CHAPTER IV- SECOND LULLABY

Lantai dua.

Desingan peluru memaksaku meloncat turun, hampir menabrak F pada prosesnya.

Beberapa orang personil CoV sudah menanti kami dengan senjata tertuju kearah mulut tangga. Peluru-peluru memantul didinding dibelakang kami.

"Hei, F, mungkin kau bisa membujuk mereka untuk berhenti menembaki kita." Ujarku pada F yang sedang menunggu gilirannya naik.

"Hei, aku ini mantan tentara, bukan negosiator." Jawab F. Ia menyodorkan dua buah granat padaku.

Aku menerima granat-granat itu dengan lesu.

"Kurasa granat sama sekali bukan gayaku, apa masih ada cara lain?" Tanyaku.

F memandangiku dengan tatapan kesal.

"Kurasa aku tidak punya pilihan lain.." Aku memasukkan salah satu granat kedalam kantong yang ada pada bagian torso HEX, dan menarik pin granat sisanya. Aku melemparkan granat itu keatas.

Sayangnya, sebuah peluru mengenai granat itu dan membuatnya terpental kebawah. Sial.

"Bodoh!" Bentak F. Ia dengan sigap menendang granat itu keluar melalui jendela.

Granat itu meledak diluar, menciptakan gelombang getaran yang membuat kami kehilangan keseimbangan dan melontarkan pecahan kaca dengan kecepatan tinggi, membuatnya menjadi proyektil-proyektil tajam yang mematikan. Badai jarum, groovy.

F dan aku dengan reflek menyilangkan tangan kami didepan kepala untuk melindungi mata kami.

"Argh!" Erangku. Beberapa pecahan kaca menancap pada HEX, lengan dan pahaku, namun tidak sampai menembus.

"Richard! Kau bodoh!" Bentak F. Lagi-lagi, F memanggilku dengan panggilan Romeo..Ada apa gerangan dengan nama itu?

Aku segera membantu F berdiri dan mendudukkannya diatas tangga.

Di saat bersamaan, suara tembakan diatas berhenti, peluru-peluru tidak lagi berpantulan didinding.

"Hei, kau belum mati kan?" Tanyaku.

"Belum, masih belum." Jawabnya. Ia memegangi lengannya yang mengucurkan darah. Pecahan kaca telah menggores dan menyobek tangan dan lengannya.

"Bagaimana lenganmu?"

"Masih bisa digerakkan, tenang saja." Ia meringis menahan rasa sakit yang ada ditangannya. Wajar saja, luka sobek yang ada di telapak tangannya terlihat cukup mengerikan, bahkan aku tidak dapat melihat bagian putih dari telapak tangannya yang berlumuran darah.

"Tunggu disini, berusahalah untuk menghentikan pendarahannya."

"Argh.. Kau mau kemana?"

"Melihat keadaan diatas." Aku menyiagakan SG552.

Dengan hati-hati aku menjulurkan kepalaku, melihat-lihat keadaan dilantai dua.

"Astaga..." Gumamku kaget.

Lorong berlantai abu-abu tempat personil CoV berdiri dan menembaki kami telah berubah menjadi merah darah.

Potongan-potongan tubuh personil CoV berserakan dilantai, tangan, kepala, kaki, torso dan telinga dipotong dengan sayatan yang rapi. Salah satu dari mereka bahkan disangkutkan ke dinding mengunakan sebilah katana yang ditusukkan melalui bagian dada sebelah kirinya.

Seorang perempuan berdiri ditengah-tengah pemandangan yang mengerikan itu. Dengan rambut ekor kudanya yang basah oleh darah, perempuan yang menembakku tadi. Tulisan SWAT putih yang ada pada seragamnya telah berubah warna menjadi merah. Senyuman psikopat masih melekat di bibirnya.

Tangannya kirinya memegang gagang sebuah M1911 berwarna hitam, dan tangan kanannya memegang sebuah pedang yang besar dan kelihatan berat.

Ia berbalik kearahku dan tertawa kecil.

"Ahehehe.. Kau masih hidup? Ah.. Senior memang hebat!" Ujarnya dengan riang. Ia mengarahkan M1911 nya kearahku.

Aku menyandang kembali SG552 milikku dan bersiap untuk menerjang kearahnya .Aku tidak bisa menembak seorang perempuan.

Aku melompat kelantai dua, membiarkan peluru yang ia tembakkan mengenai HEX. Tenaga dorongan dari .45ACP membuatku sedikit terdorong kebelakang, namun hal itu tidak kubiarkan menghentikanku, aku terus menerjang kearahnya tanpa senjata ditangan.

"Ohh.. Senior memang menarik!" Teriaknya penuh semangat. Ia menyimpan M1911 miliknya dan memasang kuda-kuda tusukan. Ia mengangkat pedang besar itu kedepan tubuhnya, dengan ujung pedang yang terarah padaku.

"Kau membuatku bersemangat!" Ia menerjang kedepan, melakukan gerakan menusuk dengan pedang besar itu dengan jarak yang cukup dekat denganku.

Dengan cepat aku mengenggam  bagian rata dari pedangnya, membelokkan arah serangannya agar tidak mengenaiku, menyobek sarung tangan dan telapak tanganku. Darahku ikut membasahi mata pedang tajam itu.

Ia tersenyum lebar saat tatapanku dan tatapannya beradu dalam jarak yang cukup dekat.

Aku mengenggam pergelangan tangannya dengan keras, memaksanya untuk melepaskan pedang besar itu.

"Ahn~ Kau nakal!" Rintihnya. Pedangnya jatuh dan berdenting di lantai.

Aku mengenggam rompinya dan membanting tubuhnya.

Senyuman masih melekat di bibirnya. Ia mencabut M1911 hitam itu dari holsternya, berusaha untuk menembakku dari jarak dekat dengan benda itu.

Aku memelintir tangannya dan merebut pistolnya.

Ia terbaring di atas lantai yang merah oleh darah. Ia tertawa saat aku mundur beberapa langkah dan mengarahkan senjatannya padanya.

"Ah, Senior! Kau memang tahu cara memperlakukan wanita! Ahehe..." Ujarnya. Uh.. Memangnya wanita mau diperlakukan kasar begitu? Dasar perempuan aneh..

"Berhentilah memanggilku senior! Namaku.."

"Richard? Ahehe.. Setidaknya itu yang Ia katakan padamu, benarkan?" Ia duduk memeluk lututnya. Menatap padaku dengan tatapan anak kecil yang melihat sesuatu yang ia suka. Senyumnya berubah, kali ini tidak lagi senyuman psikopat yang ia biasa gunakan, namun senyum kali ini terlihat lebih lembut daripada sebelumnya.

Aku menatap padanya dengan mulut ternganga, tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya.

"K-kau..."

"Vita brevis breviter in brevi finietur, Mors venit velociter quae neminem veretur." Ujarnya. Entah kenapa, aku merasa familiar dengan kata-katanya.

"Ad mortem festinamus peccare desistamus." Bisikku tanpa sadar. M1911 hitam itu hampir saja lepas dari genggamanku.

"Kita.. Semua.. Sama." Ujarnya pelan. Kata-kata yang sama..

"Surga, atau neraka.. Tentukan pilihanmu." Tambahnya.

Dari balik rompinya, ia melemparkan sebuah flashbang.

"Adios."

Dengan reflek aku menutup mataku.

Letupan flashbang yang memekakkan telinga memenuhi ruangan, mungkin F juga mendengarnya.

Saat kubuka mata, ia hilang, meninggalkan sebilah pedang.

"Hei, Richard!" Panggil F yang mendekatiku dari belakang.

Aku berbalik dan melihat wajahnya, ia terlihat sangat kaget.

"Dan ternyata gayamu lebih merepotkan daripada sebuah granat." Ujarnya melihat potongan-potongan tubuh dan darah yang membanjiri lantai.

Aku memasukkan pistol M1911 hitam itu kesebuah holster kosong di bagian dada HEX.

"Bukan aku." Ujarku. Aku meraih SG552 yang ada dipunggungku dan mengecek pengamannya, full auto.

"Lalu siapa?" Tanyanya. Ia mengambil pedang besar yang ada di lantai, mungkin untuk mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang mengerikan di sekitar.

"Entahlah, aku juga tidak tahu.."

"Yah, tidak usah dibahas.. Lagipula aku melihat semuanya kok." Ujar F. Ia mengayun-ayunkan pedang itu di depannya.

"Zweihander, pedang buatan Jerman..." Ujarnya lagi. Matanya terlihat sedikit bersinar melihat pedang itu.

"F, apa kau sudah selesai melihat-lihat? Kita perlu meneruskan pencarian!" Seruku padanya. Ia membalas dengan tertawa kecil dan meletakkan pedang itu kembali kelantai.

"Kali ini, kau duluan.."


- - -


Kami telah menyusuri dan memeriksa beberapa ruangan, namun tidak ada tanda-tanda dari Sofia dan Bianca, yang kami temukan hanyalah personil-personil CoV  yang tidak senang akan kedatangan kami, dan juga beberapa mayat yang tewas karena ditusuk pisau dan diletakkan ditempat yang gelap.

F mulai terlihat putus asa, wajahnya yang tadinya tenang terlihat agak kacau. Ia terlihat membisikkan sesuatu secara berulang-ulang. Ini kali kedua aku membaca gerak bibir seseorang dalam hari ini.

"Tetaplah bertahan, tunggu aku, tetaplah bertahan, tunggu aku, tetaplah bertahan, tunggu aku.." Bisiknya.

Ia menarik nafas panjang, menatap kearahku dengan kesedihan terpancar jelas diwajahnya. "Lantai paling atas." Ujarnya.

Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya menaiki tangga.

Pemandangan yang kami dapati di lantai atas sama sekali tidak mengenakkan, lagi-lagi, potongan tubuh manusia dan mayat bergelimpangan di dalam sebuah ruangan luas.

"Sial..." Gumam F.

Ruangan ini adalah ruangan terakhir yang ada di gedung ini, dan kami masih belum menemukan Sofia dan Bianca... Dan Ralph.

"Argh! Sial! Kalau saja aku lebih cepat!" Bentak F, sepertinya pada dirinya sendiri. Ia menjatuhkan senjatanya dan berlutut di lantai, sepertinya ia mau menangis..

Aku mengalihkan perhatianku pada potongan tubuh manusia yang ada di lantai. Pemiliknya bervariasi... Tapi kurasa mereka bukanlah personil CoV, karena tidak ada potongan rompi anti peluru maupun senjata yang berserakan. Dan kebanyakan dari potongan-potongan kepala yang kulihat adalah milik perempuan..

"Aku.. Minta maaf.." Ujarku pada mereka yang menjadi korban CoV.

Aku duduk di samping F yang duduk dengan tatapan kosong, butiran air mata mengalir pipinya. Aku menarik nafas panjang.

"Hei, Richard." Ujarnya padaku, masih dengan tatapan kosong itu.

"Apa?" Jawabku.

"Aku memang tidak berguna, benar kan?" Tanya F.

Aku hanya diam dan melihatnya, tidak mengatakan apapun. Tanganku menepuk pundaknya dengan lunak.

"Richard?"

"Tidak, F, kita hanya..Belum menemukan mereka.. Itu saja.."

"Apa yang harus kukatakan pada Ibu? Dia.. Dia pasti akan marah... Lagi.." Ujarnya dengan suara yang bergetar.

Lagi? Apa maksudnya?

"Mungkin Ralph sudah membawa mereka keluar.. Bukankah Bice dengan Sheeva telah mengeliminasi penjaga yang ada dibawah?"

Wajah F terlihat sedikit lebih cerah setelah aku mengatakan itu. "Kau.. Kau benar..."

"Ayo kita lihat keluar.."

Suara dentuman dan getaran yang keras mengagetkan kami. Suara itu berasal dari lantai di bawah kami.

"Apa-apaan?" Ujarku.

F menyiagakan senjatanya dan bergerak menjauh dari sumber getaran.

"Ini tidak terlihat bagus..." Ujarku.

Benar saja, sesosok tubuh menembus lantai tembok itu, terlempar di atas kami sebelum akhirnya jatuh terjerembab di lantai.

Tubuhnya terbujur kaku, tidak bergerak dilantai, aku tidak tahu apa dia masih hidup ataupun sudah mati. Wajahnya terlihat sangatlah familiar.. Ia memakai pakaian yang hampir sama dengan F.

Aku tertegun, menyadari siapa yang barusan melubangi lantai dengan tubuhnya sendiri.

"RALPH!"

CRIMSON SKY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar