CHAPTER IX - THREE
Raphael
Ah.. Sial. Sepertinya aku pingsan. Kemampuan orang itu mengendalikan Handler-nya cukup hebat, bisa melemparku menembus tembok seperti itu. Tapi setidaknya aku sudah membawa Bianca kepada Sheeva.. Sebagian besar dari dirinya.
Punggungku terasa sakit, amat sakit. Tentu saja kan, sampai menembus tembok seperti itu. Kalau saja aku tidak memiliki tubuh ini mungkin aku sudah mati dari awal aku melawannya. Walaupun dadaku terasa nyeri namun apa yang telah lama menggantikan tulang dan dagingku menyelamatkanku. Sebanyak kutukan yang dibawanya sebanyak itu pula keberuntungan yang benda ini bawa, sebuah benda yang dibuat untuk beberapa pekerjaan kotor jauh dibelakang garis pertahanan lawan. Tak butuh waktu lama untuik mengumpulkan kesadaranku yang tercecer dan kembali merasakan indra-indra yang kembali bekerja.
Seorang wanita terisak ditengah-tengah keheningan yang amis.
Aku bangkit, mengusap-usap punggungku yang nyeri. Aku merasakan hawa dingin di kulitku, tubuhku basah kuyup oleh darah, membasahi setiap inci dari pakaianku. Aku mengambil sebuah kacamata dari saku dan memakainya. Barulah semua tampak jelas.
Potongan tubuh manusia, potongan tubuh manusia yang berserakan begitu saja dilantai, sebagian dari mereka masih segar, dan sebagian dari mereka telah mulai membusuk. Orang-orang yang malang, yang tertangkap oleh Children of Violence. Orang-orang yang tidak beruntung, nyawa mereka dikorbankan hanya untuk sebuah proyek gila dari sebuah perkumpulan keagamaan fanatik. Proyek gila yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah menanggalkan kemanusiaan dari jiwanya.
Risk adalah salah seorang dari mereka yang 'terpilih', aku yakin itu. Dipilih untuk sebuah senjata percobaan yang tercipta karena manusia dapat membuat imajinasinya menjadi nyata. Sebuah senjata percobaan yang seharusnya tidak pernah diciptakan. Sebuah senjata yang membuat seorang manusia dapat bermain bagaikan tuhan, memanipulasi benda pada tingkat molekul. Hebat memang, namun kekuatan yang besar pasti memiliki resiko yang besar pula. Sebagian besar personil yang memakai senjata itu berakhir menjadi seorang psikopat.
Wanita yang menangis itu memeluk sebuah tubuh yang terbungkus oleh armor putih, meratapi kepergian nyawa lelaki yang malang, nyawa seorang mitra yang telah lama menemaninya menjelajahi padang pasir. Sebuah pemandangan yang memilukan.
Tubuh lainnya, sebuah tubuh yang amat sangat kukenal, salah satu dari dua orang keponakanku. Ia memakai jas yang sama denganku, F. Ia terbaring disamping Beatrice yang sedang menangisi Richard. Kaku, tak bergerak, diam.
Tubuhku bergetar. Bergetar karena menyadari kegagalanku yang terulang. Bergetar karena rasa marah dan benci pada diriku sendiri yang tak bisa menepati janji pada Sheeva, dua kali. F.. Kau.. Kau bisa merasakan kepergian Sofia, benar kan? Tak kusangka kalian berdua akan meninggalkan aku dan Sheeva dihari yang sama.
Aku maju dan menyentuh pundak Beatrice. Tak ada respon apa-apa. Rambutnya yang panjang terurai menutupi matanya. Aku dapat melihat air mata yang jatuh dan menetes membasahi wajah Richard yang terlihat tenang, sangat kontras dengan Richard yang masih hidup.
"Yazoth.. Tak kusangka kau akan memberiku ujian seperti ini.. Maafkan aku yang terlalu angkuh dalam memberikan keselamatan kepada orang-orang yang menentangmu." Sesosok manusia yang bersandar di ujung ruangan. Tak perlu waktu lama untuk menebak siapa. Suara yang telah terekam dalam ingatanku, sebagai suara sumber kegilaan yang terjadi di gedung ini. Sebagai perancang proyek yang tidak dapat kuterima.
Ia berjalan tertatih, memegangi perutnya yang mengucurkan darah.
Bianca, keterlambatanku adalah petaka untukmu, aku tidak bisa mencapaimu tepat waktu. Kau dikurung di ruang bawah tanah, menunggu giliranmu untuk dipotong-potong dan menjadi bahan dari proyek gila itu. Seharusnya aku bisa datang lebih cepat untuk menyelamatkanmu dan Sofia.. Namun, akhirnya mereka dapat menyentuhmu dan Sofia. Kau kehilangan kakimu, karena aku. Orang-orang fanatik ini, sebenarnya seperti apa tuhan yang mereka sembah? Mereka sanggup melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan pada manusia sambil tertawa.
Isak tangis itu berhenti. Rambut Beatrice terangkat oleh udara panas yang entah datang darimana. Tubuhnya bergetar, tidak, udara yang ada di sekitarnya bergetar, bagaikan ada hawa panas disekitarnya. Apalagi yang terjadi disini?
"Dia pacarmu?" Tanya Risk dengan santainya. Ia mengayunkan tangan kanannya, melemparkanku beberapa meter. Kekuatannya terasa seperti sebuah pukulan yang menghantam perutku.
"Dia adalah orang yang cukup menarik, teriakannya aneh, apa pacarmu itu kelelawar?"
Sama sekali tidak lucu, Risk.
Aku bangkit dan menyambar sebuah SG552 yang tercecer di lantai, entah milik siapa. Kuarahkan senjata itu pada Risk, jari telunjukku menjepit pemicu dengan keras. Peluru-peluru yang kutembakkan hanya berhenti didepan Risk. Sial, kekuatan ini lagi. Yang kubutuhkan saat ini adalah seorang teman untuk menyerangnya dari belakang.
"Kalian tidak pernah belajar, senjatamu tidak ada gunanya!"
Peluru-peluru itu berjatuhan di depannya.
"Matilah!" Ia menjentikkan jarinya.
Suara tulang yang patah terdengar keras ditelingaku, tangan kiriku mati rasa. Tulang-tulang mencuat menembus otot buatan tua itu, mengalirkan darah menuju kebebasan mereka dari tubuh tua ini.
"Kau hanyalah manusia fana!"
Tubuhku sudah sampai batasnya, aku terdiam kaku seperti patung, tidak dapat menggerakkan satu jaripun, hanya dapat menggerakkan kepala dan mulut untuk bicara. Semua serangan yang dilancarkan Risk tadi menghabiskan energi yang dibutuhkan otot-otot artifisial ini untuk bergerak. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan sisa-sisa energi yang ada.
"Kau sendiri bagaimana?"
"Aku adalah utusan tuhan! Utusan tuhan yang telah kembali dari surga! Ia datang untuk menolong kita semua, kau tahu?! Yazoth telah datang ke dunia yang hancur ini!" Ia berteriak dengan kerasnya. Senyuman lebarnya menunjukkan ketidakwarasan otaknya.
"Lalu? Siapa yang peduli? Siapa yang akan peduli tentang tuhanmu yang pulang dari liburannya?" Ujar Beatrice. Suaranya terdengar bergetar karena amarah dan kesedihan.
"Jika tuhanmu itu memang tuhan, mengapa ia tidak datang sebelum dunia ini hancur!? Mengapa ia tak pernah mendamaikan dunia sebelum perang terjadi!? Mengapa?!" Bentak Beatrice.
Risk hanya diam. Senyumannya mengendur.
"Kau.. Kau meragukan tuhanku! Kau meragukan Yazoth! Mati! Mati! Mati!"
Risk mengganas, ia maju dan menerjang Beatrice, sebuah pukulan tertuju ke wajah Beatrice.
Memalukan.. Yang namanya barang rongsokan tetaplah barang rongsokan. Tubuh tua ini melebihi batasan yang ada, membuatnya kaku dalam keadaan yang sangat dibutuhkan. Mungkin seharusnya aku mencari baterai yang baru sebelum aku datang kemari.
Sebilah pedang menembus tubuh Risk, menikamnya menembus tulang rusuk yang berderak. Seorang wanita berambut ekor kuda berdiri di antara Risk dan Beatrice. Tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan memegang gagang pedang dengan erat. Tulisan SWAT tertulis di rompinya. Apa kepolisian Dome sudah menganggap kalau masalah CoV ini adalah masalah yang cukup serius?
"Ksh.. Ahaha.. Aku jangan dilupakan, dasar kau." Ujarnya, entah bicara pada siapa. Matanya tertuju tajam pada Risk.
"Jangan.. Remehkan.. Aku! GAAAH!"
Risk masih bergerak, ia belum ingin tumbang. Ia menggenggam tangan kanan wanita itu dan menghancurkannya dalam satu genggaman.
"Ahn~ Kau itu kuat ya?" Ujar wanita itu dengan santainya. Ia menarik tangan kanannya dengan kuat, membuntungkan tangannya. Dari puntung lengannya mencuat kabel-kabel dan tulang logam. Lengan buatan?
Ada apa lagi ini..
Risk berusaha mencabut pedang dari dadanya dengan susah payah dan memegang lukanya dengan Handler.
"Jangan.. Remehkan.. Yazoth!" Ujarnya. Ia menyentak pedang itu lepas dari dadanya.
"Mati! Kau o-"
Sebuah tembakan membungkam Risk. Sebuah peluru menembus kepalanya. Ia tumbang membentur lantai. Tangannya kejang seakan tidak mau mati.
"Kecil, tapi berguna." Ujar wanita itu. Ia menimang sebuah Colt model 1908 dengan sepuhan nikel dan gagang mutiara.
"Kau tahu, tuan, ukuran bukanlah masalah, yang paling penting dimana dan kemana kau menembakkannya." Ujarnya. Ia memasukkan pistol kecil itu kedalam sakunya dan berjalan kearahku.
Beatrice hanya menatap kosong kearah Risk yang telah tumbang. Tubuh pria itu telah terbaring tak bergerak dilantai.
"Hei, bisa aku minta tolong padamu?" Ujarku padanya.
"Apa?"
"Tolong jauhkan segala senjata dari wanita yang ada disana, bisa?"
Ia mencabut dua buah M1911 dari holster punggungnya. Salah satunya adalah M1911 longslide sepuhan nikel milik Richard, dan yang satunya M1911A1 hitam arang yang entah milik siapa. Ia juga menendang sebuah MP7 kearahku.
"Terimakasih."
"Sama-sama. Kulihat kau agak.. Sedikit kaku, terlalu keras dalam bermain? Hmm?" Ia maju dan memelukku dari belakang.
"Maaf, nona, kurasa tidaklah sopan melakukan hal ini pada orang asing."
"Aku tidak melakukan apapun.. Hanya.. Membuatmu sedikit lemas."
Mendadak, kekakuan tubuhku hilang. Tanganku sudah dapat digerakkan meskipun masih sedikit bergetar. Entah apa yang ia lakukan dibelakang sana, apapun itu, aku menjadi tertolong.
"Kau seharusnya mengganti bateraimu, sayang.." Ujarnya. Ia mengusap daguku. Astaga.
"Ah.. Colt milikku.." Ujar Beatrice. Ia memeriksa holster yang ada dipahanya.
"Ingin meledakkan kepalamu sendiri, nona?"
"Ya.. Partnerku tewas."
"Untuk apa? Peraturan SDR?"
Beatrice tidak menjawab.
"Atau mungkin ada alasan lain?"
Beatrice masih tidak menjawab. Ia hanya menempelkan jari telunjuknya ke pelipis kepalanya.
Wanita itu maju dan menerjang Beatrice, menindih dan menahan tubuhnya. Suara ledakan terdengar keras. Bongkahan besar perut wanita itu hancur berhamburan seperti terkena peluru. Tidak ada darah, tidak ada daging, yang ada hanyalah komponen-komponen logam yang berserakan. Jari telunjuk Beatrice mengarah pada bagian yang berlubang pada tubuh wanita itu.
"Memangnya kau pikir Richard akan senang dengan kematianmu, hah?" Ujar wanita itu. Ia terlihat sama sekali tidak terganggu dengan perutnya yang berlubang. Ia hanya dapat menahan salah satu tangan Beatrice.
Aku berdiri dan berjalan tertatih kearah Beatrice.
"Beatrice, anakku. Hari ini kita kehilangan tiga orang teman.. Richard, F dan Sofia.. Aku dan Sheeva tidak ingin kehilangan lagi.. Aku akan menjagamu dari SDR.. Kumohon.." Aku berlutut disampingnya.
Wanita itu menjatuhkan dirinya dari atas tubuh Beatrice. Ia terbaring disamping Beatrice, mengacungkan ibu jarinya kepadaku. Ekspresi wajahnya tidak berubah meskipun kerusakan pada tubuhnya terlihat sangat mengerikan.
"Kamu tidak bisa Ralph, mereka pasti akan menemukanku.. Lagipula aku gagal, ada peraturan yang harus kuturuti, kami adalah SDR.."
Aku memeluknya erat.
"Cukup.. Tiga kematian sudah cukup.. Kumohon.." Air mataku jatuh menetes.
C RI M SO N S KY
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar