Aku terbangun disebuah ruangan sempit dengan pencahayaan yang redup, hanya ada lampu kecil yang terletak disudut ruangan. Kepalaku terasa agak sakit.
Aku duduk dan memeriksa tubuhku sendiri. Pakaianku telah diganti oleh seseorang dengan sebuah t-shirt dan celana militer bercorak urban.
"Sudah bangun?" Tanya seorang perempuan yang sangat kukenal, namanya Beatrice Castillo, partnerku. Beatrice duduk dilantai dan bersandar didinding. Dia masih mengenakan armor HEX, Hostile Environtment Exoskeleton. sebuah powered armor yang dapat meredam pukulan dengan cara menyebarkan dampak tekanan ke seluruh permukaannya. Ia sedang mengasah pisauku menggunakan tongkat besi miliknya. Disampingnya terdapat SSG-69 miliknya yang tersandar di dinding, kain yang ia gunakan untuk membungkus senapannya terlipat rapi di atas meja kecil di sudut ruangan, kurasa ia baru saja membersihkan senjatanya.
"Hei, kraken itu tidak membenturkan kepalamu terlalu keras kan?" Tambahnya. Mata coklatnya menatapku penuh tanya. Helm miliknya tergeletak disamoing SSG miliknya bersama.. oh tidak.. C2AR milikku yang sudah bengkok di bagian receivernya.
Beatrice menyadari arah pandangankui, Iapun mengambil senjata malang itu dan menyodorkannya padaku.
Aku menerima senjata itu dan menimang-nimangnya didepanku. Sial, aku kehilangan sebuah assault rifle kaliber 5.56 caseless, dengan bentuk bullpupnya yang ergonomis dan mudah untuk di akimbo. Senjata memiliki harga yang cukup mahal di luar sana...
"Aku sudah meminta Ralphie untuk memeriksanya, tapi.. Yah, dia sudah tidak dapat ditolong lagi." Ujar Bice, panggilanku pada Beatrice. Mungkin hanya aku yang memanggilnya begitu. Bice menganggap hal itu biasa karena kami adalah partner, 'hanyalah' partner.
"Sheeva punya pekerjaan untuk kita.. Penting, nanti temui aku di ruangan Sheeva, ok?" Ujar Bice lagi, dia mengambil SSG dan kain dari lantai.Ia berdiri dan berjalan keluar ruangan. Rambut panjangnya yang merah dan halus tergerai bebas dipunggungya.
"Jangan lupa untuk membawa perlengkapanmu." Ujarnya sebelum menutup pintu ruangan.
---
Penginapan Luck-Nut, itulah yang terpampang pada neon yang terdapat di belakang meja resepsionis. Seorang perempuan muda yang duduk disana tersenyum padaku.
Aku membalas senyumannya dan menuju ruangan tempat Sheeva menungguku. Sheeva, seperti namanya, merupakan seorang wanita yang dingin, padaku, sepertinya hanya padaku.
Penginapan ini dulunya bernama Luckless-Peanut, sebelum Sheeva datang dan mengambil alih penginapan ini dari pemilik sebelumnya.Penginapan ini dulunya adalah rumah bordil, hampir seluruh wanita yang dipaksa bekerja disini diculik dari tempat tinggalnya yang dahulu. Mendengar hal itu, Sheeva yang waktu itu masih berpetualang di gurun, langsung menyerbu tempat ini bersama kakaknya Ralphie dan anaknya, F. Para anak buah pemilik lama tidak dapat menahan amukan mereka yang datang secara tiba-tiba dan tanpa rasa takut sedikitpun, bahkan pada kematian. Pemilik awalnya dieksekusi di gurun didekat pintu barat Underbase, aku melihat sendiri mereka bertiga menembaki pemilik lama dengan tatapan dingin tanpa perasaan.
Semenjak itu, penginapan ini kembali menjadi penginapan, dan juga sebagai pemasok barang-barang yang dibutuhkan untuk bertahan hidup diluar sana. Seperti HEX, HAZMAT, senjata api, pisau dan masih banyak lagi. Para wanita yang tidak bisa kembali ke tempat tinggal mereka tinggal di penginapan itu bersama Sheeva dan keluarganya dan menjadi pengurus di sini. Ralph mengajarkan mereka banyak hal, pengoperasian senjata api, CQC bahkan peraturan yang harus dipatuhi sewaktu memegang senjata api, yang sudah mulai dilupakan oleh para petualang di gurun.
Dengan lesu kudorong pintu ruangan Sheeva, menanti setiap dampratan dan hinaan yang akan keluar dari mulutnya. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak merasa marah padanya, aku menganggap dampratan dan hinaannya sebagai nasehat orang tua ditelingaku. Yang sama sekali tidak pernah kudengar.
Didalam, Sheeva duduk dibalik mejanya. Sheeva adalah wanita berumur 52 tahun yang sedang dalam puncak keanggunannya, Sheeva memiliki kepribadian yang agak tomboi, ditandai dengan kebiasaannya memakai kemeja dengan lengan terlipat, celana berwarna gelap dan juga sepatu kulit kenang-kenangan dari perang dunia ketiga yang ia lalui bersama Ralph, F dan seorang anak lagi yang tewas di medan pertempuran, kudengar namanya diawali dengan huruf R, Rambo, Raam, Raz atau apalah, aku tidak terlalu mengingatnya.
Ia memegang pensil dan sedang menulis disebuah buku tebal berwarna merah, mungkin ia sedang menulis pembukuan hotel, atau mungkin juga diari, meskipun hal itu mustahil untuk orang seperti Sheeva. Tidak dapat kubayangkan jika seorang kapten yang menembak targetnya dari jarak satu mil menggunakan senapan anti materiel kaliber 20mm tanpa ekspresi menulis diari.
Untuk sesaat, mataku melihat-lihat isi dari ruangan ini. Sebuah lemari yang terletak disamping kiri ruangan menarik perhatianku, didalamnya terdapat banyak buku, banyak sekali buku. 'Blackbolt Lonewolf','Turning Point' merupakan beberapa dari banyak buku yang terdapat disana.
"Ahem."
Sheeva menyadari kalau aku sudah memasuki ruangan, ia menyimpan buku dan pensilnya didalam lacinya. Kacamata bacanya ia lepas dan ia masukkan kedalam kotaknya dengan gerakan anggun, meskipun telah mengalami tekanan dalam pertempuran, kurasa Sheeva masih memiliki sisi feminim dalam dirinya.
Aku maju dan mendudukkan diriku di atas kursi didepan meja Sheeva. Aku menyilangkan tanganku di atas meja Sheeva, mencoba membuatnya marah lagi, aku sangat menyukai saat Sheeva membentakku.
"Bisakah anda sedikit sopan, tuan Richard? Aku tak heran mengapa anda masih berada pada rank PFC disaat partner anda sudah mencapai rank sersan!" Ujarnya dengan nada suara yang tinggi.
"Maaf, nyonya, maaf." Ujarku. Aku tersenyum dan menyingkirkan tanganku dari atas meja Sheeva.
"Apa kau pernah mendengar sesuatu tentang Children of Violence?" Tanya Sheeva, nada suaranya berubah seperti orang yang sedang menahan amarah, begitu juga dengan ekspresi wajahnya.
"Ya, aku pernah dengar, mereka bukan orang-orang yang ramah." Jawabku.
"Mereka telah masuk ke dome ini, dan mereka telah menculik Sofia dan Bianca." Tangannya bergetar.
Sofia dan Bianca. Sofia seumuran denganku, dan merupakan orang yang sangat menyayangi Sheeva seperti ibu kandungnya sendiri, dan Sheeva juga begitu, beliau sangat menyayangi Sofia. Sedangkan Bianca adalah adiknya yang baru berumur empat belas tahun. Bisa dibilang hubunganku dengan mereka berdua cukup dekat, mereka berdua menganggapku sebagai kakak laki-lakinya. Dan sekarang mereka diculik oleh Children of Violence, salah satu kelompok radikal yang ada di daerah buangan, mereka terkenal akan kekejaman mereka terhadap kelompok lain di luar sana. Mereka membunuh para pria dan menculik para wanita untuk dikorbankan kepada tuhan mereka, Yazoth.
"Kau bercanda kan?" Tanyaku. Aku berdiri karena terkejut. Rasa marah, panik dan sedih menyatu menjadi satu.
"Sayangnya tidak, orang-orang gila itu menempati gudang bagian timur, Ralph saat ini sedang mengawasi mereka. Dan aku belum mendapat berita apapun dari Ralph, kuharap Sofia dan Bianca baik-baik saja." Dia berdiri dan berjalan keluar, aku hanya melihatnya dari belakang.
"Ayo ikut aku, kau, Beatrice, Ralph, F dan aku akan menyelamatkan mereka, kami kekurangan orang untuk menjamin keselamatan mereka berdua." Ujarnya lagi. Sheeva berusaha untuk menjaga ketenangannya.
Aku mengikuti Sheeva dari belakang, menuju gudang senjata milik Sheeva yang terletak dibawah tanah. Di dalamnya terdapat banyak sekali persenjataan, mulai dari Mosin Nagant yang dimodifikasi dengan stock besi, sampai M134 yang bisa dipakai oleh infantri juga ada di dalam sana.
Di dalam, Bice dan F sedang mempersiapkan perlengkapan mereka, bersiap-siap untuk penyerbuan ke gudang yang ditempati CoV. situasi seperti ini memang jarang kutemui selama ini, biasanya divisi Hired Gun di SDR hanya mendapat misi pengawalan atau pembunuhan. Sebuah meja yang terletak ditengah ruangan dipenuhi oleh berbagai macam senjata, kebanyakan berasal dari tipe assault rifle dan pistol.
"Ambil apapun yang kau butuhkan, kita harus bergerak cepat." Ujar Sheeva padaku. Ia mengambil sebuah WA 2000 dari dalam rak, sebuah sniper rilfe semi otomatis yang sangat akurat.
Aku mengambil dan memakai HEX milikku yang terletak di atas meja, holster M1911 dan kantong magasen dipaha kiriku yang berisi magasen M1911.
"Biar kutebak, aku, F dan Ralph akan menyerbu dari pintu belakang sementara anda dan Bice membantu dari jauh, benar kan?" Ujarku sambil mengencangkan sepatu bot selutut yang merupakan bagian dari HEX.
"Ya, namun kau salah pada bagian menyerbunya." Ujar F yang sedang memeriksa sight dari MP7 yang dipasangi laser sight.
"Lalu?" Tanyaku. Aku mengambil sebuah SIG SG552 dengan sighting ACOG dari atas meja. Senjata-senjata yang ada di gudang Sheeva sudah cukup langka setelah BCE mengambil alih pemerintahan.
Bice memasukkan magasen baru ke SSG-69 miliknya, namun tidak menarik bolt, karena ia belum akan menembak sesuatu untuk saat ini. Ia masih memakai HEX dengan helm tidak terpasang. Mekanisme helm HEX bisa dibilang cukup unik, daripada melepas semua, helm itu hanya melepas bagian atas helm dan menariknya kebelakang, tanpa memisahkan helm dengan armor, sedangkan bagian pelindung mulut akan terpisah menjadi dua dan bergerak kesamping.
"Kau dan aku akan masuk dari atas, Ralph akan mengurus orang-orang yang ada diluar." Jawab F. Ia memakai sebuah kevlar vest berwarna hitam diatas jas hitam yang dipakainya.
"Ini, tangkap." Bice melempar dua buah magasen yang terisi penuh yang disatukan dengan magazine clap untuk memudahkan mengganti magasen di medan pertempuran.
Aku menangkap magasen itu dan memasangkannya ke SG552 yang kupakai. Sheeva tidak pernah mengisi senjata-senjata yang ada digudang dengan peluru, salah satu peraturan yang tidak tertulis yang dipatuhi oleh SDR maupun Sheeva, kita tidak akan mau jika ada orang-orang yang mengambil senjata milik kita dan menggunakannya untuk melawan kita, benar kan?
Kulirik Sheeva, wanita itu tidak memakai vest ataupun HEX, ia hanya memakai sebuah kantong magasen dipaha kirinya, dan sebuah holster pistol dipaha kanannya.
"Kalian siap?" Tanya Sheeva yang menyandang WA 2000 miliknya.
Aku, F dan Bice mengangguk secara bersamaan.
"Mari kita ajarkan orang-orang itu sedikit sopan santun terhadap wanita." Ujar Sheeva.
Siapapun yang menculik Sofia dan Bianca, tidak peduli dari kelompok apapun, akan mendapatkan ganjarannya.
CRIMSON SKY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar