu.
Tidak.. Tidak sanggup lagi..
Aku tidak mampu menahan lagi..
"YEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!"
Aku berteriak dengan seluruh tenaga yang tersisa, dengan setiap liter udara yang tertampung dalam paru-paruku, dengan seluruh kemampuan yang dimiliki oleh pita suara manusia. Telingaku berdenging karena teriakanku sendiri.
Tak kusangka, kaca-kaca yang ada di ruangan ini pecah, potongan-potongan mayat bergetar karena gelombang suara.
Risk mundur beberapa langkah memegangi telinganya.
Darah.
Darah mengalir dari sela-sela jarinya.
Ia berlutut dan meringkuk memegangi kepalanya.
Risk.
Aku akan membunuhmu.
--
Rasa sakit itu mulai memudar. Tubuhku terasa ringan entah kenapa. Aku dapat menggerakkan tanganku lagi.
'Ad mortem festinamus peccare desistamus.'
'Ni conversus fueris et sicut puer factus'
'Et vitam mutaveris in meliores actus'
'Intrare non poteris regnum Dei beatus'
Keempat kalimat itu terngiang-ngiang ditelingaku secara berulang-ulang, saling bertumpuk sehingga akhirnya yang kudengar hanya bunyi yang tidak jelas.
Aku berdiri, bangkit dengan nafas yang memburu. Amarah menguasai kepalaku, aku tidak dapat berfikir jernih. Satu hal yang kuketahui dengan pasti, Risk telah membunuh F. F adalah anak Sheeva yang tersisa. Sheeva telah kehilangan sebelumnya, dan dia akan merasakan hal itu lagi. Risk. Aku.. Akan membunuhmu.
"Kuharap kau berdamai dengan tuhanmu." Ujarku padanya. Aku mengambil pistolku yang ada di lantai. Menarik slide-nya, mengeluarkan sebuah peluru yang jatuh berdenting di lantai, aku menahan slide itu.
"Kau.. Kau bukanlah utusan Yazoth! Matilah!" Teriaknya. Ia mengarahkan tangan anehnya padaku, namun tidak terjadi apapun, aku tidak merasakan sebuah tarikan ataupun dorongan. Risk terlihat panik.. Tidak.. Ia terlihat ketakutan.
"Karena kau akan mematahkan lehermu." Aku berjalan mendekatinya dengan perlahan, aku masih ingin menerornya, menyiksa mentalnya.
"Akulah utusan Yazoth! Aku! Teriaknya." Ia dibutakan oleh perasaan yang terlalu menganggap dirinya penting. Ia mengeluarkan sebuah Raging Bull dari balik pakaiannya dan menembakkan senjata itu padaku.
Peluru mengenai dan menembus HEX, melukai organ bagian dalamku. Aku tidak peduli. Aku masih berdiri dan menahan slide M1911.
Dua tembakan, dan senjata itu mengeluarkan bunyi klik.
"Mati! Mati! Sial! Kenapa kau tidak mati! Dan kenapa kau masih menahan kokang senjata itu hah!" Teriaknya. Ia merangkak mundur, sebuah bongkahan mayat yang mulai membusuk membuatnya terpeleset jatuh.
"Siapa kau! Kenapa kau masuk kedalam gereja kami!" Teriaknya. Ia mulai mengarahkan kembali tangan anehnya itu dengan panik, namun tidak terjadi apa-apa.
Aku melepaskan slide M1911, memasukkan sebuah peluru ke dalam firing chamber.
"Aku hanyalah seseorang yang dikontrak, dan kau telah membunuh klienku." Ujarku. Kuarahkan senjataku padanya, memastikan agar front sight dan rear sight menyatu dengan sempurna. Aku ingin membunuh pria ini, namun.. Aku belum melakukannya, aku ingin ia tersiksa, aku ingin ia mati dengan perlahan.. Aku ingin ia merasakan kesakitan disisa umurnya.
"Ahhh.. Aaahh... Eaaaaah.." Erangnya kalut. Tangan anehnya tidak berfungsi lagi, kabel-kabel yang ada kehilangan pendarnya.
Aku menarik trigger dua kali. Menembak bagian pinggang dan perutnya.
Ia mengerang kesakitan, memegangi luka yang ada di pinggangnya.
"Yazoth, selamatkan aku! Selamatkan aku! SELAMATKAN AKU!" Teriaknya.
Aku menarik triggernya sekali lagi. Mengenai bagian dada.
"Tuhanmu tidak akan menyelamatkanmu dari kematian, tidak.. Tidak akan pernah." Ujarku.
"Kenapa.. Kenapa aku masih tersadar.. Aku ingin mati.. Aku ingin pingsan.. TIdak.. RaSA sAKiT InI TIdAk DApAT KuTAhAN! ARHH!!!"
"Kau terlalu cengeng untuk seorang utusan tuhan." Ujarku pelan.
Aku menarik triggernya sekali lagi. Klik.
Heh..
"Matilah dengan pelan.. Kau akan mati karena kehabisan darah.. Dan ucapkan sa- Hurk!"
Aku memuntahkan darah segar,tumbang,jatuh tersungkur di lantai yang dingin, di antara potongan puluhan mayat lainnya. Aku terkapar di depan Risk yang sedang merintih dan mengerang.
Aku benci ironi.
Tewas di depan orang yang sangat kau benci.
Darah mengalir dari lubang yang ada di HEX. Darahku.
Peluru itu melubangi paru-paru. Mengganggu pernafasanku.
Cepat atau lambat aku juga akan mati..
Aku berbalik dan merangkak. Merangkak menuju tubuh F yang kaku. Berusaha untuk menggapai tubuhnya. Aku memegang tangannya yang dingin.
"Maafkan aku.. Sobat." Bisikku.
Tubuhku melemah. Pandanganku kabur dan mulai menggelap.. Tidak ada cahaya terang yang menyilaukan seperti yang ada di film yang biasa kutonton bersama F dan Ralph, tidak ada malaikat yang menjemput seperti dibuku-buku yang pernah kubaca.. Yang ada hanyalah kekosongan dan kegelapan.. Dan kaki yang mulai mendingin..
Kami bertiga.. Tewas di dalam ruangan yang sama. Ralph, F dan aku.. Mungkin ini takdir.. Takdir.. Aku benci takdir..
Padahal aku ingin melihat langit senja yang merah bersama Bice.. Maafkan aku.. Bice.. Karena aku.. Kau juga harus ikut mati.. Larilah.. Jangan sampai orang-orang dari SDR menemukanmu.. Larilah.. Pergi..
"Bukankah sudah aku katakan padamu bahwa kita akan berjumpa, Hale?"
C r I M s O n S K y