Sidestory II - May The Gods Have Mercy.



"A friend is need, is a friend in need. But I can't be there for him, for them, for anyone."

- - -

Sebuah selongsong peluru jatuh membentur lantai beton yang dingin, membuat suara dentingan yang menyusul gema tembakan yang memekakkan telinga.

Hening.

Tidak ada satupun diantara kami yang bergerak. Aku tak tahu kemana peluru itu melesat, tak tahu dimana peluru itu telah bersarang.

Pria itu terhuyung kehilangan keseimbangannya. Ia tangannya menggapai-gapai liar mencari pegangan.

Sebuah HPCG memukul pria itu, melemparkannya membentur dinding beton, meninggalkan jejak cipratan darah yang lebar. Kanon 30mm yang ada ditangan HPCG itu masih mengepulkan asap mesiu.

"Kalian berdua tak apa?" Ujar pilot HPCG, ia membuka kokpitnya, memperlihatkan wajahnya pada kami. Katsu.

Aku mengacungkan ibu jariku padanya. "Kami masih hidup, jika itu maksudmu."

"Baguslah. Cepat ambil senjatamu, kita sedang diserang." Ujar Katsu, Ia menutup kembali kokpitnya yang dilapisi plating metal tebal yang mampu menahan peluru 30mm sekalipun. HPCG biasanya digunakan untuk sistem modular yang digunakan untuk memasuki daerah yang terkontaminasi NBC dengan aman tanpa membahayakan pilot yang ada didalamnya, atau untuk kegiatan konstruksi yang terlalu berat untuk dikerjakan oleh manusia. Tetapi sejak kedua belah pihak dalam perang dunia ketiga memiliki teknologi mekanikal yang sama, HPCG mulai dilengkapi dengan berbagai macam persenjataan. Tapi, yah, kudengar dulu orang-orang memasangkan kanon disebuah skuter. bukan hal yang baru, kurasa.

"aku penasaran Katsu, siapa orang-orang ini? Dan yang paling penting, bagaimana caranya mereka masuk?" Ujarku.

"Aku tidak tahu, kurasa mereka cukup pintar, bukan bandit biasa yang sering kau temui di gurun. Mereka bisa menyelinap tanpa ketahuan orang-orang yang berjaga diatas, masuk dengan cara menggali beberapa titik di atas lorong, mengeliminasi penjaga dan memutuskan komunikasi. Kurasa orang-orang dibawah sama sekali belum mengetahui apa yang terjadi diatas sini."

Aku berjalan menuju lokerku yang ada di sisi terjauh garasi. "Bukankah kalau komunikasi terputus ada regu yang akan mencek keatas?"

"Dua jam, Andrei, dua jam. Setelah dua jam mereka baru akan mengirimkan regu ke atas sini."

Aku membuka lokerku, mengambil dan memakai bagian torso dari HEX milikku. "Jadi hanya kita yang tersisa diatas sini?"

"Kurasa iya, sungguh disayangkan, padahal orang-orang yang berjaga hari ini adalah orang-orang yang menyenangkan."

Aku mengambil sepucuk HK416 dan beberapa magasen. "Jadi apa rencananya?"

"Tidak ada, hanya bertahan disini. Kita juga tidak bisa turun kebawah, kurasa mereka juga memotong kontrol elevatornya."

"Ah, sial. Tapi yah, terpaksa, karena mereka harus melalui kita untuk bisa turun kebawah." Satu-satunya elevator menuju kebawah untuk sektor ini hanya ada dibelakang kami.

"Katsu, apa kau bisa membuat agar elevator itu turun?" Tanya Lisa.

"Kurasa aku bisa, menggunakan kendali manual."

"Ayo kita kebawah dan memperingatkan orang-orang yang ada dibawah."

"Tidak, Andrei, maksudku dengan kendali manual adalah memotong kabel elevator dan meluncur kebawah sampai rem daruratnya bekerja."

"Dan kita juga tidak bisa keatas melalui sektor ini jika kita melakukan itu. Bagaimana dengan tangga darurat?"

"Bukan pilihan yang bagus, tangga itu hanya bisa dinaikkan dari bawah, untuk mencegah situasi seperti ini, kau tahu?"

Aku hanya memandangi HPCG Katsu dengan tatapan aneh.

"Hei, pria ini punya radio." Ujar Lisa yang berlutut didekat mayat pria yang tewas tadi. Ia mengambil sebuah radio yang terkena darah dan menempelkannya ketelinga. Ia terdiam beberapa saat, mendengarkan percakapan yang ada diradio. Ia tertawa kecil. "Andrei, kau harus mendengar ini." ujarnya, ia melemparkan radio itu padaku, dari jarak lima belas meter.

Aku menangkap radio itu dan hampir saja kujatuhkan karena licin oleh darah. Aku menempelkannya ketelingaku. Suara Alvaro.

"-hu siapa kalian, aku tidak ingin tahu apapun tentang kalian, bagiku kalian hanyalah orang-orang liar dari gurun. Tapi, kalian telah mengusik rumahku, kalian telah membunuh teman-temanku.Aku sudah membunuh lima belas, dan aku tidak akan berhenti begitu saja. Aku pasti akan menemukan kalian semua, aku akan membunuh setiap personil yang kalian punya. Segeralah berdamai dengan tuhanmu, karena aku akan mematahkan leher kalian."

Alvaro, yang seperti ini memanglah gayanya. Dia seperti tokoh penjahat di cerita-cerita lama, berkata sinis dan memiliki sifat yang sama sinisnya. Tapi hampir seluruh ancamannya selalu ia laksanakan, sampai detail terkecil sekalipun.

"Ah, sepertinya salah seorang dari teman kalian memiliki sedikit pesan untuk kalian."

Suara teriakan kesakitan seorang pria terdengar dari radio, diikuti oleh suara tembakan.

"Ups, jariku licin. Maaf, salahku. Sekian dulu, ciao."

Statis.

Alvaro memang sadis.

"Katsu, yang naik ke atas hari ini ada berapa orang?" Tanya Lisa. Ia menenteng M249 dengan magasen kotak yang berisikan 200 peluru. Ia hanya memakai bagian torso dari HEX miliknya.

HPCG itu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Jadi kita hanya berasumsi kalau hanya kita yang tersisa? Andrei, aku tidak suka dengan ide bertahan disini. Bisakah kita maju ke tempat mereka masuk? Dan kurasa dalam 100 meter kedepan masih ada beberapa orang yang masih hidup."

"Dari mana kau yakin, Lisa? Aku tidak mau kau-"

"Katsu, pintu kamar istirahat untuk penjaga tidak dapat dibuka dari luar, dan juga tidak mempunyai jendela. Kupikir mereka tidak mau menghabiskan bahan peledak hanya untuk membuka ruangan yang isinya hanya sebuah kasur."

"Kau berasumsi terlalu jauh, bisa jadi mereka tidak tahu apa isi dari ruangan itu."

"Jika mereka bisa masuk dengan mudah tanpa diketahui penjaga dan tahu bagaimana cara mematikan komunikasi, bisa jadi ada orang dalam yang menyediakan informasi. Dan mengenai ruangan itu.. Semua orang tahu apa isinya kan?"

Tidak ada jawaban dari Katsu.

"Kau ada benarnya juga, tapi kita tidak bisa masuk kesana, lorong itu terlalu sempit untuk HPCG." Ujarku.

Lisa menoleh tajam padaku. "Kau, tuan Andrei, ikut denganku, dan Katsu, sayangku, kau tunggu disini, jangan biarkan orang yang lolos dari kami melewati tempat ini, oke?"

Sial, sial sial sial. Lisa sudah masuk ke sisi lainnya. Kumohon Katsu, jangan katakan iya, tolak perintahnya. Kumohon, aku tidak mau-

"Baiklah, kalian berdua, hati-hati." Ujarnya. HPCG itu bergerak menuju tengah ruangan. Berdiri diantara dua barisan HPCG, menyiagakan senjatanya ke arah pintu masuk, membelakangi lift barang.

"Aku benci kau, Katsu." Gumamku. Ia tidak bisa mendengarku didalam HPCG itu, kemampuan mikrofon HPCG tidak cukup kuat untuk menangkap suara pelan.

"Ayo, Andrei."

"Aku benci kalian berdua." Gumamku pelan.

"Kau hanya kesepian karena tidak punya pasangan, Andrei. Dan kau hanya iri pada kami." Ujar Lisa dengan senyuman di wajahnya.

Uh, haruskah kata-katamu setajam itu, Lisa?

- - -

Lima belas menit kami mencari orang-orang yang masih hidup, namun yang kami temui hanyalah mayat-mayat, baik dari SDR ataupun dari penyusup. Ruangan yang kami tuju itupun dipenuhi oleh lubang peluru dan ratusan selonsong peluru yang berserakan dilantai. Tidak ada yang selamat.

"Lisa, sepertinya memang hanya kita berempat yang tersisa. Ayo kita kembali ketempat Katsu."

Lisa hanya merengut. Ia kesal karena tidak bisa menemukan teman-teman yang masih hidup.

"Ayolah Lisa. Katsu pasti sudah menunggu."

Lisa memukul dinding dengan keras."SIAL!"

Sekarang giliranku yang diam.

"Ayo, Andrei, kita kembali ke tempat Katsu." Ujarnya sambil berlalu.

Seorang bandit terlihat diujung lorong, menenteng sebuah M134 dengan amunisi dan baterai tersimpan didalam tas punggung yang ia pakai. Ia melihat kami. Ia berteriak menggunakan bahasa yang tidak kuketahui. Laras M134-nya mulai berputar dan terarah pada kami.

Aku segera menarik Lisa memasuki sebuah ruangan, menghindari rentetan peluru yang melesat menuju ujung lorong dibelakang kami. Ia terhempas ke lantai karena tarikanku.

"Hampir saja, terimakasih, Andrei." Ujarnya. Ia berdiri dan menyiagakan senjatanya.

Aku menembakkan senjataku kearah bandit itu tanpa melihat, sebuah rentetan tembakan buta dari senjata yang kujulurkan keluar ruangan. Tidak mengenai apapun, kurasa.

Teriakan pria itu berganti menjadi teriakan panik dan kesakitan, diikuti oleh suara ledakan-ledakan kecil beruntun. Peluru tidak lagi beterbangan. Bau hangus dan asap tebal juga muncul dari arah pria itu berasal.

"Uh.. Andrei.. Kurasa aku ingin muntah.. Urk." Ujar Lisa yang mulai berwajah agak pucat, ia menutupi mulutnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menarik-narik lengan pakaianku. Senjatanya tergantung pada sling yang melingkar dipundaknya.

"Uh, um.. Keluarkan saja disudut ruangan, jika ada yang tanya aku akan bilang kalau orang-orang itu yang melakukannya." Ujarku.

Lisa memukul punggungku, keras. Nafasku sedikit sesak karena pukulan itu. Namun ia mengikuti saranku, berjalan menuju ruangan dan memuntahkan apapun yang ia makan tadi siang. "Ueeeeeek.. Blergh.. Bluuuuughh."

Aku mengalihkan pandanganku, membiarkan Lisa untuk mengurusi urusannya. Aku bukanlah seorang yang handal menghadapi situasi seperti ini. Aku mengintip keluar, mencari pria yang tadi menembaki kami dengan M134. Yang ada hanyalah sebuah mayat hangus yang masih terbakar ditempat ia berdiri tadi.

Lisa kembali bersandar disampingku, ia terlihat sangat letih dengan jejak cairan asam dibawah mulutnya. Ia segera menyeka jejak itu dengan lengannya.

"Ada apa?" Tanyaku.

Lisa tersenyum, ia terlihat sangat senang meskipun dalam kondisi seperti ini. "Akan kukatakan nanti, aku harus memberitahu Katsu terlebih dahulu."

Apa-apaan?

-To be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar