CHAPTER VII - LOST IN MEMORIES

Tewas di pelukan orang yang kau cintai hanya ada pada cerita-cerita roman dan film-film drama. Pada kenyataannya, kau memerlukan keberuntungan yang sangat besar agar orang yang kau cintai ada disampingmu saat kau mati.

Dan juga, tidak ada masalah yang terselesaikan dengan kematian, kau hanya akan meninggalkan luka dan masalah baru bagi orang-orang yang kau sayangi, seperti yang telah kulakukan pada Bice.

Apa aku telah memberitahu kalian bahwa Beatrice Castillo adalah Partner-ku? Jika aku telah mengatakannya, sekarang akan kujelaskan mengapa aku telah memberinya sebuah masalah.

Partner, pasangan kami yang telah ditentukan semenjak kami lahir. Kami harus menjalani hidup bersama-sama, kami tidak boleh terpisah dengan alasan apapun, kami harus kembali bersama-sama ke markas, dan kami juga harus mati bersama-sama.

Partnership adalah sebuah hukum yang ada pada tubuh SDR, sebuah organisasi Militer Privat yang bekerja untuk siapapun yang mau membayar.

SDR menjalankan hukum ini sejak awal pendiriannya, dan mereka tidak akan membiarkan satu orangpun melanggar hukum itu, siapapun. Baik para personil tingkat enam, pasukan elit milik SDR maupun pemimpin SDR sendiri.

Beatrice, kuharap Ia tidak bunuh diri disamping mayatku.

Mati itu sama sekali tidak menyenangkan, kau tahu orang yang kau sayangi dalam bahaya namun kau tidak dapat berbuat apa-apa, selain terjebak di sebuah dimensi hitam yang dingin, tanpa ada satu orangpun yang menemani.

Sepertinya tidak ada yang namanya surga ataupun neraka, tapi, jika aku boleh berpendapat, tempat ini adalah neraka itu sendiri.

Apa yang harus kulakukan.. Tidak, apa yang BISA kulakukan? Aku hanya melayang-layang tanpa berat di tengah dimensi hitam ini.

Ah.. Kuharap.. Bice baik-baik saja.

<i>"Sepertinya ia sangat berharga bagimu, Hale?"</i> Sebuah suara mengagetkanku, suara seorang perempuan.

"Ya, dia memang sangat berharga bagiku.." Jawabku.

Terkadang, aku heran pada diriku sendiri, mengapa aku mau menjawab begitu saja pertanyaan orang yang tidak kukenal dan memanggilku tidak dengan namaku. Namun.. Entah kenapa, nama Hale itu sangatlah familiar.

Sebuah tangan yang halus dan sejuk menyentuh dahiku.

Perempuan itu, perempuan tanpa tangan itu. Ia berdiri tegak sementara aku melayang-layang tanpa beban. Ia tersenyum padaku.

"Dan.. Siapa kau? Seorang teman masa kecilku yang telah lama hilang?" Ujarku dengan sinis.

Ia kaget, ia terlihat benar-benar heran dengan apa yang kuucapkan. Ia menutup mulutnya sementara matanya melihat kearahku dengan heran.

"Apa kau tersinggung karena ucapanku?" Tanyaku.

Ia masih diam karena kaget, tangan kirinya masih menutupi mulutnya.

"Uh.. Nona?"

Dari pelupuk matanya, sebutir air mata mengalir.

"Nona?" Tanyaku lagi. Perasaan tidak enak memenuhi tubuhku, aku baru saja membuat seorang perempuan menangis karena kata-kataku.

"Hale.." Ujarnya pelan.

"Kau masih ingat padaku?" Ujarnya dengan senyuman, ia menyeka air matanya.

"Err.. Tidak, tidak sama sekali.. Maaf."

"Tak apa, kita memang sudah lama sekali, Hale.. Walaupun hanya dua belas tahun, namun bagiku terasa ratusan.." Ujarnya.

"Er.. Maaf, bisakah kau memberiku namamu terlebih dahulu? Mungkin aku bisa mengingatnya jika kita pernah bertemu dahulu." Pintaku.

"Namaku? Ah, mungkin kau benar.. Namaku Alice."

Aku berfikir dengan keras, berusaha mengumpulkan kepingan ingatan yang ada.

"Bagaimana, Hale, kau sudah ingat padaku?" Tanyanya. Ia menatap penuh harap padaku.

Aku menggeleng, tidak, tidak ada satu orangpun yang bernama Alice yang ada di ingatanku, kecuali pada salah satu buku milik F yang kubaca di penginapan.

Ia menghela nafas, terlihat sangat kecewa.

"Yah, mungkin aku yang terlalu mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak mungkin.. Padahal.. Nama itu adalah pemberianmu."

Hee? Pemberianku?

"A-apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?" Tanyaku dengan heran.

"Aku adalah Entitas milikmu." Ujarnya. Senyum bahagia kembali muncul dibibirnya.

Milikku? Uh.. Aku ingin bertanya padamu, orang-orang yang ada diluar monitor sana.. Apa aku terlihat mirip seorang pria genit yang suka memperbudak wanita? Tidak? Bagus.

"M-m-maksudmu? K-kau?" Mungkin wajahku sudah memerah sekarang..Perempuan ini, bahkan menggunakan kata Entitas untuk menunjukkan dirinya.. Apa dia sampai segitunya terikat padaku?

"Ah, aku lupa, kau tidak ingat.."

"Maaf saja, Alice, itu kan namamu? Aku mengingat masa kecilku dengan jelas, aku tahu siapa aku, dan namaku bukan Hale, namaku adalah Richard! Richard Imran! Bukan Hale! Dan aku tidak tahu siapa kamu!" Ujarku. Kata-katanya yang terus menyatakan bahwa aku tidak ingat apapun mulai memancing sedikit emosiku.

"Akan kujelaskan semuanya.. Tapi.. Sebelumnya.. Ayo kita pindah." Ujarnya. Ia menjentikkan jarinya.

---

Nafasku tertahan oleh air yang dingin, menyesakkan. Rasa dingin itu serasa menikam kulitku, menusuk tulangku.

Aku tenggelam, berusaha menggapai-gapai pada sesuatu dalam kebutaan yang kelam.

Aku berteriak, namun teriakanku tertahan oleh air.

'TOLONG!' Itulah kata yang ingin kuteriakkan.

Lama kelamaan, air yang menggenang mulai turun, dan hilang, meninggalkanku yang meringkuk dalam kedinginan.

Aku meraba-raba kepalaku, sebuah mesin terpasang disana, seperti sebuah helm. Sekeras apapun aku menariknya, benda itu tak mau lepas.

"Sini, biar kulepaskan benda itu."

Benda yang ada dikepalaku mengeluarkan suara mendesis, sebelum akhirnya lepas dan jatuh ke lantai.

Mataku silau, rasanya seperti terbakar karena cahaya yang tiba-tiba datang.

Bayangan perempuan tanpa tangan kanan itu terlihat diantara cahaya silau, ia menggapai ke arahku.

"Hale.." Ia mengusap pipiku dengan lembut. Ia bergetar, butiran air mata mulai terlihat disudut matanya, siap untuk jatuh kapan saja.

Ia terisak.

Aku hanya diam, memandangnya dengan perasaan kaget dan nafas yang terengah.

Perempuan itu melingkarkan sebuah selimut dileherku, membungkus tubuhku yang dingin.

Ia mendudukkanku, menyandarkanku ke dinding kaca yang dingin.

Aku sulit bergerak karena kelelahan, terlalu tak bertenaga untuk menggerakkan tangannku secara sempurna.

Alice, ia meledak. Tidak, tidak dalam konotasi yang seperti itu. Butiran air mata mengalir dipipinya.

"Hale! Hale! Uaaaah! Aaaah! Uaaaa!" Teriaknya. Ia memeluk tubuhku dengan sangat erat, dengan seluruh tenaga yang ia punyai.

Perasaan ini.. Aura yang ada disekitarnya.. Sangatlah pahit, ia kesepian.. Rasa sepi yang sangat luar biasa.. Bahkan aku.. Ia menungguku.. Dua belas tahun.

Aku kehabisan kata untuk diucapkan, aku.. Aku merasa kasihan padanya.. Ia menunggu..ku? Selama dua belas tahun, namun aku tidak mengingat satupun tentangnya.. Apa.. Apa ini salahku?

Aku menggerakkan tanganku dengan lemah, membalas memeluknya.

Sepuluh menit.. Dua puluh menit.. Entahlah, aku tak tahu.

Ia berhenti menangis. Suara tangisannya tergantikan oleh suara nafas lembut yang berirama. Ia terlelap karena kelelahan.

Alice.. Siapa.. Siapa aku?

- C R I M S O N S K Y -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar