Sidestory II - May The Gods Have Mercy.
"A friend is need, is a friend in need. But I can't be there for him, for them, for anyone."
- - -
Sebuah selongsong peluru jatuh membentur lantai beton yang dingin, membuat suara dentingan yang menyusul gema tembakan yang memekakkan telinga.
Hening.
Tidak ada satupun diantara kami yang bergerak. Aku tak tahu kemana peluru itu melesat, tak tahu dimana peluru itu telah bersarang.
Pria itu terhuyung kehilangan keseimbangannya. Ia tangannya menggapai-gapai liar mencari pegangan.
Sebuah HPCG memukul pria itu, melemparkannya membentur dinding beton, meninggalkan jejak cipratan darah yang lebar. Kanon 30mm yang ada ditangan HPCG itu masih mengepulkan asap mesiu.
"Kalian berdua tak apa?" Ujar pilot HPCG, ia membuka kokpitnya, memperlihatkan wajahnya pada kami. Katsu.
Aku mengacungkan ibu jariku padanya. "Kami masih hidup, jika itu maksudmu."
"Baguslah. Cepat ambil senjatamu, kita sedang diserang." Ujar Katsu, Ia menutup kembali kokpitnya yang dilapisi plating metal tebal yang mampu menahan peluru 30mm sekalipun. HPCG biasanya digunakan untuk sistem modular yang digunakan untuk memasuki daerah yang terkontaminasi NBC dengan aman tanpa membahayakan pilot yang ada didalamnya, atau untuk kegiatan konstruksi yang terlalu berat untuk dikerjakan oleh manusia. Tetapi sejak kedua belah pihak dalam perang dunia ketiga memiliki teknologi mekanikal yang sama, HPCG mulai dilengkapi dengan berbagai macam persenjataan. Tapi, yah, kudengar dulu orang-orang memasangkan kanon disebuah skuter. bukan hal yang baru, kurasa.
"aku penasaran Katsu, siapa orang-orang ini? Dan yang paling penting, bagaimana caranya mereka masuk?" Ujarku.
"Aku tidak tahu, kurasa mereka cukup pintar, bukan bandit biasa yang sering kau temui di gurun. Mereka bisa menyelinap tanpa ketahuan orang-orang yang berjaga diatas, masuk dengan cara menggali beberapa titik di atas lorong, mengeliminasi penjaga dan memutuskan komunikasi. Kurasa orang-orang dibawah sama sekali belum mengetahui apa yang terjadi diatas sini."
Aku berjalan menuju lokerku yang ada di sisi terjauh garasi. "Bukankah kalau komunikasi terputus ada regu yang akan mencek keatas?"
"Dua jam, Andrei, dua jam. Setelah dua jam mereka baru akan mengirimkan regu ke atas sini."
Aku membuka lokerku, mengambil dan memakai bagian torso dari HEX milikku. "Jadi hanya kita yang tersisa diatas sini?"
"Kurasa iya, sungguh disayangkan, padahal orang-orang yang berjaga hari ini adalah orang-orang yang menyenangkan."
Aku mengambil sepucuk HK416 dan beberapa magasen. "Jadi apa rencananya?"
"Tidak ada, hanya bertahan disini. Kita juga tidak bisa turun kebawah, kurasa mereka juga memotong kontrol elevatornya."
"Ah, sial. Tapi yah, terpaksa, karena mereka harus melalui kita untuk bisa turun kebawah." Satu-satunya elevator menuju kebawah untuk sektor ini hanya ada dibelakang kami.
"Katsu, apa kau bisa membuat agar elevator itu turun?" Tanya Lisa.
"Kurasa aku bisa, menggunakan kendali manual."
"Ayo kita kebawah dan memperingatkan orang-orang yang ada dibawah."
"Tidak, Andrei, maksudku dengan kendali manual adalah memotong kabel elevator dan meluncur kebawah sampai rem daruratnya bekerja."
"Dan kita juga tidak bisa keatas melalui sektor ini jika kita melakukan itu. Bagaimana dengan tangga darurat?"
"Bukan pilihan yang bagus, tangga itu hanya bisa dinaikkan dari bawah, untuk mencegah situasi seperti ini, kau tahu?"
Aku hanya memandangi HPCG Katsu dengan tatapan aneh.
"Hei, pria ini punya radio." Ujar Lisa yang berlutut didekat mayat pria yang tewas tadi. Ia mengambil sebuah radio yang terkena darah dan menempelkannya ketelinga. Ia terdiam beberapa saat, mendengarkan percakapan yang ada diradio. Ia tertawa kecil. "Andrei, kau harus mendengar ini." ujarnya, ia melemparkan radio itu padaku, dari jarak lima belas meter.
Aku menangkap radio itu dan hampir saja kujatuhkan karena licin oleh darah. Aku menempelkannya ketelingaku. Suara Alvaro.
"-hu siapa kalian, aku tidak ingin tahu apapun tentang kalian, bagiku kalian hanyalah orang-orang liar dari gurun. Tapi, kalian telah mengusik rumahku, kalian telah membunuh teman-temanku.Aku sudah membunuh lima belas, dan aku tidak akan berhenti begitu saja. Aku pasti akan menemukan kalian semua, aku akan membunuh setiap personil yang kalian punya. Segeralah berdamai dengan tuhanmu, karena aku akan mematahkan leher kalian."
Alvaro, yang seperti ini memanglah gayanya. Dia seperti tokoh penjahat di cerita-cerita lama, berkata sinis dan memiliki sifat yang sama sinisnya. Tapi hampir seluruh ancamannya selalu ia laksanakan, sampai detail terkecil sekalipun.
"Ah, sepertinya salah seorang dari teman kalian memiliki sedikit pesan untuk kalian."
Suara teriakan kesakitan seorang pria terdengar dari radio, diikuti oleh suara tembakan.
"Ups, jariku licin. Maaf, salahku. Sekian dulu, ciao."
Statis.
Alvaro memang sadis.
"Katsu, yang naik ke atas hari ini ada berapa orang?" Tanya Lisa. Ia menenteng M249 dengan magasen kotak yang berisikan 200 peluru. Ia hanya memakai bagian torso dari HEX miliknya.
HPCG itu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Jadi kita hanya berasumsi kalau hanya kita yang tersisa? Andrei, aku tidak suka dengan ide bertahan disini. Bisakah kita maju ke tempat mereka masuk? Dan kurasa dalam 100 meter kedepan masih ada beberapa orang yang masih hidup."
"Dari mana kau yakin, Lisa? Aku tidak mau kau-"
"Katsu, pintu kamar istirahat untuk penjaga tidak dapat dibuka dari luar, dan juga tidak mempunyai jendela. Kupikir mereka tidak mau menghabiskan bahan peledak hanya untuk membuka ruangan yang isinya hanya sebuah kasur."
"Kau berasumsi terlalu jauh, bisa jadi mereka tidak tahu apa isi dari ruangan itu."
"Jika mereka bisa masuk dengan mudah tanpa diketahui penjaga dan tahu bagaimana cara mematikan komunikasi, bisa jadi ada orang dalam yang menyediakan informasi. Dan mengenai ruangan itu.. Semua orang tahu apa isinya kan?"
Tidak ada jawaban dari Katsu.
"Kau ada benarnya juga, tapi kita tidak bisa masuk kesana, lorong itu terlalu sempit untuk HPCG." Ujarku.
Lisa menoleh tajam padaku. "Kau, tuan Andrei, ikut denganku, dan Katsu, sayangku, kau tunggu disini, jangan biarkan orang yang lolos dari kami melewati tempat ini, oke?"
Sial, sial sial sial. Lisa sudah masuk ke sisi lainnya. Kumohon Katsu, jangan katakan iya, tolak perintahnya. Kumohon, aku tidak mau-
"Baiklah, kalian berdua, hati-hati." Ujarnya. HPCG itu bergerak menuju tengah ruangan. Berdiri diantara dua barisan HPCG, menyiagakan senjatanya ke arah pintu masuk, membelakangi lift barang.
"Aku benci kau, Katsu." Gumamku. Ia tidak bisa mendengarku didalam HPCG itu, kemampuan mikrofon HPCG tidak cukup kuat untuk menangkap suara pelan.
"Ayo, Andrei."
"Aku benci kalian berdua." Gumamku pelan.
"Kau hanya kesepian karena tidak punya pasangan, Andrei. Dan kau hanya iri pada kami." Ujar Lisa dengan senyuman di wajahnya.
Uh, haruskah kata-katamu setajam itu, Lisa?
- - -
Lima belas menit kami mencari orang-orang yang masih hidup, namun yang kami temui hanyalah mayat-mayat, baik dari SDR ataupun dari penyusup. Ruangan yang kami tuju itupun dipenuhi oleh lubang peluru dan ratusan selonsong peluru yang berserakan dilantai. Tidak ada yang selamat.
"Lisa, sepertinya memang hanya kita berempat yang tersisa. Ayo kita kembali ketempat Katsu."
Lisa hanya merengut. Ia kesal karena tidak bisa menemukan teman-teman yang masih hidup.
"Ayolah Lisa. Katsu pasti sudah menunggu."
Lisa memukul dinding dengan keras."SIAL!"
Sekarang giliranku yang diam.
"Ayo, Andrei, kita kembali ke tempat Katsu." Ujarnya sambil berlalu.
Seorang bandit terlihat diujung lorong, menenteng sebuah M134 dengan amunisi dan baterai tersimpan didalam tas punggung yang ia pakai. Ia melihat kami. Ia berteriak menggunakan bahasa yang tidak kuketahui. Laras M134-nya mulai berputar dan terarah pada kami.
Aku segera menarik Lisa memasuki sebuah ruangan, menghindari rentetan peluru yang melesat menuju ujung lorong dibelakang kami. Ia terhempas ke lantai karena tarikanku.
"Hampir saja, terimakasih, Andrei." Ujarnya. Ia berdiri dan menyiagakan senjatanya.
Aku menembakkan senjataku kearah bandit itu tanpa melihat, sebuah rentetan tembakan buta dari senjata yang kujulurkan keluar ruangan. Tidak mengenai apapun, kurasa.
Teriakan pria itu berganti menjadi teriakan panik dan kesakitan, diikuti oleh suara ledakan-ledakan kecil beruntun. Peluru tidak lagi beterbangan. Bau hangus dan asap tebal juga muncul dari arah pria itu berasal.
"Uh.. Andrei.. Kurasa aku ingin muntah.. Urk." Ujar Lisa yang mulai berwajah agak pucat, ia menutupi mulutnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menarik-narik lengan pakaianku. Senjatanya tergantung pada sling yang melingkar dipundaknya.
"Uh, um.. Keluarkan saja disudut ruangan, jika ada yang tanya aku akan bilang kalau orang-orang itu yang melakukannya." Ujarku.
Lisa memukul punggungku, keras. Nafasku sedikit sesak karena pukulan itu. Namun ia mengikuti saranku, berjalan menuju ruangan dan memuntahkan apapun yang ia makan tadi siang. "Ueeeeeek.. Blergh.. Bluuuuughh."
Aku mengalihkan pandanganku, membiarkan Lisa untuk mengurusi urusannya. Aku bukanlah seorang yang handal menghadapi situasi seperti ini. Aku mengintip keluar, mencari pria yang tadi menembaki kami dengan M134. Yang ada hanyalah sebuah mayat hangus yang masih terbakar ditempat ia berdiri tadi.
Lisa kembali bersandar disampingku, ia terlihat sangat letih dengan jejak cairan asam dibawah mulutnya. Ia segera menyeka jejak itu dengan lengannya.
"Ada apa?" Tanyaku.
Lisa tersenyum, ia terlihat sangat senang meskipun dalam kondisi seperti ini. "Akan kukatakan nanti, aku harus memberitahu Katsu terlebih dahulu."
Apa-apaan?
-To be continued-
Sidestory I - Heavenly Father, forgive Us for The Trespasses We Are About To Commit
"Alice.. Let me tell you a story, not about me, not about Beatrice, or us. It's about a man, a friend, who shared same fate with me."
- - -
Empat bulan sebelumnya.
"Pernahkah kalian memikirkan apa yang aku pikirkan? Memikirkan tentang apa sebenarnya yang sedang kita lakukan disini. Aku tahu kita adalah personil SDR, tapi aku merasa hampa. Tidak, aku tidak ingin menjadi seorang pengkhianat, tapi.."
Alvaro memukul kepalaku dengan pelan. "Sudah, habiskan saja makananmu, jangan bicara yang tidak-tidak."
"Hei, aku merasa SDR tidak lagi menyenangkan, kita hanya masuk kedalam misi, menembaki apapun yang bergerak, mengambil apa yang kita perlukan dan keluar dari sana berlumuran darah. Semua itu tidak lagi menyenangkan, kau tahu?"
"Kubilang, diam Andrei, jika kau mendapat masalah karena ucapanmu maka aku juga kena imbasnya tahu."
"Aku cuma.."
"Kubilang, DIAM!" Alvaro memukul belakang kepalaku dengan keras, membuat dahiku terhempas ke meja.
Aku meringis kesakitan memegangi dahiku yang sedikit mengucurkan darah. Kurasa luka itu akan membengkak dipagi nanti.
"Dengar, Andrei, kau adalah partner-ku, dan aku tidak ingin kau mendapatkan masalah, karena aku juga tidak ingin dapat masalah, oke? Nah, sekarang aku minta padamu agar tetap menutup mu'lutmu tentang masalah yang kau pikirkan tadi, setidaknya dimarkas."
"Kau tidak perlu memukulku sekeras itu kalau hanya ingin menyuruhku tutup mulut kan?! Kalau aku mati bagaimana?!"
Alvaro memegangi bahuku, ia menggengam bahuku dengan keras. "Dengar, Andrei, aku masih sangat marah padamu, tindakanmu kemarin bisa membuat kita tewas tahu!"
Aku menepis tangannya. "Bukan salahku! Mana aku tahu kalau dibalik pintu itu ada tiga ekor kraken! Dan lagipula kita selamat kan?!"
Alvaro mengenggam kerah bajuku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, menatap mataku dengan tajam. "Kita selamat hanya karena Katsumi ada disana dengan HPCG miliknya. Jika Katsu tidak ada apa kau pikir kau bisa melawan tiga ekor kraken sekaligus?!"
"Sudah kubilang, bukan salahku! Dan lagi, memangnya siapa diantara kita yang hampir terbakar karena menyalakan korek api disamping pipa gas yang bocor?" Ujarku mengejek.
"Kau.."
"Alvaro, kurasa kau terlalu kasar pada Andrei,lagipula toh kalian masih hidup kan? Tidak ada yang patut disesali dan disalahkan." Ujar seseorang duduk bersama kami. Yamashita Katsumi, kalau tidak salah itulah namanya. Meskipun namanya terdengar feminim, tetapi dia adalah seorang lelaki dengan perawakan kurus dan tatapan yang tajam.
"Ya, kau memang terlalu kasar pada Andrei, Alvaro." Ujar seorang lagi. Lisa Carver, seorang perempuan ceria yang selalu menurut pada partnernya, Katsumi. Meskipun ia terlihat lugu dan ceria, tapi aku tahu, dibalik senyumannya itu tersembunyi sosok seorang psikopat yang tidak ingin kau temui dalam ruangan yang sama denganmu.
Alvaro mendorongku dan melepas kerahku. Aku terhempas pada kursiku. Ia memalingkan wajahnya dariku.
"Aku paham apa masalahmu, Andrei. Kau sedang mempertanyakan apa tujuan hidupmu, benar kan?"
Aku mengusap dahi yang berdarah dan berujar pelan. "Memang itu maksudku."
"Pertanyaan seperti itu tidak masalah, bahkan wajar untuk ditanyakan. Aku juga sering mempertanyakan hal yang sama denganmu."
"Lalu, apa kau menemukan jawabannya?"
"Ya, aku menemukan tujuanku." Katsu menatap lembut Lisa dan mengusap rambutnya pelan. "Tujuanku ada didekatku selama ini."
Wajah Lisa memerah,ia berusaha untuk menyembunyikan senyumannya. Pada akhirnya ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Mungkin saja tujuan hidupmu selama ini ada didepanmu, hanya saja kau belum menyadarinya Andrei."
Aku dan Alvaro memandangi mereka berdua, dan kemudian saling menatap satu sama lain.
"Jangan menatapku seperti itu, aku ini pria normal dan tidak akan pernah mau menjadi pacarmu."
"Aku juga tidak mau. Aku ini masih pencinta wanita, aku belum terlalu putus asa untuk mencari seorang pria."
"Belum?" Tanya Alvaro.
"Eh, maksudku, tidak akan pernah."
Mendadak, kami berdua hanya diam. Keheningan yang membuatku merasa ganjil.
"Sumpah kalian berdua seperti pasangan homo."
Alvaro menatap sinis ke arah Katsumi. "Tutup mulutmu."
"Aku serius, maksudku.. Kau terlihat sangat cocok dengan.. Uh.. Aku lupa, sebuah istilah lama.. Turd.. Tundra.. Tura.. Ah, apalah. Pokoknya kalian berdua cocok." Lanjut Katsumi, dengan senyuman kecil menghiasi mulutnya. Pilihan yang burut, Katsu. Alvaro pasti akan mengamuk.
Alvaro mencengkram wajah Katsu, menekan kedua pipi pria itu. "Kubilang diam, Yamashita Katsumi. Atau kau ingin Lisa menjadi seorang janda yang menunggu untuk dieksekusi?"
"Siap pak tidak pak." Ujar Katsu dengan nada ketakutan.
"Bagus." Alvaro melepas wajah Katsu.
Aku dan Lisa hanya terdiam, meneruskan makan kami dalam kesunyian. Kurasa alasan Alvaro belum membunuhku hanyalah karena aku adalah partnernya.
---
"Andrei! Cepat pasang rangkaian pelurunya!" Teriak Katsumi yang bertengger di atas HPCG miliknya. Ia mengutak-atik beberapa antena yang ada di bagian kepala HPCG, ia memangku sebuah laptop yang tersambung ke HPCG melalui kabel-kabel rumit yang tidak terlalu kupahami.
Sementara aku bertugas untuk mengisi magasen HPCG yang terletak di bagian belakang. Rangkaian peluru 30 milimeter sangat berat, apalagi jika jumlahnya mencapai ratusan. Dan semua itu harus kulakukan dengan tangan kosong. Pertama-tama aku harus menenteng kotak-kotak yang berisikan peluru keatas sebuah tangga yang terletak dibelakang HPCG, lalu mengeluarkan rangkaian peluru tersebut dengan hati-hati dan memasukkan peluru itu kedalam magasen, atau lebih tepatnya sebuah kontainer persegi yang ada dipunggung HPCG. Aku harus mengatur timing dan sudut agar bisa memasukkan peluru itu tanpa masalah. Lalu aku harus menarik sebuah tuas yang ada dibagian bawah kontainer, mengeluarkan peluru menuju ventilasi yang terbuat dari campuran karet dan polimer yang menyambungkan kontainer dan senjata. Amat sangat merepotkan jika kau melakukannya dengan tangan. Bukan berarti tidak ada solusi yang lebih mudah, hanya saja aku tidak tahu cara mengoperasikan benda keparat itu.
Pekerjaan ini biasanya dipegang oleh Beatrice, tapi sayangnya ia sedang keluar dari markas, kudengar ia menuju Dome 13. Mengantarkan dan menjemput beberapa barang dari seseorang yang tinggal disana. Orang-orang yang beruntung, Beatrice dan partnernya, seorang pria aneh yang selalu menggunakan HEX walau dimarkas. kalau tidak salah namanya Richard. Aku tidak terlalu mengenalnya, namun sepertinya ia tahu banyak hal tentang personil-personil SDR lainnya. Seorang bandar informasi untuk orang-orang yang membutuhkan saran. Namun, kalau dipikir-pikir aku belum pernah melihat wajahnya, hanya pernah melihat sekilas matanya, itupun tertutup oleh visor HEX.
Di garasi yang cukup luas ini terparkir puluhan HPCG yang berbaris dengan rapi dalam beberapa barisan. Tidak seluruhnya masih operasional, ada beberapa yang rusak, sejujurnya, jumlah yang rusak lebih banyak daripada yang masih bisa dipakai.
"Selesai! Kau sendiri bagaimana diatas sana, Katsu?" Teriakku pada orang yang bertengger jauh diatas kepalaku.
Ia melongok kebawah, melambaikan tangannya. "Sedikit lagi!"
"Hei, Katsu! Memangnya kalibrasi tangan dan radar itu penting?"
"Tentu saja! Aku tidak mau peluruku meleset beberapa sentimeter diatas targetku! Jika kau mau duluan silakan saja! Kurasa Lisa memerlukan bantuanmu untuk menyapu koridor!"
Ah, sial. Perempuan aneh itu mulai lagi. Bukannya aku membencinya, hanya saja sifatnya yang acak itu membuatku resah. Ia sering melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan oleh sistem dasar markas. Seperti menyapu koridor. Pada waktu-waktu tertentu beberapa robot pembersih akan keluar dari kontainernya, menyusuri koridor-koridor. Bukan robot yang terlalu canggih, hanya beberapa buah penyedot debu yang diberi roda dan AI tingkat dasar yang jalurnya telah diatur sebelumnya.
. . .
Astaga, beberapa jam berdekatan dengan Katsu membuatku menjadi seseorang yang sangat paham dengan benda-benda elektronik. Atau tidak.
Menyusuri koridor, mencari seorang perempuan berpakaian seragam berwarna Khaki. Ketemu.
Ia berdiri didepan ruangannya, memandangi sapu yang ada ditangannya. Sebuah sapu yang bisa dibilang hanya tinggal tangkainya. Serat-serat plastik sintetis bertebaran didepannya, mungkin sapu ia yang pakai rontok.
Ia menyadari kedatanganku. "Andrei, anu, ini.." Ujarnya, Ia menunjuk bagian ujung sapu dengan tangan kirinya. "Tidak penting, yang penting, itu.." Lanjutnya. Ia menunjuk dahiku yang terbungkus oleh perban.
Aku mengusap dahiku dan tertawa kecil. "Tidak apa, hanya sedikit memar."
"Uh, kasihan." Ujarnya pendek.
"Kau menyindirku Lisa?" Ujarku penuh curiga.
Lisa menggeleng pelan.
Suara keras bergema dari arah garasi tempatku bekerja tadi. Suara itu sepertinya adalah suara ledakan. Aku dan Lisa segera berlari menuju sumber ledakan. Lisa menyambar sebuah tabung pemadam api dari dinding lorong.
Asap hitam bertebaran diudara, berasal dari rongsokan HPCG yang hancur dan terbakar. Aku tidak melihat Katsumi dimanapun. Lisa menembakkan busa putih ke sumber api, berusaha memadamkan apa yang tersisa dari HPCG yang terbakar.
Aku menarik tuas alarm, memicu sebuah sirene yang memekakkan telinga. Kurasa personil-personil yang berada didekat sektor ini akan segera tiba. Sistem ventilasi yang ada bekerja dengan sangat baik, mencegah ruangan ini dipenuhi oleh asap.
Sebuah cahaya merah mengenai mataku, berasal dari sudut ruangan. Pembidik laser?
Aku segera menarik Lisa kebelakang HPCG.
"Hei!" Protesnya.
"Sshhh, kecilkan suaramu."
Aku mengintip dari balik kaki HPCG menuju arah datangnya sinar laser. Benar saja, seorang pria berjubah berjalan mendekati kami, dikepalanya terpasang sebuah benda yang menutupi sebelah matanya, dan secarik kain menutupi matanya yang satu lagi, kupikir itu adalah NVG. Ia menyiagakan FAMAS kearah kami.
Sial. Aku meninggalkan HK416 milikku didalam loker. Dan aku juga tidak memakai HEX. Dan aku juga tidak bisa mengendarai HPCG. Dan lagi menyalakan HPCG butuh waktu beberapa menit. Aku menatap Lisa. "Lisa, kau bawa senjata?"
Lisa menggeleng. Ditangannya masih ada pemadam api.
"Berikan aku benda itu." Ujarku menyambar tabung merah itu dari tangan Lisa.
Pria dengan NVG berteriak-teriak menggunakan bahasa yang tidak kumengerti. Ia terdengar seperti dengungan yang kasar.
"Kupikir ia bicara dengan bahasa Portugis." Ujar Lisa. "Apa kau mau aku menjawabnya?"
"Memangnya ia bilang apa?"
"Tentang anak-anak, dan, um.. Kekerasan? Kupikir ia juga meneriakkan kata 'mati'."
"Tidak, terimakasih."
Aku melemparkan tabung merah itu kearahnya, berharap tabung itu mengenai kepalanya dan membuatnya jatuh pingsan. Tapi, yah, hal seperti itu hanya ada di kisah-kisah fiksi.
Tabung yang kulemparkan hanya mengenai kakinya, membuatnya memaki-maki dengan keras menggunakan bahasa yang tidak kumengerti. Ia melompat-lompat mengayun-ayunkan kakinya.
Sebuah tembakan.
-To be continued-
Langganan:
Komentar (Atom)